16
Feb
11

Sebaiknya Menghindari Perceraian (Kajian Fiqh)

Sebaiknya Menghindari Perceraian (Kajian Fiqh)

Ketika tersiar berita mengenai Aa Gym yang melakukan poligami, masyarakat seolah-olah kaget, terutama pengagumnya yang selama ini menjadikan beliau sebagai idola. Kepopuleran dan nama besar beliau telah berhasil menjadikan berita pernikahannya itu menjadi headline dikoran-koran lokal maupun nasianal. Dari masyarakat biasa hingga Presiden menanggapi poligami yang dilakukan Aa Gym.

Rupanya kepopuleran Aa Gym belum selesai, meski sudah jarang tampil di televisi maupun media koran seperti dulu. Kepopuleran Aa gym masih besar, hal ini terbukti ketika tersiar kabar mengenai perceraian beliau bersama teh Ninih, istri pertama Aa. Tak ayal, berita perceraian ini kembali menjadi topik pembicaraan. Koran dan media televesi (infotaiment) kembali memberitakannya berita perceraian Aa Gym.

Alasan Perceraian Dalam Islam

Perceraian bukanlah suatu hal yang disukai dalam Islam; bahkan perceraian merupakan hal yang dikecam oleh Islam kecuali oleh alasan yang sah. Rasulullah SAW bersabda, “Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian.” Sehingga tidak ada seorang pun yang memahami agama Islam dapat dengan mudah menggampangkan perceraian terkecuali dalam situasi yang darurat dan tidak dapat dihindari lagi yang mana hal itu telah diatur dan disahkan menurut Islam.

Karena Islam mempertimbangkan pernikahan adalah sebuah akad/kontrak yang serius (mitsaq ghalizh); dan merupakan tanggung jawab dari kedua belah pihak (suami isteri) untuk menjalankan akad/kontrak tersebut dengan selalu mengingat Allah SWT dan mencari ridho-Nya untuk menjalani kontrak tersebut dengan segenap kemampuan mereka.

Namun perceraian bukan ibarat sebuah pintu yang tertutup rapat; ada beberapa situasi dimana perceraian dapat menjadi satu-satunya pilihan. Berikut ini adalah beberapa alasan sah yang membolehkan seseorang bercerai menurut Islam:

Pertama; Penyiksaan secara fisik, mental ataupun emosional; ketika seorang pasangan menjadi kasar secara fisik, menyiksa secara emosi atau mental dan ia tidak mau untuk berubah dengan mencoba untuk mengikuti terapi atau konseling maka hal itu adalah alasan yang sah untuk meminta cerai. Zulm (ketidakadilan) tidak dapat ditoleransi dalam Islam bagi siapapun yang melakukannya

Kedua; Bila perkawinan gagal memenuhi sasaran dan tujuan yang telah dicanangkan sebelumnya; hal ini bisa terjadi karena ketidakcocokkan antara suami isteri; ketidakcocokkan yang terlihat dari tidak dapat didamaikannya kembali manakala terjadi perbedaan antara suami isteri akibat emosi, suka atau tidak suka akan suatu hal

Ketiga; Pengkhianatan dalam rumah tangga; yang dapat menjadi sebab utama atas ketidakharmonisan dalam rumah tangga; karena rumah tangga dibangun atas dasar kepercayaan dan kejujuran; yang tujuan utamanya adalah menjaga kesucian dan kerendahan hati orang yang ada di dalam rumah tangga itu sendiri; sekali saja dasar rumah tangga itu sudah dirusak dan terkikis maka akan sangat sulit untuk mengembalikannya lagi dan saat itulah mungkin perceraian menjadi jalan keluar terakhir

Keempat; Ketika suami yang semestinya bertindak sebagai pencari nafkah dan menjadi kepala keluarga tapi gagal dalam mengemban tanggung jawab tersebut dan sang istri kemudian memutuskan bahwa ia sudah tidak sanggup lagi atas kelalaian suaminya yang tidak bertanggungjawab terhadap keluarga

Namun demikian, kondisi di atas tidak harus menjadikan pasangan bisa melakukan perceraian, ada dua langkah bijak yang sebaiknya dilakukan kedua pasangan, yaitu mencari nasihat orang yang bisa dipercaya dan bijaksana dalam masalah peceraian baik dari anggota keluarga maupun orang lain, kedua dengan mendatangi KUA, dimana di KUA kedua pasangan diharuskan memiliki pihak ketiga yang dapat mewakili kepentingan masing-masing pasangan.

Mengapa Islam membolehkan perceraian?

Meskipun Islam membolehkan perceraian, namun ada kaidah-kaidah yang harus dijaga agar perceraian tidak bisa begitu saja dilakukan. Ada beberapa keadaan yang menjadikan hukum perceraian bukan sekedar boleh, yaitu:

Wajib; apabila terjadi perselisihan antara suami istri sedangkan dua hakim yang mengurus perkara keduanya sudah memandang perlu supaya keduanya bercerai.

Sunnat; apabila suami tidak sanggup lagi membayar kewajibannya (nafkahnya) dengan cukup, tidak menjaga kehormatannya

Haram (bid’ah) ; dalam dua keadaan, pertama; menjatuhkan thalak sewaktu istri dalam keadaan haidh. Kedua; menjatuhkan thalak sewaktu suci yang telah dicampuri dalam waktu suci itu.

Perceraian ibaratnya merobohkan bangunan rumah tangga, apabila bangunan itu tetap dipertahankan padahal bisa menimpa orang yang ada di dalamnya. Dalam pengertian lain, perceraian yang disyari’atkan oleh Islam itu mirip dengan operasi menyakitkan yang dirasakan oleh seseorang yang menjalani sakitnya. Bahkan terkadang salah satu anggota tubuhnya harus dipotong demi menjaga seluruh anggota tubuhnya yang tersisa, atau karena menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Apabila sampai diputuskan untuk bercerai antara dua pasangan dan tidak berhasil segala sarana perbaikan dan upaya mempertemukan kembali di antara kedua belah pihak, maka perceraian dalam keadaan seperti ini merupakan obat yang sangat pahit yang tidak ada obat yang lainnya. Oleh karena itu dikatakan dalam pepatah, “Jika tidak mungkin bertemu, maka ya berpisah.”

Sebaiknya menghindari perceraian

Kebanyakan kaum Muslimin telah salah dalam menfungsikan thalak. Mereka menempatkannya bukan pada tempatnya dan mereka menggambarkan thalak itu seakan seperti pedang yang dihunus lalu diletakkan di atas leher sang isteri. Mereka juga mempergunakan sebagai sumpah untuk sesuatu yang berat atau yang ringan. Banyak fuqaha’ yang memperluas di dalam menjatuhkan talak, sampai thalaknya orang yang mabuk dan marah, bahkan orang yang terpaksa. Hal ini dimaksudkan agar kaum muslimin tidak gampang mengucapkan kata-kata thalak setelah pernikahan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaganya dan mempersempit jatuhnya thalak. Adapun yang dimaksud oleh nash-nash dan tujuan dari syari’ah yang mudah di dalam membina rumah tangga dan memeliharanya, adalah mempersempit dalam menjatuhkan thalak, maka thalak tidak sah kecuali dengan kata-kata yang jelas, pada saat tertentu, dan dengan maksud tertentu.

Allah swt mensyariatkan thalak ketika dibutuhkan guna menjaga kehidupan suami istri yang berantakan akibat timbulnya kehancuran dan keburukan. Thalak adalah syarat pengecualian ketika sangat mendesak. Allah berfirman:

“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-rnasing dari limpahan karunia-Nya…” (An-Nisa’: 130)

Apa yang telah disyari’atkan oleh Islam, itulah yang sesuai dengan akal, hikmah dan kemaslahatan. Karena termasuk sesuatu yang jauh dari logika akal sehat dan fithrah, jika dipaksakan dengan kekuatan hukum suatu pabrik yang merusak dua penanam saham yang keduanya tidak saling bertemu dan tidak saling mempercayai. Sesungguhnya memaksakan kehidupan ini dengan kekuasaan hukum adalah siksaan yang keras. Manusia tidak tahan, karena itu lebih buruk daripada penjara sepanjang masa. Bahkan menjadi neraka yang kita tidak kuat menahannya. Seorang ahli hikmah mengatakan, “Sesungguhnya bahaya yang terbesar adalah mempergauli orang yang tidak menyetujui kamu dan tidak menentang kamu.”

Namun demikian, perceraian bisa membahayakan bagi keluarga terutama perkembangan anak-anak. Anak-anak bisa mengalami keguncangan akibat dari percerai itu. Lebih dari itu, kedua pihak yang bercerai cenderung akan menimbulkan permusuhan yang mana permusuhan itu akan berdampak kepada keluarga besar masing-masing. Sebagaimana pernikahan, dimana pernikahan pada hakikatnya bukan saja menyatukan suami istri, tapi juga menyatukan keluarga besarnya. Perceraianpun demikian, tidak hanya memisahkan dua orang saja, tapi juga bisa memisahkan dua keluarga besar yang tadinya bersatu. Karenanya, Islam menganjurkan sebisa mungkin perceraian dihindari, demi memelihara kemaslahan suatu pernikahan kecuali karena keadaan mendesak yang menjadikan perceraian sebagai jalan terbaik bagi kehidupan suami istri tersebut.

 

 

 

 


0 Responses to “Sebaiknya Menghindari Perceraian (Kajian Fiqh)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: