16
Feb
11

Merefleksikan Pesan Kenabian

Mereplesikan Pesan Kenabian

Tanggal 12 Rabi’ul Awal merupakan peristiwa yang senantiasa menjadi kenangan bagi kaum Muslimin. Tepat pada hari itu, Rasulullah saw sebagai pembawa misi suci terakhir dalam sejarah kerasulan itu dilahirkan. Peristiwa kelahiran Nabi Muhammad merupakan peristiwa penting dalam sejarah peradaban umat manusia, sehingga tanggal 12 Rabi’ul Awal senantiasa menjadi kenangan besar bagi umat Islam. Selain merupakan hari kelahiran beliau juga merupakan dimana peristiwa – peristiwa besar terjadi. Diantaranya adalah waktu hijrah dan meninggalnya Rasulullah saw.

Kata “maulid nabi” berasal dari bahasa Arab yang berarti “kelahiran nabi”. Dalam hal ini adalah kelahiran dari Nabi Muhammad saw. Hari kelahiran beliau banyak diperingati oleh kaum Muslimin meskipun sebagian dari mereka tidak merayakannya. Mereka yang tidak merayakannya beralasan bahwa perbuatan tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi bahkan para sahabat sekalipun. Namun kalangan yang membolehkan beralasan bahwa peringatan maulid nabi adalah tradisi para generasi sahabat sebagai bukti penghormatan kepada Nabi saw.

Peringatan maulid nabi pertama kali diadakan pada masa Shalahuddin al-Ayubi (1174 – 1193 M / 570 – 590 H). Shalahuddin berpendapat bahwa untuk mempertebal semangat juang dan lebih mencintai Rasul adalah dengan cara memperingati hari kelahiran beliau secara masal.

Setelah mendapat persetujuan dari Khalifah Baghdad yakni An-Nashir, maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Shalahuddin sebagai penguasa haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing untuk melaksanakan peringatan maulid nabi dan mensosialkannya kepada masyarakat Islam di mana saja berada. Pada tahun 580 Hijriah atau 1184 Masehi tanggal 12 Rabiul-Awal untuk pertama kalinya maulid nabi dilaksanakan secara masal.

Meski mendapat tentangan dari para ulama, namun Sholahuddin mampu menjelaskan mengapa ia memilih untuk memperingati maulid nabi secara massal dari pada tidak. Salahuddin menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan maulid nabi yang pertama kali tahun 1184 M / 580 H adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat nabi beserta puji-pujian bagi nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan maulid nabi.

Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah tersebut yakni Syekh Ja’far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd Al-Jawahir (artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

 

 

Cinta Kepada Nabi

Ulama terkenal Iran, Sayyid Hussain Nasr, dengan indahnya menukilkan kalimat yang menyentuh kalbu. “Nabi Muhammad saw adalah penghulu segenap makhluk yang paling mulia, rahmat bagi semesta alam, manusia paling suci dan penyempurna revolusi zaman, Muhammad saw sang perantara yang dipatuhi, Nabi yang peramah, sang pemurah, yang penuh kemegahan, yang santun, dan sang penutup. Mustahil benteng para mukmin yang menjadikanmu Muhammad sebagai penyangga dapat bergeming. Telah dicapainya puncak kebesaran melalui kesempurnaannya. Telah diteranginya kegelapan kekacauan dengan kesemarakannya. Eloklah seluruh kebiasaannya. Semoga rahmat tercurah kepadanya dan seluruh pengikutnya.”

Sebagai umat Nabi Muhammad, kita tentu akan memuji segala perjuangan dan pengorbanan yang telah beliau lakukan. Perilaku dan tutur katanya menjadi contoh yang baik bagi setiap insan. Namun segala bentuk pujian tidak harus mengkultuskan seorang Nabi apalagi memujanya. Karena pujian merupakan bentuk kecintaan dan kasih sayang sementara keteladan dari beliau merupakan usaha untuk menjadikan diri senantiasa berhiaskan akhlak mulia.

Lebih jauh lagi, pujian harus diberi tanda kutip. Pujian kepada Nabi adalah dalil “cinta” kepada Allah, dan ketundukan kepada Nya adalah dengan “mengikuti” Rasulullah saw. Sebaliknya, pengkultusan dan pemujaan selain kepada Allah, termasuk syirik. Dalam QS Luqman ayat 13 Allah SWT berfirman: ” … sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Kemudian, firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Ia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) bagi siapa yang dikehendaki Nya ….” (QS an-Nisaa’: 48).

Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam kitab Jami ‘al-Ilmi dari Ali ra, “Ketahuilah tidak ada kebaikan dalam ibadah kecuali dengan ilmu, tidak ada kebaikan dalam ilmu kecuali dengan pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca Alquran kecuali dengan tadabur.”

Pernyataan Ali mempertegas kepada kita bahwa ibadah yang benar adalah ibadah yang sesuai dengan ilmu atau tuntunannya. Segala amal ibadah yang tidak ada tuntunannya berarti akan mengurangi nilai ibadah tersebut bahkan dapat menimbulkan bid’ah. Membaca al-Qur’an adalah sesuatu yang diperintahkan dan lebih dari itu upaya untuk mendalami dan menghayati apa yang terkandung dalam al-Qur’an sangat dianjurkan.

 

Cinta Al-Qu’ran

Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengatakan, “Dalam hati setiap muslim harus ada kecintaan kepada Rasulullah SAW, dan ia tidak akan masuk Islam kecuali dengan cinta ini. Setiap manusia tidak sama derajat cintanya kepada beliau, dan tidak akan bisa diukur, kecuali oleh Allah. Termasuk di sini, tanda cinta kepada Allah adalah mencintai Alquran.”

Ucapan di atas mengandung pesan bahwa setiap umat harus memiliki perasaan mencintai Rasul. Mencintai Rasul tidak hanya dilakukan dengan cara membaca kisah-kisah perjuangam beliau atau membaca shalawat saja. Lebih dari itu mewujudkan nilai-nilai luhur dalam pribadi Rasul dalam kehidupannya. Kecintaan kepada Rasul akhirnya akan mengantarkan kepada kecintaan kepada Allah

Jika Anda ingin melihat diri Anda dan orang lain apakah mencintai Allah atau tidak, maka lihatlah kecintaan hati Anda dan hatinya kepada kalamullah, Alquran. Menikmati bacaan Alquran adalah kenikmatan paling agung dibandingkan dengan kenikmatan pencinta musik, nyanyian dan hiburan lainnya. Sebab barang siapa mencintai seseorang, ucapan dan kata-katanyalah yang paling senang didengarkan. Sebaliknya bila mencintai Allah, yang paling dicintainya adalah dengan membaca dan mendengarkan kata-kata serta firman Nya.

Khalifah Ustman bin Affan berkata, “Seandainya hati kita jernih, ia tak akan pernah kenyang dan puas dengan al-Qur’an. Bagaimana mungkin orang yang mencintai bisa puas dengan kata-kata orang yang menjadi tumpuan harapannya?” Di kalangan sahabat, jika di antaranya ada Abu Musa al-Asyari, mereka senantiasa berkata, “Bacakanlah al-Qur’an untuk kami.” Abu Musa pun membacakan, dan mereka mendengarnya penuh khusyu dan tawadhu. Karena itu orang yang mencintai al-Qur’an memiliki kenikmatan tersendiri, punya kerinduan, rasa, kemanisan dan kegembiraan tersendiri. Sangat jauh dibandingkan mereka yang hatinya kering dan beku. Sebab orang seperti itu telah membuktikan ketergantungannya dengan tipu daya setan, dan menempatkan keindahan fisik di atas segalanya.

Allah menjamin orang-orang beriman dan beramal saleh kehidupan yang baik, dan Allah tidak akan mengingkari janji Nya. Siapakah yang paling bahagia hidupnya, kecuali mereka yang semua kehendak dan cita-citanya bersatu untuk mencapai keridhaan Nya. Betapa mulia dan istimewanya Nabi.

Sebagai sang juru dakwah bagi umat manusia, pemikir dan Sufi Besar abad 20 Bediuzzaman Said Nursi dalam Risalah An-Nur menulis tentang Nabi Muhamaad saw sebagai berikut: “Seandainya tidak karena orang itu, alam semesta dan semua di dalamnya serta manusia akan diturunkan derajatnya menjadi sesuatu yang tidak bernilai dan tanpa makna. Seandainya tidak karena orang luar biasa dan hebat itu, yang memperkenalkan alam semesta dan Penciptanya, alam semesta yang indah ini tidak akan ada. Kita tidak akan bisa mengetahui apa arti alam semesta itu bagi kita. Betapa benar Dia yang kata-kata Nya benar dan yang bagi Nya adalah kerajaan segala makhluk dengan pernyataan Nya: Kalau bukan karenamu, Aku tidak akan menciptakan dunia ini.”

Peringatan maulid nabi adalah suatu kegiatan yang dilakukan para ulama untuk mengenang kembali sejarah perjalanan Nabi Muhammad saw. Anggapan bahwa peringatan tersebut adalah bid’ah atau bukan, namun hikmah yang didapat dari peringatan tersebut tentu sangat besar. Hal in bisa dibuktikan bahwa dalam sejarah, ketika Shalahuddin meminta pengikutnya untuk memperingati maulid nabi, semangat juang umat Islam waktu itu semakin berkobar hingga akhirnya dapat merebut kembali Yerusalem dan al-Aqsha (1187 M / 583 H). AdapunDari pesan yang terkandung dalam peringatan maulid nabi adalah mencintai dan memuji Nabi dan mengapikasikannya dengan cara mengikuti, melaksanakan dan mengamalkan kandungan kitab suci Alquran serta Sunnah Rasulullah.

Andi Mardian, Lc. MA

Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Surakarta


0 Responses to “Merefleksikan Pesan Kenabian”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: