16
Feb
11

Ramadhan dan Etos kerja

ramadhan dan etos kerja

Makanan dan miuman merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Tidak seorangpun yang mampu bertahan hidup berhari-hari tanpa kemasukan makanan atau minuman. Karena makanan dan minuman merupakan  zat untuk memperlancar metabolisme di dalam tubuh kita, maka makanan dan minuman yang dimasukan ke dalam tubuh akan berpengaruh terhadap stamina dan kesehatan seseorang. Semakin berkualitas apa yang dimasukkan ke dalam tubuh, semakin berkualitas pula apa yang ditanpakkan oleh tubuh. Tubuh dengan jiwa dan stamina yang berkualitas akan menghasilkan etos kerja yang berkualitas pula. Dengan kerja yang berkualitas maka hasil yang didapatpun akan lebih optimal.

Kita semua tahu bahwa bekerja memerlukan energi yang notabene diperoleh dari makanan dan minuman. Jika seseorang makan dan minum tidak mencukupi kadar yang dibutuhkan, dia relatif tidak memiliki energi cukup untuk beraktivitas. Kondisi fisik yang tidak prima dapat berpengaruh terhadap hasil dari pekerjaan seseorang. Konsekuensi ke sekian dari logika ini, produktivitas dan prestasi kerja sulit ditingkatkan, bahkan mungkin anjlok dikarenakan  tidak cukup makanan dan minuman yang seharusnya dikonsumsi oleh tubuh. Jika asumsi ini benar, maka puasa Ramadhan sebulan penuh tidak cocok bagi mereka yang bekerja di siang hari. Dalam pengertian lain, seseorang tidak akan dapat berprestasi ketika berpuasa. Namun apakah semua logika di atas itu benar adanya?

Lima belas abad lamanya sejarah Islam berlangsung, terutama masa Rasul dan sahabatnya, terlihat bahwa Ramadhan bukan bulan pemandul kreativitas dan produktivitas. Hal ini bisa dibuktikan justru di bulan ini terlahir beberapa karya tak ternilai dan menjadi sejarah penting dan tercatat dengan  tinta emas dalam sejarah perkembangan Islam. Sejarah yang mengisahkan kemenangan kaum Muslimin dalam perang Badar (2 H/624 M), meski hanya dengan 313 orang prajurit dengan persenjataan yang seadanya. Kemudian sejarah penaklukan kota Mekah (8 H/630 M) merupakan contoh konkrit kesimpulan ini. Kedua sejarah kemenangan emas kaum Muslimin ini justru didapat ketika kaum Muslimin sedang melaksanakan ibadah puasa.

Sejarah ini kemudian berlanjut terhadap umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad saw. Sejarah mencatat bahwa kemenangan spektakuler kaum Muslimin di Spanyol terjadi pada bulan Ramadhan (91 H/710 M). Sama halnya dengan kemenangan besar perang Salib (584 H/1188 M), sukses melawan Tartar (658 H/1168 M) dan banyak lagi catatan manis lainnya. Bahkan, bangsa Indonesia sendiri telah menjungkir-balikkan “kesimpulan” keliru di atas dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan pada hari Jum’at 9 Ramadhan 1364 H. Sungguh suatu kondisi yang para pakar perangpun tidak berani bertaruh bagaimana mungkin umat Islam di Indonesia dapat memperoleh kemenangan yang gemilang justru disaat mereka sedang khusyuk dalam menjalankan ibadah puasa.

Puasa yang dilakukan umat Islam, seharusnya bukan alasan untuk bermalas-malasan dalam bekerja. Karena puasa bisa berarti menahan atau paling tidak mengendalikan makan dan minum secara berlebihan. Ketika makan dan minum sudah bisa dikendalikan, maka hasilnya akan positive bagi tubuh seseorang. Menurut para ahli, makan, minum dan berhubungan seks berlebihan, tanpa aturan dan disiplin, bukannya membuat seseorang mampu melakukan pekerjaan lebih baik, tapi bisa menjatuhkan angka produktivitasnya. Energi dan produktivitas tidak senantiasa segaris dengan konsumsi jasmani. Orang tersebut malahan akan terperosok menjadi budak kebutuhannya sendiri. Memperjuangkan apa yang menjadi keinginannya tanpa memperhatikan kondisi dan fisiknya. Kesemuanya itu jika dilaksanakan akan membuat kondisi seseorang semakin tidak sehat.

Sebagai salah satu perintah Allah swt terhadap umat Islam, puasa tidak akan memberatkan umat Islam. Karena Allah tidak pernah memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya melainkan sesuai dengan kemampuannya. Kewajiban berpuasa hanya bagi mereka yang dalam kondisi fisik dan mental sehat. Hal ini bisa dibuktikan dengan ayat yang membolehkan untuk tidak berpuasa bagi mereka yang sedang dalam perjalan dan mereka yang sedang sakit. Keduanya boleh tidak berpuasa dengan cara menggantinya di hari-hari yang lain. (Q. S. Al-Baqarah: 185)

Kebolehan untuk tidak berpuasa juga berlaku bagi mereka yang bekerja dengan fisik dan terkategori berat –seperti pekerja peleburan besi, buruh tambang, tukang sidang, atau yang lainnya– jika berpuasa menimbulkan kemudharatan terhadap jiwa mereka, boleh tidak berpuasa. Tapi, mereka diwajibkan untuk mengqadha’ puasanya. Jumhur ulama mensyaratkan orang-orang yang seperti ini wajib baginya untuk sahur dan berniat puasa, lalu berpuasa di hari itu. Kalau tidak sanggup, baru boleh berbuka. Berbuka menjadi wajib, kalau yakin kondisi ketidak sanggupan itu akan menimbulkan kemudharatan. Begitu juga kebolehan tidak berpuasa bagi wanita hamil dan ibu yang menyusui. Wanita hamil atau ibu menyusui boleh tidak berpuasa, tapi harus menggantinya di hari lain. Jika dia tidak berpuasa karena takut dengan kondisi dirinya sendiri, maka hanya wajib bayar qadha’ saja. Tapi jika dia takut akan keselamatan janin atau bayinya, maka wajib bayar qadha’ dan fidyah berupa memberi makan sekali untuk satu orang miskin. Hal ini diqiyaskan dengan orang sakit dan dengan orang tua yang uzur. Orang yang sudah lanjut usia dan tidak sanggup puasa lagi tidak wajib puasa, tapi wajib bayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan. Fidyah  dimaksud adalah memberi makan fakir/miskin setiap hari selama  ia  tidak  berpuasa.  Ada  yang  berpendapat  sebanyak setengah  sha’ (gantang)  atau kurang lebih 3,125 gram gandum atau kurma (makanan pokok). Ada juga yang menyatakan satu  mud yakni   sekitar   lima   perenam  liter,  dan  ada  lagi  yang mengembalikan penentuan jumlahnya pada kebiasaan yang  berlaku pada setiap masyarakat.

Nabi Muhammad pernah menyatakan agar kita berpuasa, karena puasa akan menyehatkan jiwa raga kita. Sepintas kita meragukan bagaimana mungkin tubuh yang tidak dimasuki oleh makanan dan minuman menjadi sehat. Jika kita memperhatikan lebih jauh tentang sifat-sifat berpuasa, maka nyatalah bahwa berpuasa bisa menahan makan dan minum yang berlebihan. Kita menyadari bahwa kita merasakan lapar dan haus di siang hari, akan tetapi ketika berbuka ternyata yang bisa dimasukkan kedalam tubuh kita hanya sebagian kecil dari apa yang kita inginkan disaat kita berpuasa. Makan dan minum yang sesuai dengan kebutuhan ternyata akan menjadikan kita sehat dan meningkatkan etos dan produktivitas kita dalam bekerja.

Sehubungan produktivitas dan etos kerja orang yang berpuasa ini, ada sebuah firman Allah yang sangat baik direnungkan. “Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka siapa di antara kamu yang meminum airnya (secara berlebihan), maka dia bukanlah pengikutku. Barangsiapa tidak meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan (sekedar melepaskan dahaga dan menguatkan badan), maka ia adalah pengikutku.’ Maka, (ketika sampai di sungai itu), mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, ‘Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.’ Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.’ Dan Allah beserta orang-orang yang sabar,” (Q. S. Al-Baqarah: 249).

Dari kisah di atas dapat dipahami bahwa orang yang minum sedikit saja, sekedar melepaskan dahaga dan menguatkan badan, jauh lebih kuat dari mereka yang minum sepuas-puasnya. Mereka yang minum yang sedikit itu, sekalipun jumlah mereka jauh lebih sedikit, memiliki semangat (etos kerja) luar biasa dan tidak mengenal putus asa. Meski jumlah mereka sedikit, namun hasilnya, tentara Thalut yang berpuasa biasa bisa memporak-porandakan pasukan Jalut yang banyak dan dapat makan dan minum kapan saja itu.

Kisah di atas menjadi pertanda bahwa puasa sama sekali tidak menghalangi pekerjaan dan produktivitas seseorang. Kekuatan dan kemampuan fisik dan psikis manusia tidak sebangun dengan apa-apa yang dikonsumsinya. Bahwa makan dan minum yang sedikit dan dibarengi dengan semangat dan etos kerja yang luar biasa dapat mengalahkan mereka pasukan yang dibekali dengan makanan dan minuman yang berlebihan. Makan dan minum yang tidak diniatkan untuk beribadah akan menjadi sia-sia. Hal ini juga bisa dibuktikan terhadap mereka yang senantiasa memperturutkan keinginan perutnya, hingga mereka tidak sadar bahwa tubuh yang seharusnya menjadi tenpat bagi penampungan terhadap makanan dan minuman ternyata tidak sanggup menahan semua yang masuk ke dalam tubuh ini.

Melaksanakan ibadah puasa Ramadhan tahun ini mestinya tidak mengurangi kreativitas dan produktivitas kerja. Puasa yang kita jalani dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah swt akan mendatangkan berbagai macam kenikmatan, kesehatan bahkan kemenangan. Dengan niat dan tekad yang kuat bahwa puasa adalah kewajiban yang harus dijalani dengan ikhlas dan sabar, insya Allah energi kita tidak akan berkurang karena menahan makan dan minum. Makan dan minum  hanyalah sebatas sarana, namun kebulatan tekad dalam jiwalah yang akan menjadi pemompa semangat kita.

Berkurangnya semangat kerja karena puasa mungkin disebabkan rendahnya keikhlasan dan kesabaran yang tertanam dalam jiwa kita. Keikhlasan dan kesabaran adalah jalan menuju kemenangan yang hakiki. Keikhlasan dan kesabaran menjadi juga menjadi pembuka bagi diberikannya pahala yang besar bagi mereka yang menjalankan ibadah dengan ikhlas dan sabar. Keikhlasan dan kesabaran perlu terus kita tanam dan pupuk agar mengeluarkan energi kerja yang maksimal, meski secara lahir makan dan minum kita berkurang. Dengan semangat dan etos kerja yang tinggi puasa di tahun ini akan kita jalani dengan penuh manfaat dan hasilnya akan didapat di dunia dan akhirat.


0 Responses to “Ramadhan dan Etos kerja”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: