16
Feb
11

Mensikapi Kebohongan

MENSIKAPI KEBOHONGAN

Andi Mardian., Lc., MA

Akhir-akhir ini kita banyak mendengar kata-kata bohong. Bohong, kebohongan, kepalsuan atau apapun namanya, merupakan salah satu sifat tidak bagus / jelek yang ada dalam diri setiap insan. Sifat bohong sering memaksa kehidupan yang dijalani manusia. Kebohongan yang dilakukan bisa untuk menyelamatkan dirinya atau orang lain. Kebohongan yang dilakukan akhirnya menjadikannya suatu kebiasaan bagi sebagian orang. Kebiasan yang tentu bukan kebiasaan yang baik yang apabila dilakukan terus menerus akan menjadikan bohong itu sebagai sesuatu yang melekat pada orangnya dan akan merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Kebohongan telah menjalar dan menjadi borok di segala lapisan masyarakat modern. Amerika, sebagai negara adidaya penjunjung kebebasan juga tidak luput dari kebiasaan ini, berdasarkan sebuah survey terpercaya, didapatkan angka 91% dari warganya terbiasa berbohong. Kebiasaan berbohong ternyata tidak hanya dilakukan oleh orang Amerika saja namun sudah menjadi kebiasaan yang lazim dilakukan oleh manusia dimanapun mereka berada.

Agama apapun telah mengajarkan kepada pengikutnya untuk menjadikan dirinya bersih baik dalam kepercayaan, perbuatan dan perkataannya. Ibarat barometer untuk menetapkan suatu kebahagiaan, maka kejujuran adalah barometer kebahagiaan suatu bangsa. Bagaimana tidak bahagia jika kita bertanya sesuatu kepada setiap manusia lalu dia menyampaikan dengan jujur dan apa adanya. Atau ketika kita tersesat di suatu jalan, maka kita menemukan seseorang jujur yang memberitahukan kepada kita tentang jalan yang benar. Kejujuran yang disampaikan akan menunjukan kepada penanya yang membutuhkannya dan akan membuat bahagia hatinya. Karenanya tidak berlebihan jika kita katakan bahwa tiada kunci kebahagiaan dan ketentraman haqiqi melainkan bersikap jujur, baik jujur secara vertikal maupun horizontal.

Kejujuran merupakan nikmat Allah swt yang teragung setelah nikmat Islam, sekaligus penopang utama bagi berlangsungnya kehidupan dan kejayaan Islam. Sedangkan sifat bohong merupakan ujian terbesar jika menimpa seseorang, karena kebohongan merupakan penyakit yang menggerogoti dan menghancurkan kejayaan Islam. Sebagian anugerah terbesar, sepatutnya kita menjaga nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Jujur dengan keluarga, saudara, teman bahkan kepada diri sendiri. Kejujuran yang dilakukan setiap hari selanjutnya akan menjadi sifat. Semakin banyak berbuat jujur semakin melekat sifat itu kepada kita.

Kejujuran dalam kehidupan sehari-hari sudah dicontohkan oleh nabi Muhammad saw dalam kehidupannya. Masyarakat sudah mengenal beliau dengan kejujurannya sebelum beliau menyampaikan ajaran Islam kepada mereka. Karena kejujurannya, Muhammad dipercaya oleh kaum yang berselisih diantara kedua kubu untu menjadi penengah diantara mereka. Mereka memanggil beliau dengan sebutan al-amien (yang bisa dipercaya). Gelar al-amien yang disandang Beliau tentu tidak begitu saja diberikan, masyarakat di sekitar beliau terlebih dahulu memperhatikan dan melihat kebiasaan jujur pada sesuatu menjadikan kebiasaan itu sebagai sifatnya.

Dusta merupakan dosa dan aib besar. Dalam setiap aktifitas, agama senantiasa mengajarkan kepada pengikutnya untuk jujur. Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain menjadikannya sebagai kebiasaan dalam kehidupannya sekaligus sesuatu yang harus ada dalam diri setiap orang beriman. Sifat jujur yang melekat dalam jiwanya menjadikannya takut untuk berkata bohong, atau mengatakan sesuatu yang sebetulnya dia belum atau tidak mengetahui sesuatu tersebut. Berkata jujur dan menyampaikan sesuatu hanya yang ia ketahui sesuai dengan firman Allah: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. [Al-Isra’: 36].

Bohong merupakan kebalikan dari jujur. Dalam kamus besar bahasa Indonesia bohong artinya tidak sesuai dengan hal (keadaan) yang sebenarnya. Ketika seseorang menyampaikan sesuatu yang berbeda dengan keadaan yang sebenarnya maka dia sudah berbohong, ketika hal itu terjadi berulang kali, maka dapat dikatakan pembohong.

Macam-macam bohong

Bohong adalah perbuatan yang tidak boleh dilakukan, kebohongan, kepalsuan atau apapun namanya bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain, tetapi dalam kondisi tertentu berubah hukumnya menjadi mubah bahkan wajib.

Para ulama menetapkan pembagian hukum bohong sesuai dengan lima kategori hukum syar’i, meskipun pada dasarnya hukum bohong adalah haram. Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut:

Haram, yaitu kebohongan yang tak berguna menurut kaca mata syar’i.

Makruh, yakni dusta yang dipergunakan untuk memperbaiki kemelut rumah tangga dan yang sejenisnya.

Sunnah, yaitu seperti kebohongan yang ditempuh untuk menakut-nakuti musuh dalam suatu peperangan, seperti pemberitaan [yang berlebihan] tentang jumlah tentara dan perlengkapan [agar pasukan musuh gentar].

Wajib, yaitu seperti dusta yang dilakukan untuk menyelamatkan jiwa seorang atau hartanya dari kematian dan kebinasaan.

Mubah, misalnya yang dipergunakan untuk mendamaikan persengketaan di tengah masyarakat.

Dalam keadaan perang, Rasulullah saw memperbolehkan berbohong dalam peperangan. Hal ini mudah dimengerti, karena larangan berbohong dalam peperangan akan berujung pada kehancuran pihak yang bersikeras bersikap jujur. Jujur dalam peperangan sangat tidak masuk akal. Berbohong yang mubah adalah berbohong untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa. Sejauh pengertian saya, yang dimaksud dengan mendamaikan ini adalah meredam api kemarahan yang sedang berkobar. Berdasarkan pengalaman, masalah lebih mudah diselesaikan bila api kemarahan sudah padam. Orang-orang yang bersengketa memiliki hati dan pikiran yang tenang sehingga dapat melihat masalah dari sudut pandang yang lebih baik.

Keterangan di atas adalah sebagian kecil contoh dimana berbohong boleh dilakukan. Tetapi sebagian ulama berpendapat, semua bentuk kebohongan adalah buruk dan harus dijauhi, sebab tidak sedikit ayat-ayat Al Qur’an yang mencelanya.

Mensikapi Kebohongan

Sifat bohong adalah perbuatan tercela dalam pandangan manusia dan agama. Ajaran agama yang menyatakan bahwa bohong merupakan sifat tercela bagi pelakunya (QS al-Shaff: 2-3). Ayat ini menjelaskan bahwa sebagai orang beriman, tentu harus satu kata antara ucapan dan perbuatan.

Sesungguhnya, jika kita berbohong atau bisa dikatakan ”mendua hati”, hati kita tidak akan pernah menjadi tenteram. Kalau hati tidak tenteram, maka bagaimana mungkin kita mendapatkan kebahagiaan sejati. Sikap mendua hati membuat kita tidak tenteram karena kita melawan hati nurani sendiri. Karenanya, ajaran agama agar kita jujur kepada diri sendiri bukanlah semata-mata karena adanya dampak keluar yang posirif daripadanya, tapi juga karena dampak ke dalam  berupa ketenteraman yang menjadi pangkal kebahagiaan. Mantan Presiden Amerika Abraham Lincoln pernah mengatakan: kamu dapat menipu satu orang selama-lamanya, kamu juga dapat menipu semua orang satu saat, tapi kamu tidak akan dapat menipu semua orang selama-lamanya.

Sifat bohong atau mendua hati jangan sampai dimiliki seorang tokoh atau mereka yang memiliki pengaruh banyak diantara manusia. Karena sifatanya bisa mempengaruhi banyak orang. Pemimpin yang mendua hati dengan sendirinya akan kehilangan wibawa dan menjadi sasaran sinisme banyak orang. Maka dia tidak saja kehilangan dasar kebahagiaannya sendiri tapi juga kehilangan dasar efektifitas kepemimpinannya. Dalam pengertian lain kebohongan tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tapi juga tatanan masyarakat. Orang beriman yang sudah mendapatkan petunjuk tentang bahaya berbohong akan membiasakan dirinya untuk bersikap jujur dan menyaring setiap masukan yang sampai ke telinganya, karena jangan sampai apa yang dia teriam dan disampaikan kepada orang lain terdapat di dalamnya suatu kebohongan. Wallahu a’lam

 

 


0 Responses to “Mensikapi Kebohongan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: