16
Feb
11

Hakikat Taqwa

HAKIKAT TAQWA

Pada setiap kesempatan dalam kehidupan kita sehari–hari kita sering mendengar kata-kata taqwa, bahkan setiap sholat Jum’at khotib selalu mengajak kepada ketaqwaan karena itu merupakan rukun khutbah. Tetapi apa sebenarnya taqwa itu sendiri, mengapa Islam sangat menekankan kepada pemeluknya untuk mempunyai predikat taqwa ?

Bapak dan ibu yang kami hormati. Taqwa sebenarnya lahir dari sebuah keimanan yang kokoh yang selalu dipupuk dengan perasaan diawasi Allah, merasa takut terhadap murka dan adzabnya dan selalu berharap atas limpahan karunia dan maghfirohNya.

Atau sebagaimana di katakan oleh para ulama taqwa adalah hendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam laranganNya dan tidak kehilangan kamu dalam perintah-perintahNya. Dalam Al Qur’an perintah dan sokongan untuk melaksanakannya banyak ditemukan, bahkan hampir di setiap halaman pasti kita temukan kalimat taqwa. Begitu juga dalam kehidupan para sahabat dan salafussoleh.
Sahabat Umar bin Khottob r.a. Bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang taqwa, Ubai r.a. Menjawab “Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh duri?” “Ya”, jawab Umar “Apa yang anda lakukan saat itu?” “Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati” “Itulah taqwa”jawab Ubai r.a.

Berpijak dari jawaban Ubai bin ka’ab itulah Sayyid Qutb berkata dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an: “Itulah taqwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut, terus menerus selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan.
Jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, harapan semu atas segala sesuatu yang tidak bisa diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti dan masih banyak duri-duri yang lainnya”.

Cukup lah kiranya, keutamaan dan pengaruh taqwa merupakan sumber segala kebaikan di masyarakat, sebagai satu-satunya cara untuk mencegah kerusakan, kejahatan dan perbuatan dosa. Taqwa merupakan pilar utama dalam pembinaan jiwa dan akhlaq seseorang agar dapat menghadapi tantangan kehidupan ini. Agar ia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dan agar ia bersabar atas segala ujian dan cobaan.

Ada beberapa jalan yang harus ditempuh seorang mukmin untuk mencapai sifat taqwa :

Pertama, Mu’ahadah (mengingat perjanjian dengan Allah) dalam QS An Nahl 16:91 Allah berfirman:

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan jangan lah kamu membatalkan sumpah2mu itu sesudah meneguhkannya…”

Cara mu’ahadah adalah dengan menyendiri ( berkholwat) antara dia dan Allah untuk mengintrospeksi diri seraya mengatakan pada dirinya: “Wahai jiwaku, sesungguhnya kamu telah berjanji kepada robbmu setiap hari disaat kamu berdiri membaca”.

“Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan”

Berkholwat bukanlah bersemedi, karena dalam Islam telah disediakan sarana untuk selalu mengingat perjanjian ini. Bila kita mengharuskan diri untuk komitmen kepada apa yang telah kita ikrarkan 17 kali dalam sehari semalam dan mewajibkan diri untuk menuju ikrar tersebut berarti kita telah menuju tangga taqwa. Itulah makanya dalam QS Al Mukminun :2 dikatakan bahwa “orang-orang yang khusyu dalam sholatnya mereka termasuk golongan yang menang (Taqwa)” dan dalam QS Al Ma’arij 70 : 22-23 bagi orang-orang yang konsiten dalam sholat (daimun) akan mendapatkan balasan surga dari Allah. “Kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat yang mereka itu daim (tetap) mengerjakan sholatnya”

Bapak dan ibu yang kami mulaikan

Kedua, Muroqobah (merasakan kesertaan Allah) landasan muroqobah dapat kita temukan dalam surat As Syu’ara 26:218-219) yang terjemahannya
“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri dan melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang yang sujud”

Dalam sebuah hadits ketika nabi saw ditanya tentang ihsan beliau menjawab :
“Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya dan jika memang kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Allah melihat kamu” (HR Bukhori dan Muslim).

Cara muroqobah adalah hendaklah sebelum memulai pekerjaan atau amal seorang mukmin memeriksa dirinya. Apakah setiap gerak dan ketaatannya dimaksudkan untuk kepentingan pribadi dan mencari poppularitas atau karena dorongan ridho Allah dan mencari pahalaNya. Jika memang karena ridho Allah maka ia akan tetap melaksanakannya walaupun hawa nafsunya tidak setuju dan ingin meninggalkannya. Jadi dalam setiap pekerjaan kita hendaklah menyertakan doa-doa yang telah diajarkan atau minimal kita mengucapkan basmalah dan ketika niat kita menyimpang selalu kita koreksi terus menerus pada saat kita melakukan suatu amal atau pekerjaan. Itulah hakikat ikhlas, hakikat pembebasan diri dari penyakit nifaq dan riya’ dan orang-orang yang ikhlas (mukhlisun) adalah orang-orang yang bertaqwa.

Ketiga, Muhasabah (Introspeksi diri), dasarnya terdapat dalam surat Al Hasyr:18

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Muhasabah berarti hendaklah seorang mukmin munghisab (menghitung-hitung) dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan apakah tujuan amalnya untuk mendapatkan ridho Allah? Atau apakah amalnya dirembesi sifat riya’? apakah dia sudah memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak manusia?

Sahabat Umar bin khottob ra. Pernah berkata : “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang dan bersiap-siaplah untuk mengikuti pertunjukan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satupun”. Jika kita telah dapat menghisab diri dalam urusan yang besar maupun dan berusaha keras melakukan kholwat ( menyendiri bersama Allah) dimalam hari dengan Allah untuk melihat apa yang akan dipersembahkan di hari kiamat nanti…. Maka dengan demikian saudara telah melangkah menuju taqwa dan menapaki perjalanan rohani bahkan akhirnya kita akan sampai kederajat para muttaqien.

Keempat, Mu’aqobah (pemberian sanksi) dasar mu’aqobah dalam Al Qur’an di penggalan Surah Al Baqoroh:178) “Dan dalam qishosh itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa”

Mu’aqobah berarti hendaklah seorang mukmin apabila menemukan kesalahan maka tak pantas baginya untuk membiarkannya. Sebab membiarkannya akan mempermudah terlanggarnya kesalahan-kesalahan yang lain dan akan semakin sulit untuk meninggalkannya, bahkan sebaiknya kita memberikan sanksi dengan sanksi yang mubah. Sahabat Umar al faruq suatu ketika pernah disibukkan oleh suatu urusan sehingga waktu maghrib lewat sampai muncul dua bintang. Maka setelah melakssanakan sholat maghrib beliau memerdekakan dua orang budak.

Bapak dan ibu yang kami muliakan

Kelima, Mujahadah (Optimalisasi) dalam QS Al Ankabut: 69
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”

Seorang mukmin dalam beramal dan beribadah harus memaksa dirinya melakukan amal-amal sunnah (sesuai tuntunan Nabi Muhammad saw) dan dalam hal ini ia harus tegas, serius dan penuh semangat sehingga akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan yang mulia bagi dirinya dan menjadi sikap yang melekat pada dirinya. Dalam hal ini cukuplah Rasulullah saw menjadi qudwah yang patut di teladani sebagaimana di riwayatkan oleh Aisyah ra : “Rasulullah saw melaksanakan sholat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Ketika Aisyah ra bertanya “Mengapa engkau lakukan hal itu? Bukankah Allah sudah mengampuni dosamu yang sudah lalu dan yang akan datang?” Rasulullah menjawab:”Bukankah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur? (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah juga menekankan kepada orang-orang beriman untuk bermujahadah dalam beribadah hal ini terungkap dalam hadits qudsi: “Dari abu Hurairoh ra rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya Allah berfirman “Tidaklah seorang hambaKu mendekat kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Kusukai selain dari amalan-amalan wajib dan seorang hambaKu senantiasa mendekat kepadaKu dengan melakukan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Akulah yang menjadi pendengarannya dan sebagai tangan yang digunaknnya untuk memegang dan kaki yang dia pakai untuk berjalan, dan apabila ia memohon kepadaKu pasti Kukabulkan dan jika berlindung kepadaKu pasti Kulindungi””

Bapak dan ibu yang kami muliakan

Selain itu untuk menumbuh subur kan ruhiah kita ada beberapa cara diantaranya :
Dengan mengingat kematian melalui ziarah kubur, takziah orang meninggal atau membesuk orang sakit, membayangkan hari akhirat dan hal ahl yang berkaitan dengannya melalui kisah Al Qur’an dan hadits nabi, banyak membaca dan mentadaburi (mengkaji) Al Qur’an, berzikir kepada Allah dalam setiap waktu dan keadaan, bersahabat dengan orang-orang sholeh, dan memperbanyak ibadah-ibadah wajib maupun sunnah. Demikianlah semoga kita diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk berusaha menjadi orang-orang yang bertaqwa dan kita menganggap hal-hal diatas dapat kita laksanakan walaupun sedikit demi sedikit dan bertahap karena memang aturan Islam bukanlah aturan yang tidak dapat diterapkan.

 


0 Responses to “Hakikat Taqwa”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: