16
Feb
11

Puasa dan Nilai Ketaqwaan

PUASA DAN NILAI-NILAI KETAKWAAN
Secara jelas  Al-Quran  menyatakan  bahwa  tujuan  puasa  yang hendaknya  diperjuangkan  adalah untuk mencapai ketakwaan atau la'allakum tattaqun. Dalam  rangka  memahami  tujuan  tersebut agaknya perlu digarisbawahi beberapa penjelasan dari Nabi Saw.misalnya,  "Banyak  di  antara  orang  yang   berpuasa   tidak memperoleh   sesuatu  dari puasanya,  kecuali  rasa  lapar  dan dahaga."
Ini berarti bahwa menahan diri dari  lapar  dan  dahaga  bukan tujuan  utama dari puasa. Kegiatan ini hanyalah sebagian kecil daripada amalan puasa. Hal ini dikuatkan pula dengan firman-Nya bahwa  "Allah   menghendaki   untuk   kamu   kemudahan   bukan kesulitan."
Di sisi  lain,  dalam  sebuah  Hadits  qudsi, Allah berfirman,
"Semua amal putra-putri Adam  untuk  dirinya,  kecuali  puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya."
Ini  berarti pula bahwa puasa merupakan satu ibadah yang unik. Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang dapat  dikemukakan, misalnya  bahwa  puasa  merupakan  rahasia  antara  Allah  dan pelakunya  sendiri.  Bukankah  manusia  yang  berpuasa   dapat bersembunyi  untuk  minum  dan  makan? Bukankah sebagai insan, siapa pun yang berpuasa, memiliki keinginan untuk  makan  atau minum  pada  saat-saat  tertentu  dari  siang hari puasa? Nah, kalau demikian, apa motivasinya  menahan  diri  dan  keinginan itu?  Tentu  bukan karena takut atau segan dari manusia, sebab jika demikian,  dia  dapat  saja  bersembunyi  dari  pandangan mereka.   Di  sini  disimpulkan  bahwa  orang  yang  berpuasa, melakukannya karena  Allah  Swt.  Demikian  antara  lain penjelasan  sementara  ulama  tentang keunikan puasa dan makna hadis qudsi di atas.
Sementara pakar ada  yang  menegaskan  bahwa  puasa  dilakukan manusia   dengan   berbagai  motif,  misalnya,  protes,  turut belasungkawa,  penyucian  diri,  kesehatan,  melakukan ritual-ritual tertentu dan  sebagainya. Tetapi  seorang  yang  berpuasa  Ramadhan dengan benar, sesuai dengan cara yang dituntut oleh Al-Quran, maka pastilah ia akan melakukannya karena Allah semata. Di sini  Anda  boleh bertanya, "Bagaimana puasa yang demikian dapat mengantarkan manusia kepada  takwa?"  Untuk  menjawabnya terlebih  dahulu  harus  diketahui  apa  yang  dimaksud dengan takwa.
Puasa dan Nilai-nilai Ketakwaan        
Takwa  terambil  dari  akar  kata  yang  bermakna  menghindar, menjauhi,  atau  menjaga  diri.  Kalimat  perintah  ittaqullah yang secara harfiah berarti, "Hindarilah,  jauhilah,  atau  jagalah dirimu dari Allah"
Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari  Allah  atau menjauhi-Nya,  sedangkan "Dia (Allah) bersama kamu di manapun kamu berada." Karena itu perlu disisipkan  kata  atau  kalimat untuk  meluruskan  maknanya.  Misalnya  kata  siksa  atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung  arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.
Syaikh Muhammad Abduh menulis, "Menghindari siksa atau hukuman Allah  diperoleh  dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa  yang  diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah Swt ). Rasa  takut  ini,  pada mulanya  timbul  karena  adanya  siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah Swt. (yang menyiksa)."
Perasaan takut akan siksa Allah akan menjadikan manusia untuk senantiasa taat dan bersungguh sungguh untuk menjauhkan diri bermaksiat kepada-Nya. Dari perasaan takut ini akan senantiasa menjadikan manusia untuk selalu merasakan keberadaan Allah di sampingnya. Bahwa Dia-lah yang Maha Mengetahui akan apa yang sedang dia kerjakan. Dengan demikian orang yang  bertakwa  adalah  orang  yang  merasakan kehadiran  Allah  Swt. setiap saat, seperti disebutkan dalam salah satu Hadits "Bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadari  bahwa  Allah  melihatnya.”
Tentu banyak cara yang  dapat  dilakukan  untuk  mencapai  hal tersebut,  antara  1ain  dengan  jalan berpuasa. Puasa seperti yang  dikemukakan  di  atas  adalah  satu  ibadah  yang  unik. Keunikannya  antara  lain  karena  ia  merupakan upaya manusia meneladani Allah Swt. Suatu tindakan yang sangat terpuji jika manusia benar-benar ingin meneladani sifat-sifatnya Allah Swt.
Puasa Meneladani Sifat-sifat Allah swt
Beragama  menurut  sementara  pakar   adalah   upaya   manusia meneladani  sifat-sifat Allah, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai  makhluk.  Nabi  Saw.  memerintahkan,  "Takhallaqu  bi akhlaq Allah" (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).
Meneladani sifat-sifat Allah adalah sesuatu yang diperintah oleh Nabi saw. Bahwasanya Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Damai, Maha Kuat, Maha Mengetahui dan lain-lain. Kesemuanya itu tidak akan tercapai kecuali setelah manusia sudah mendapatkan derazat ketaqwaannya. Dengan berpuasa kita bisa berupaya untuk meneladani sifat-sifat Allah tersebut. Karena puasa berusaha menjaga diri kita dari sesuatu yang membatalkan puasa, artinya menjauhkan diri dari pada maksiat kepada-Nya. Upaya meneladani sifat Allah swt mutlak dilakukan karena upaya  peneladanan  ini  dapat mengantarkan  manusia  menghadirkan  Tuhan dalam kesadarannya, dan  bila  hal  itu  berhasil  dilakukan,  maka  takwa   dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.
Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran  tersebut  --bukan  pada  sisi  lapar  dan  dahaga--sehingga   dari   sini  dapat  dimengerti  mengapa  Nabi  Saw.menyatakan bahwa, "Banyak orang yang  berpuasa,  tetapi  tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga." Hadits ini memberikan gambaran kepada kita bahwa betapa banyak diantara kaum muslimin yang melaksanakan ibadah puasa namun tidak ada yang didapatkan dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus saja.
Keistimewaan Bulan Ramadhan
Dalam  rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang puasa, Allah menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan pada ayat lain dinyatakannya bahwa Al-Quran turun pada malam Qadar. Ini berarti bahwa di bulan Ramadhan terdapat malam Qadar  itu, yang  menurut  Al-Quran  lebih  baik  dari  seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Jibril) silih berganti turun  seizin  Tuhan, dan kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.
Di sisi lain --sebagaimana disinggung pada awal uraian—bahwa dalam rangkaian ayat-ayat puasa Ramadhan, disisipkan ayat yang mengandung   pesan   tentang   kedekatan   Allah  Swt.  Kepada hamba-hamba-Nya serta janji-Nya untuk mengabulkan doa  --siapapun yang dengan tulus berdoa.
Dari   hadis-hadis  Nabi  diperoleh  pula  penjelasan  tentang keistimewaan  bulan  suci  ini.  Namun  seandainya  tidak  ada keistimewaan  bagi  Ramadhan  kecuali Lailat Al-Qadr, maka hal itu pada hakikatnya telah cukup untuk  membahagiakan  manusia. Karena ibadah di malam lailat al-Qadar lebih baik dari pada seribu bulan.
Kebahagiaan yang akan diterima oleh umat manusia tentu tidak akan sebanding dengan apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Karena itu, agama memerintahkan manusia untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan ini. Keistimewaan yang dijanjikan Allah di bulan suci ini tidak akan dijumpai di bulan-bulan yang lain. Pelipat gandaan pahala yang dilakukan pada bulan puasa ini hendaknya memotivasi manusia untuk memperbanyak ibadah. Ibadah yang dilakukan dengan penuh ketulusan akan menjadikan kita sebagai insan yang bertaqwa seperti yang telah dijelaskan di atas. Dan nilai-nilai taqwa itu akan terpancar di hari-hari setelah bulan Ramadlan.

 

 


0 Responses to “Puasa dan Nilai Ketaqwaan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: