16
Feb
11

KDRT dalam Pandangan Syari’ah

KDRT dalam Pandangan Syari’ah

Pembicaraan mengenai kekerasan dalam rumah tangga kembali terjadi dan menjadi buah bibir di masyarakat. Kekerasan yang terkadang berujung kepada perceraian biasanya disebabkan oleh masalah-masalah klasik seperti ekonomi dan perselingkuhan. Masalah ekonomi banyak terjadi di kalangan menengah ke bawah, kasus PHK atau pengangguran sering menjadi sebab tindakan kekerasan. Sementara perselingkuhan didominasi oleh kalangan menengah ke atas. Meskipun demikian, kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi kepada siapa saja dan di mana saja.

KDRT sering diidentikan dengan perkara gender (jenis kelamin). Padahal pendapat demikian tidak selamanya benar. Kekerasan bukanlah perkara gender. Pasalnya, kejahatan bisa menimpa siapa saja, laki-laki maupun perempuan. Pelakunya bisa laki-laki maupun perempuan. Kekerasan juga bukan disebabkan karena adanya subordinasi kaum perempuan, karena laki-laki maupun perempuan mempunyai peluang yang sama menjadi korban. Kalaupun data yang tersedia lebih banyak perempuan sebagai korban, itu semata-mata karena data laki-laki sebagai korban tidak tersedia. Dengan begitu kekerasan tidak ada kaitannya dengan penyetaraan hak laki-laki dan perempuan. Karenanya, Islam menjatuhkan sanksi tanpa melihat korbannya, tapi melihat apakah dia melanggar hukum Allah atau tidak yang dikenal dengan hukum jarimah (kekerasan/kriminalitas)

Sanksi Pelaku Jarimah

Kekerasan terjadi baik di lingkungan keluarga maupun di luar rumah tangga. Semua bentuk kriminalitas, baik di lingkungan domestik maupun publik akan mendapatkan sanksi sesuai dengan jenis kriminalitasnya, baik pelakunya laki-laki maupun perempuan.

Berdasarkan syari’at Islam ada beberapa bentuk kekerasan atau kejahatan yang menimpa wanita dimana pelakunya harus diberi sanksi yang tegas. Namun sekali lagi perlu ditegaskan bahwa kejahatan ini bisa saja menimpa laki-laki, pelakunya juga bisa laki-laki atau perempuan. Berikut adalah beberapa perilaku jarimah dan sanksinya menurut Islam terhadap pelaku:

  1. Qadzaf, yakni melempar tuduhan. Misalnya menuduh wanita baik-baik berzina tanpa memberikan bukti yang bisa diterima oleh syari’at Islam. Sanksi hukumnya adalah 80 kali cambukan. Hal ini berdasarkan firman Allah swt: dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat saksi, maka deralah 80 kali (Q. S. An-Nuur/ 24 : 4-5)
  2. Membunuh, yakni menghilangkan nyawa seseorang. Sanksinya adalah qishash (hukuman mati). Firman Allah swt: diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. (Q.S Al-Baqarah/ 2: 179)
  3. Mensodomi, yakni menggauli wanita pada duburnya. Sanksi hukumnya adalah ta’zir, berupa hukuman yang diserahkan kepada hakim yang berpungsi untuk mencegah hal yang sama terjadi. Hadits Rasul saw: Allah tidak akan melihat laki-laki yang mendatangi laki-laki (homoseksual) dan mendatangi istrinya pada duburnya.
  4. Penyerangan terhadap anggota tubuh. Sanksi hukumnya adalah kewajiban membayar diyat (denda) tergantung organ tubuh yang disakiti. Penyerangan terhadap lidah sanksinya 100 ekor unta, 1 biji mata ½ diyat (50 ekor unta), satu kaki ½ diyat, luka yang sampai selaput batok kepala 1/3 diyat, luka dalam 1/3 diyat, luka sampai ke tulang dan mematahkannya 15 ekor unta, setiap jari kaki dan tangan 10 ekor unta, pada gigi 5 ekor unta dan luka sampai ke tulang hingga kelihatan 5 ekor unta.
  5. Perbuatan-perbuatan cabul, seperti berusaha melakukan zina dengan perempuan (namun belum sampai melakukannya) dikenakan sanksi penjara 3 tahun ditambah jilid dan pengusiran. Kalau wanita itu adalah orang yang berada dalam kendalinya, seperti pembantu rumah tangga maka bisa diberikan sanksi yang maksimal
  6. Penghinaan. Jika ada dua orang yang saling menghina sementara keduanya tidak memiliki bukti tentang faktanya, maka keduanya akan dikenakan sanksi penjara 4 sampai tahun.

Kekerasan dalam rumah tangga

Ketika seseorang menjalani proses berumah tangga, bisa jadi mereka akan mengalami tindak kekerasan. Bentuk-bentuk kekerasan yang mungkin terjadi, bisa menimpa istri, suami, anak-anak ataupun pembantu rumah tangga. Kekerasan yang terjadi antara lain kasus suami memukuli istri karena tidak menjalankan maksiat, anak yang dipukuli orang tua karena tidak taat, pembantu yang tidak beres pekerjaannya. Semua bentuk kekerasan di atas dalam Islam bisa dikategorikan jarimah (kriminalitas).

Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga sering diidentikan dengan kekerasan suami terhadap istrinya, padahal kekerasan bisa saja dilakukan oleh setiap anggota keluarga baik suami, istri atau anak-anak. Karenanya yang harus difahami bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah kekerasan yan dilakukan oleh salah satu pihak terhadap pihak lainnya.

Dalam konteks berumah tangga, Islam mewajibkan kepada para suami untuk mendidik dan menjadi teladan istri dan anak-anak mereka agar taat kepada Allah swt. Karenanya Islam memberikan kewenangan kepada para suami untuk melakukan “pukulan” dalam proses pendidikannya. Yang perlu digaris bawahi, “pukulan” di sini maksudnya untuk mendidik (ta’dib) yang hanya dibolehkan dalam keadaan terpaksa dan dengan batasan-batasan dan kaidah yang jelas. Kaidah itu antara lain: pukulan yang diberikan bukan pukulan yang menyakitkan, apalagi mematikan; pukulan diberikan sebagai alternatif terakhir; tidak boleh memukul dalam keadaan marah sekali; tidak boleh memukul pada bagian vital, semisal kepala, wajah dan dada; tidak boleh memukul lebih dari tiga kali (kecuali sangat terpaksa dan tidak memelbihi sepeuluh pukulan); tidak boleh memukul anak di bawah 10 tahun, tidak memukul apabila kesalahan baru dilakukan sekali dan lain-lain.

Pukulan tidak seharusnya diidentikan dengan kekerasan. Pukulan bisa diartikan sebagai bentuk tanggung jawab suami dalam mendidik keluarga asalkan sesuai dengan batasan-batasan di atas. Selain memberikan hak pada suami untuk “memukul”, Islam juga membarenginya dengan hak istri dan anak terhadap suami atau ayahnya. Dalam pengertian lain, dibutuhkan relasi yang jelas antara suami, istri, anak atau pihak lain lain yang ada dalam keluarga. Semuanya tidak bisa disamaratakan antara tugas dan wewenangnya. Suami memiliki kewajiban dalam mendidik keluarga dan hak untuk dilayani segala kebutuhannya, sebaliknya istri dan nak juga mempunyai hak dipenuhi segala kebutuhannya seperti nafkah, perlindungan dan kasih sayang berupa perlakuan yang baik. Jika semua itu telah lengkap, maka kehidupan rumah tangga dalam konteks membentuk keluarga sakinah akan tercapai.

Keinginan untuk berumah tangga dalam kerangka keluarga sakinah harus didasarkan pada penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan keluarga tersebut. Suami dan istri harus saling melengkapi dan bekerja sama dalam mencapainya. Kekawatiran akan timbulnya kekerasan dalam rumah tangga yang mungkin dilakukan suami bisa ditepis. Hal ini dijelaskan dalam al-Qur’an agar para suami memperlakukan istri mereka dengan jalan yang ma’ruf (patut/terpuji). Jika suami tidak menyukai sesuatu yang ada pada istri mereka Islam memerintahkan untuk bersabar, karena mungkin jika suami tidak menyukai sesuatu yang ada pada istrinya, padahal Allah menjadikan pada sesuatu itu kebaikan yang banyak (Q.S An-Nisa/ 4: 19).

Seruan al-Qur’an untuk mempergauli istri dengan cara yang ma’ruf merupakan solusi menghilangkan kekerasan dalam rumah tangga. Menurut Ath-Thabari, ma’ruf adalah menunaikan hak-hak mereka. Beberapa mufassir menyatakan bahwa ma’ruf adalah bersikap adil dalam giliran dan nafkah; memperbagus ucapan dan perbuatan. Karenanya, jika ada yang tidak disukai oleh suami atas apa yang terjadi pada istrinya, hendaknya bersabar maksudnya tidak terburu-buru menceraikannya. Bisa jadi perkara yang tidak disukai itu terdapat di dalamnya kebaikan-kebaikan. Pengertian lain dari ayat di atas adalah hendaknya suami ingat akan tujuannya menikah, yaitu dengan menikahinya dan memperlakukannya dengan cara yang ma’ruf. Dan jika keduanya sadar akan tujuan awal ketika hendak melangsungkan pernikahan niscaya kekerasan dalam rumah tangga tidak akan terjadi.

 

 

 


0 Responses to “KDRT dalam Pandangan Syari’ah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: