21
Jan
10

Mesir dan al-Azhar

MESIR DAN AL-AZHAR

(Sebuah Catatan Perjalanan)

Andi Mardian, Lc. MA

Egypt has been the main stream of the Islamic sciencies up to the recent days. History, culture and science are the valuable heritage. Al-Azhar is one of the oldest Islamic colege in Egypt. It has given any supports as well as the improvement of Islamic studies. It’s welfare and government support, makes al-Azhar to be one of universities which is honoured whole the world.

I. PENDAHULUAN

Kemajuan suatu negara dapat dilihat dari sejarah panjang kebudayaan negara tersebut. Mesir dengan kebudayaan dan sejarah peradabannya yang panjang, telah menjadikan negeri ini dikunjungi oleh para wisatawan dan para pelajar manca negara untuk menimba ilmu di negeri yang juga dikenal dengan negeri seribu menara. Pyramid, sungai Nil, Terusan Suez, al-Azhar dan beberapa peninggalan lainnya, telah menjadi daya tarik tersendiri bagi negeri ini. Salah satu peninggalan penting yang hingga kini masih bertahan adalah tradisi keilmuan yang ada di universitas al-Azhar. Dengan sejarahnya yang panjang, al-Azhar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah perjalanan dan peradaban negara Mesir.

  1. II. PEMBAHASAN
  2. A. Sejarah Ringkas Negara Mesir

Khazanah peradaban masa lalu telah mangangkat Mesir ke pentas sejarah dunia. Negara yang berada di sudut benua Afrika, sekilas tanpak biasa seperti umumnya negara berkembang, namun menjadi luar biasa dengan kekayaan budaya dan warisan sejarah yang dimilikinya.

Orang Qibti (Mesir Kuno) menyebut negeri ini di zaman dahulu dengan istilah Kemy dan Takemy yang berarti hitam atau tanah yang hitam, sebagai simbol dari warna tanah yang subur. Sedang dalam teks-teks resmi masa Fir’aun istilah Mesir paling kuno adalah Tawey yang berarti dua tanah. Karena secara geografis, Mesir terbagi menjadi dua. Tasymao (Dataran Tinggi/Ardh Sha’id) dan Tsameho (Permukaan Laut/Ardh Wajhul Bahri). Nama ini muncul sejak akhir 4000 tahun yang lalu.[1]

Misr dalam bahasa Semit berarti batas. Bangsa-bangsa Semit yang terdiri dari bangsa-bangsa Asyiria, Aram, Ibrani dan Arab, menyebut daerah yang berada di perbatasan mereka sebagai Misr dan menyebut orang-orangnya dengan Misriyin (orang-orang Mesir). Sekitar abad 9-7 SM, beberapa teks klasik Asyiria menyebut berulang kali nama Mesir, ditulis dengan Mushuriy dan Mashur. Bangsa Persia kuno menyebutnya Mudharaya. Dalam teks Taurat ditulis Mashur dan Misrayem. Juga disebut Yaoriy Mashur yang berarti Nil Mesir dan Iris Misrayem yang berarti tanah kasar. Orang Yunani menyebut Mesir dengan nama Egyptus yang mereka dengar dan diambil dari orang-orang sebelum mereka. Sedangkan bangsa Romawi menyebutnya Aegyptus, yang kemudian dikenal dalam berbagai bahasa Eropa: Egypt, Egypte, Egitto dan Agypten.[2]

Mesir merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Peradaban Islam dimulai ketika ‘Amr bin ‘Ash berhasil memasuki Mesir dan Syiria di musim dingin tahun 639 M. Ketika itu, Khalifah Umar bin Khathab mengerahkan pasukannya melawan dua imperium besar, Persia di Timur dan Byzantium di Barat. Awalnya, ‘Amr bin ‘Ash masuk dan menduduki Pelusium selama 6 bulan, lalu pada tahun 640, dia mulai masuk ke Benteng Babilon yang merupakan sasaran yang sangat strategis. Bersama pasukannya, dia mengalahkan kekuatan Byzantium di Heliopolis pada bulan Juli di tahun yang sama dengan mengepung Babilon yang akhirnya menuntut Kaisar Byzabtium Heraclius menyerah secara penuh kepada kekuatan Muslimin pada April 641 M.[3]

Selama di Mesir, pasukan Islam dapat diterima secara damai oleh masyarakat Mesir yang mayoritas beragama Kristen Koptik dan sekelompok Yahudi. Hal ini dikarenakan Islam sangat toleran dalam beragama, dimana umat Koptik diberi kebebasan untuk menentukan pendetanya yang waktu itu bernama Benjamin.

Segera setelah itu, atas perintah Umar bin Khathab, didirikanlah sebuah kota di samping Benteng Babilon yang menjadi ibu kota kekuasaan Islam di Mesir yang bernama Fusthath. Secara administrasi, ketika itu Mesir tunduk kepada pemerintahan Madinah (bagian provinsi dari wilayah kekhalifahan Islam). Lalu berada di bawah kekuasaan dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus dan terakhir Abasiyah di Baghdad. Sejak itu, Mesir telah diperintah sekitar 80 gubernur, tapi hanya 2 khalifah yang pernah singgah di Mesir: Marwan II, khalifah Umayyah terakhir dan khalifah al-Makmun, putra Harun al-Rasyid dari Abasiyah. Dengan fathu Misr (pendudukan Mesir) ini, secara perlahan Mesir mengalami Arabisasi dan Islam bisa diterima oleh Kristen Koptik. Keadaan ini menjadikan bahasa Arab menjadi bahasa popular yang digunakan masyarakat setempat.

Terdapat beberapa dinasti yang memerintah Mesir hingga kini, diantara dinasti tersebut antara lain:[4]

1. Dinasti Thoulouniyah (868-905 M / 254-292 H)

Didirikan oleh Ahmad bin Thouloun pada tahun 868 M setelah khalifah al-Mu’tazz menunjuknya sebagai gubernur baru di Mesir. Beliau menjadikan Fusthath sebagai ibu kota pertamanya. Beberapa tahun kemudian, perlahan dia meluaskan wilayah kekuasaan dan administrasi dengan membangun kota baru yang dinamakan al-Qatha’i dan menyusun kekuatan pasukan besar di sana. Selama kepemimpinannya, ia berhasil merestorasi dan memulihkan kondisi ekonomi Mesir kala itu. Sepeninggal Ahmad bin Thouloun, pemerintahan digantikan putranya, Khumarawayn yang berkuasa selama 12 tahun (884-896 M). Namun, akhir yang tragis dialaminya manakala ia mati terbunuh. Tampuk kekuasaan kemudian diteruskan oleh kedua orang putranya, Jaysh dan Harun (896-905 M). Instabilitas politik pada masa ini membuat pasukan Abasiyah berhasil merebut kekuasaan yang ada ditangan dinasti ini selama hampir setengah abad. Selama 30 tahun kemudian, Mesir kembali berada dibawah penguasaan langsung pemerintahan pusat di Baghdad. Gubernur baru Mesir dipilih oleh khalifah Abasiyah. Sementara itu, Byzantium mencoba kembali melakukan invasi di Pantai Utara dan menyusun kekuasaan barunya di Selatan. Demikian juga Fatimiyah yang berusaha untuk merebut Mesir. Kondisi ini menuntut khalifah al-Radi segera menunjuk Muhammad bin Tughj sebagai gubernur Mesir tahun 935 M yang dikenal sebagai periode dinasti Ikhsid.

  1. 2. Dinasti Ikhsid (935-969 M / 323-358 H)

Sesuai namanya, kata Ikhsid berasal dari bahasa Iran yang berarti pengatur atau pemimpin. Wilayah kekuasaannya meluas hingga bagian utara dan tengah Syiria serta memiliki kekuatan terbesar di dunia Islam. Karena menganut system monarkhi (kerajaan), otomatis putranya segera memegang tampuk pimpinan selanjutnya. Unujur (946-961 M) dan Ali (961-966 M) yang berkuasa setelah itu tidak banyak membawa perubahan, karena kekuasaan sebenarnya dipegang oleh Kafur (berasal dari Nubah, Aswan) yang berhasil menjalankan pemerintahan selama dua tahun. Berkat usahanya, negara tetap dalam keadaan yang relative aman. Kematiannya di tahun 968 M, diperburuk oleh rentetan musibah seperti surutnya sungai Nil, ancaman kelaparan dan penyeberangan yang berhasil dilakukan oleh Wazir bin Kilis merupakan pertanda akan adanya serbuan dari Fathimiyah. Pengganti Kafur, Ahmad bin Ali tak mampu memukul mundur Fathimiyah, hingga harus melarikan diri ke Syiria.

  1. 3. Dinasti Fahimiyah (969-1171 M / 358-567 H)

Dinasti ini menamakan dirinya dengan Fathimiyah karena mengklaim sebagai keturunan Fathimah putri Muhammad dan Ali, khalifah ke-4. Fathimiyah telah melakukan beberapa penyerangan ke Mesir sejak awal abad ke-10, namun dikalahkan oleh tentara Ikhsid. Pada tahun 969 M, Jauhar al-Shiqili, komandan pasukan khalifah fathimiyah ke-4, Al-Mu’izz li Dinillah, berhasil memasuki Fusthath. Diapun mulai membangun kota baru yang disebut al-Qahirah (kemenangan), terdiri dari tembok berpagar, istana dan mesjid besar al-Azhar.

Jasa terbesar dinasti Fathimiyah dalam pentas sejarah Islam adalah bangunan Jami’ al-Azhar yang berkembang fungsinya dari sekedar masjid menjadi tempat pengajaran dan pendidikan ilmu agama. Perhatian para khalifah terhadap al-Azhar merupakan factor pentin dalam kemajuan lembaga pendidikan tertua ini. Adalah al-Hakim bin Amrillah, penggagas pertama kegiatan wakaf bagi al-Azhar yang diambil dari harta negara dan pajak. Kegiatan mulia tersebut akhirnya diikuti oleh khalifah selanjutnya.

Dinasti Fathimiyah bertahan selama dua abad, berakhir dengan berkuasanya Shalahuddin al-Ayyubi yang membentuk dinasti Ayyubiyah.[5]

  1. 4. Dinasti Ayyubiyah (1171-1250 M / 564-648 H)

Shalahuddin al-Ayyubi dikenal sebagai pemimpin mujahid dalam mempertahankan Jerusalem pada 1187 hingga memancing pecahnya perang salib ke-3 yang dipimpin oleh Frederick Barbarossa dan dibantu Richard I dari Inggris. Pada masa Shalahuddin al-Ayyubi pula orientasi pendidikan di al-Azhar diubah dari Syi’ah menjadi Sunni. Diantara peningalan sejarah pada periode ini dapat kita saksikan berupa benteng pertahanan selama perang di Mesir dulu, yang masih berdiri tegar hingga kini.[6]

  1. 5. Dinasti Mamalik (1250-1517 M / 648-922 H)

Periode dinasti Mamalik dimulai dengan berkuasanya Bahri Mamalik pada 1250-1382 M / 648-783 H. Berdirinya dinasti ini berawal instabilitas pemerintahan beberapa penguasa terakhir dinasti Ayyubiyah. Al-Malik bin al-‘Adli II (1238-1240 M) yang mati dibunuh, lalu diganti oleh Salih Ayyub yang berkeinginan untuk membangun pasukan besar para budak atau mamluk dari Turki yang sebagian besar dibawa ke bagian utara Laut Hitam. Terakhir mereka ditempatkan di sekitar sungai Nil dekat kota Kairo kemudian membentuk dinasti Bahri (sungai) Mamalik.

Selama pemerintahannya, dinasti ini dipimpin oleh 28 penguasa yang berakhir pada 1382 M, setelah itu Mesir di bawah dinasti Burju Mamalik (1382-1517 M / 784-992 H). Sesuai namanya, Burj berarti menara, mereka dinamakan burj karena letaknya berada di kawasan yang tinggi. Pemerintahan dinasti ini berakhir dengan berkuasanya Turki Utsmani di Mesir.[7]

  1. 6. Turki Utsmani (1517-1805 M / 922-1220 H)

Turki Utsmani membangun dinastinya dengan melakukan fath (pembebasan) sebagai salah satu kekuatan di Asia Barat ketika itu. Konstantinopel jatuh ke wilayah kekuasaannya pada 1453 M oleh Muhammad al-Fatih. Di penghujung abad ke-15, mereka terus melawan Persia untuk menguasai Mesopotamia dan Mesir yang tepatnya direbut pada 1516 M. Demikian pula Syiria dan Jazirah Arab di bawah kendali imperium Turki Utsmani. Mesir dikuasai oleh Turki Utsmani dimasa pemerintahan Sultan Salim I, namun pada tahun 1769 Mesir berhasil lepas dari Utsmani selama beberapa periode. Hingga Prancis masuk ke Mesir pertama kali pada bulan Juni 1797 M yang dikenal dengan ekspedisi militer di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte.[8]

  1. 7. Ekspedisi Prancis (1798-1801 M / 1213-1217 H)

Dengan dalih menjaga otoritas wilayah Utsmani di Mesir, disamping menjaga kepentingan para pedagang eropa, invasi Napoleon ke Mesir kenyataannya merupakan bagian dari kampanye matang guna mengawasi rute darat yang akhirnya rute laut ke India, sekaligus menghalangi hegemoni Inggris di Samudera Hindia. Hingga Juli 1798, pasukan Napoleon mendarat dekat Iskandariyah. Sementara itu, kekuatan Utsmani yang dibantu Inggris terus mengadakan penyerangan dari Abu Qir pada Juli 1799. Beberapa waktu kemudian, Napoleon meninggalkan Mesir dan memberikan mandat kepada Jenderal Kleber sebagai gubernur. Setelah peperangan antara pasukan Utsmani dengan Prancis, akhirnya Prancis bisa diusir berkat persekutuan antara Utsmani, Inggris dan Mamalik. Mesirpun kembali jatuh ke tangan Turki Utsmani pada bulan oktober 1801.

Babak berikutnya terjadi perebutan kekuasaan antara Turki Utsmani dengan Mamalik serta beberapa golongan yang ada di Mesir. Akhirnya, kekuasaan yang ada di Mesir berhasil dipegang oleh Muhammad Ali Pasha di bulan Juli 1805.

  1. 8. Muhammad Ali (1805-1953 M / 1220-1372 H)

Untuk membantu Mamalik yang tersingkir dari kekuasaannya di Mesir, Inggris melakukan agresi militer serta menaklukkan Iskandariyah pada bulan Maret 1807. Namun, berkat kelihaian Muhammad Ali dalam berdiplomasi, di tahun yang sama dia berhasil mencapai kesepakatan untuk memaksa Inggris keluar dari Iskandariyah pada bulan Agustus 1807.

Dimasa Muhammad Ali, kekuasaan Mesir meluas sampai ke Sudan, Syiria, bahkan para tentaranya turut berperang bersama Turki dikepulauan Yunani, Asia Kecil hingga Eropa Timur. Malangnya, Muhammad Ali kemudian diasingkan oleh Sultan Utsmani atas tekanan Inggris pada tahun 1840. Sesudah Muhammad Ali Pasha, Mesir diperintah oleh Abbas I (1848-1854) dan Sa’id Pasha (1854-1863). Hanya saja, di masa mereka, Mesir mengalami penurunan, hingga muncul seorang pemimpin besar bernama Khedive Ismail (1863-1879 M) yang memperbaiki kembali kehidupan sosial politik Mesir.

Sementara itu, terusan Suez mulai direncanakan oleh Ferdinand de Lesseps pada masa Sultan Sa’id Pasha tahun 1857 dan mulai digali pada 25 April 1859. terusan ini pertama kali dibuka pada tanggal 17 November 1869, kala Khedive Ismail masih memimpin.  Berhubung Mesir banyak mengalami kemerosotan dalam bidang ekonomi dengan pembukaan Terusan Suez, ditambah banyaknya campur tangan pemerintah asing, akhirnya Sultan Utsmani menurunkan Khedive Ismail dari jabatannya pada tahun 1879, lalu digantikan oleh anaknya, Taufiq. Sewaktu pemerintahan Taufiq (yang dekat dengan Inggris) inilah terjadi beberapa peristiwa politik penting, diantaranya adalah revolusi yang dipimpin oleh Omar Orabi. Menghadapi saat-saat genting seperti ini, Inggris kembali melakukan agresi militer ke Mesir. Setelah pertempuran beberapa kali di kawasan delta, mereka terus bergerak dan berhasil menguasai Kairo pada 14 Desember 1882. Inggris baru melepaskan Mesir dari Turki Utsmani pada tahun 1914, karena Mesir membantu Turki dalam perang dunia ke 1.[9]

  1. 9. Revolusi Mesir 1919-1967

Seusai perang dunia ke 1 pada tanggal 1918, di Mesir muncul pemimpin yang bernama Sa’ad Zaghlul. Ia berusaha dan berjuang menuntut kemerdekaan Mesir dari Inggris. Kemudian Inggris menangkap Sa’ad Zaghlul serta mengasingkannya ke Malta, hingga membangkitkan kemarahan rakyat Mesir. Semangat anti Inggris sebagai aksi protes segera merebak ke seluruh Mesir hingga pada puncaknya terjadilah revolusi besar menentang pemerintahan koloni tersebut di Kairo pada tanggal 9 Maret 1919 yang menyebabkan Inggris terpaksa merubah kebijakan politiknya terhadap Mesir serta membebaskan Sa’ad Zaghlul.

Pada tahun 1921, Inggris menyatakan Mesir sebagai Negara berdaulat, meskipun mereka tetap mengawasi pemerintahan, komunikasi, wilayah Sudan serta perlindungan terhadap warga asing. Melalui berbagai diplomasi, Mesir akhirnya mendapatkan kemerdekaan pada 28 Februari 1922. Kemerdekaan itu diraih tidak terlepas dari jasa Sa’ad Zaghlul. Ia mendirikan partai wafd yang bermotokan al-Haq Fauqa al-Quwwah wa al-Ummah fauqa al-Hukumah. Partai ini mampu meraih suara terbanyak pada pemilu 1926, namun pahlawan besar ini wafat pada 23 Agustus 1927.

Pada tanggal 23 Juli 1952, Mesir kembali mengalami revolusi. Adalah pasukan “al-Dhubat al-Ahrar” (pasukan pembebasan) di bawah pimpinan Gamal Abdul Nasir yang melakukan pengepungan terhadap istana Abidin. Mereka mengeluarkan siaran di radio yang mengumumkan pengambil alihan kekuasaan di Mesir. Ketika itu Mesir diperintah oleh Raja Farouk yang naik tahta sepeninggal ayahnya. Al-Dhubat al-Ahrar, memaksa Raja Faouk untuk menyerahkan tahtanya kepada anaknya Fouad II. Karena Fouad II belum dewasa, maka kekuasaan dipegang oleh junta (dewan pemerintahan) yang dibentuk oleh al-Dhubat al-Ahrar. Namun mereka melihat bahwa sistem kerajaan tidak lagi cocok dengan kehidupan rakyat Mesir. Pada tanggal 16 Januari 1953 seluruh partai politik disingkirkan dan akhirnya mereka mengumumkan berdirinya sistem negara republik pada 18 Juni 1953. Jenderal Mohammed Naghib menjadi Presiden pertama sampai tahun 1954.

Diilhami oleh revolusi ini, Sudan yang sebelumnya masuk ke dalam wilayah otoritas Mesir menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1956. Uniknya, Mesirlah negara pertama yang mengakui kedaulatan negara Sudan.

Setelah Naghib mengundurkan diri dengan tuduhan melakukan konspirasi dengan kekuatan komunis dan gerakan Ikhwanul Muslimin, Gamal Abdul Naser terpilih menjadi presiden pada 22 Juni 1956. Pada Januari 1958, Mesir dan Syiria menyatakan penyatuannya dan membentuk negara yang dikenal dengan Jumhuriyah al-‘Arabiyah al-Muttahidah atau Republik Persatuan Arab dengan Nasser sebagai presidennya. Namun ide ini bubar pada Juli 1961.

Pada 5 Juni 1967 terjadi perang hebat antara Mesir dan Israel. Perang yang berujung kekalahan bagi Mesir ini tak lepas dari perubahan strategi matang yang disetujui Nasser sendiri. Akibatnya, pada 8 Juni 1967, angkatan udara Israel membombardir kapal-kapal Mesir hingga mereka menduduki tepi timur Terusan Suez. Sedangkan di front Syiria, Israel berhasil menguasai Dataran Tinggi Gholan, bahkan hingga ke Palestina dan sebagaian Jordan. Pada sore hari tanggal 9 Juni, Nasser mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden. Pengunduran ini ditolak oleh masyarakat Mesir dan Majelis Nasional. Akhirnya, Nasser memutuskan untuk meneruskan jabatannya. Dalam usaha merebut kembali wilayahnya, Mesir sangat bertumpu pada Uni Soviet. Namun, dalam waktu yang demikian genting, pada tanggal 28 September 1970 Nasser meninggal dunia.

Tentara Mesir yang dipimpin oleh presiden baru, Anwar Saddat (15 Oktober 1970), berhasil menyeberangi Terusan Suez dan menghancurkan kekuatan Israel pada 10 Ramadhan atau tanggal 16 Oktober 1973. Setelah kemenangan Oktober ini, Israel menyadari kekuatan Mesir, merekapun mau berdamai dan menyerahkan kembali seluruh kawasan Sinai yang direbut ke pangkuan Mesir. Dikemudian hari, presiden Anwar Saddat mengunjungi Israel pada 17 November 1977 yang dianggap pengkhianatan oleh bangsa Arab lain. Atas prakarsa Jimmy Carter, presiden Amerika ketika itu, Anwar Saddat dan Menahem Begin menandatangani suatu perjanjian perdamaian di Camp David pada bulan September 1978 kemudian dikenal dengan Perjanjian Camp David. Hal ini mengakibatkan Mesir dipecat dari keanggotaannya di Liga Arab dan markasnya dipindahkan dari Kairo ke Tunis. Namun, pada bulan Juli 1990 Liga Arab kembali memasukkan Mesir sebagai anggota dan markasnya dikembalikan ke Kairo.

Pada peringatan hari kemerdekaan 6 Oktober, presiden Anwar Saddat ditembak dalam sebuah parade militer yang diadakan di Nasr City, tahun 1981. Posisi beliau digantikan oleh Mohammed Hosni Mubarrak yang pada saat itu menjabat wakil presiden. Beliaulah yang sampai sekarang menjadi presiden di Mesir.

  1. B. Sejarah Ringkas al-Azhar

Perjalanan panjang al-Azhar begitu menarik untuk disimak. Sejak dibangun pertama kali pada 29 Jumada al-‘Ula 359 H (970 M) oleh Panglima Jauhar al-Shiqili lalu dibuka resmi dan shalat jum’at bersama pada 7 Ramadhan 361 H. Kehadiran al-Azhar tidak bisa dipisahkan dari peran dinasti Fathimi yang kala itu dipimpin oleh Khalifah Mu’iz li Dinillah Ma’ad bin al-Manshur (319-365 H/931-975 M), khalifah keempat dari Dinasti Fathimiyah.[10]

Masa demi masa berlalu, pemerintahanpun silih berganti. Pada masa Dinasti Fathimiyah (358 H/969 M). Ibu kota Mesir berpindah ke daerah baru atas perintah Khalifah Al-Mu’iz li Dinillah yang menugasi panglimanya Jauhar al-Shiqili untuk membangun pusat pemerintahan. Setelah itu, daerah tersebut dinamakan kota al-Qahirah. Beriringan dengan pembangunan kota al-Qahirah, didirikan pula Jami’ al-Qahirah-meniru nama kota-. Pada masa Khalifah Al-Aziz Billah, sekeliling Jami’ al-Qahirah dibangun beberapa istana yang disebut al-Qushur al-Zahirah (istana yang bercahaya). Istana-istana ini sebagian besar berada di sebelah timur (kini berada sebelah barat masjid Husein), sedangkan beberapa sisanya yang kecil di sebelah barat (dekat mesjid al-Azhar sekarang), kedua istana dipisahkan oleh sebuah istana nan indah. Keseluruhan daerah ini dikenal dengan sebutan Madinat al-Fathimiyah al-Mulukiyah (Kota Kerajaan Fhatimiyah). Kondisi sekitar yang begitu indah dan bercahaya ini mendorong orang menyebut Jami’ al-Qahirah dengan sebutan Jami’ al-Azhar (berasal dari kata Zahra, artinya: yang bersinar, bercahaya dan berkilauan).[11]

Para khalifah telah jauh-jauh hari menyadari bahwa kelanjutan al-Azhar tidak bisa lepas dari segi pendanaannya. Oleh karena itu, setiap khalifah memberikan harta wakaf baik dari kantong pribadi maupun kas negara. Penggagas pertama wakaf al-Azhar adalah Khalifah al-Hakim bi Amrillah, lalu diikuti oleh para khalifah setelahnya serta orang-orang kaya setempat dan berbagai negara muslim hingga saat ini. Menurut berbagai sumber, harta wakaf yang diberikan kepada al-Azhar pernah mencapai sepertiga harta kekayaan Mesir. Dari harta wakaf inilah roda perjalanan al-Azhar terus berputar, termasuk memberikan beasiswa, asrama dan pengiriman utusan al-Azhar ke berbagai penjuru dunia.

  1. 1. Fase Peralihan

Sudah menjadi perjanjian tidak tertulis, pada setiap khalifah dinasti Fathimiyah, selalu diadakan restorasi bangunan Jami’ al-Azhar. Ciri spesifik bangunan mulai tanpak pada masa Sultan Qanshouh al-Ghouri (1509 M) yang merestorasi satu menara al-Azhar nan indah dengan dua puncak. Pada masa Abdul Rahman Katahda (w. 1776 M) kembali dilakukan penambahan dua buah menara, mengganti mihrab dan mimbar baru, membuka lokal belajar bagi yatim piatu, membangun ruaq sebagai pemondokan mahasiswa dan pelajar asing, membuat pendopo bagi ruang tamu, teras tidak beratap di dalam masjid dan tangki air tempat berwudlu. Singkat kata, hampir seluruh bangunan tua yang masih tersisa di masjid al-Azhar kini adalah hasil karya Amir tersebut.[12]

Selain berfungsi sebagai masjid, proses penyebaran faham Syi’ah turut mewarnai aktivitas awal yang dilakukan dinasti Fathimi. Khususnya di pengujung masa Khalifah Al-Mu’iz li Dinillah ketika Qadli Abu al-Hasan Ali bin Nu’man al-Qairawani mengajarkan fiqh madzhab Syi’ah dari kitab Mukhtashar yang merupakan pelajaran agama pertama di masjid al-Azhar pada bulan Shafar 365 Hijriah (Oktober 975 M).[13]

Ketika Shalahuddin al-Ayyubi memegang pemerintahan Mesir (567 H/1171 M), al-Azhar sempat diistirahatkan sementara waktu sambil dibentuk lembaga pendidikan alternative guna mengikis pengaruh Syi’ah. Inilah awal perubahan orientasi secara besar-besaran dari madzhab Syi’ah ke Sunni yang berlaku hingga sekarang. Meski tidak dipungkiri, faham Syi’ah dari sudut akademis masih tetap dipelajari.

  1. 2. Fase Reformasi

Pembaharuan administrasi pertama al-Azhar dimulai pada masa pemerintahan Sultan al-Dhahir Barbuq (784 H/1382 M). Beliau mengangkat Amir Bahadir al-Thawasyi sebagai direktur pertama al-Azhar tahun 782 H/1382 M ini terjadi dalam masa kekuasaan Mamalik di Mesir. Upaya ini merupakan usaha awal untuk menjadikan al-Azhar sebagai yayasan keagamaan yang mengikuti pemerintah. Sistem ini terus berjalan hingga pemerintahan Utsmani menguasai Mesir di penghujung abad 11 H. Ditandai dengan pengangkatan Syeikh al-Azhar sebagai figur sentral yang mengatur berbagai keperluan pendidikan, pengajaran, keuangan, fatwa hukum, termasuk tempat mengadukan berbagai persoalan. Pada fase ini terpilih Syeikh Muhammad al-Khurasy (1010 – 1101 H) sebagai syeikh al-Azhar pertama. Secara keseluruhan ada 40 syeikh yang telah memimpin al-Azhar selama 43 periode. Hingga kini jabatan syeikh al-Azhar dipegang oleh mantan Mufti Mesir Syeikh Muhammad Sayyid Thanthawi.[14]

Masa keemasan al-Azhar terjadi pada abad 9 H/15 M. Banyak ilmuwan dan ulama Islam bermunculan di al-Azhar saat itu, seperti Ibnu Khaldun, Al-Farisi, al-Syuyuthi dan sebagainya. Kepemimpinan Muhammad Ali Pasha di Mesir pada tahap selanjutnya telah membentuk sistem pendidikan yang paralel tapi terpisah, yaitu pendidikan tradisional dan pendidikan modern sekuler. Ia juga berusaha menciutkan peranan al-Azhar sebagai lembaga yang berpengaruh sepanjang sejarah, antara lain dengan menguasai Badan Wakaf al-Azhar.

Sejak awal abad 19, sistem pendidikan Barat mulai diterapkan di sekolah-sekolah Mesir. Sementara al-Azhar masih menggunakan sistem tradisional. Dari sinilah muncul suara pembaruan. Diantara pembaruan yang menonjol adalah dicantumkannya system ujian untuk mendapatkan Ijazah al-‘Alimiyah (sarjana) al-Azhar pada Februari 1872. Pada tahun 1896, buat pertama kali dibentuk Idarah al-Azhar (Dewan Administrasi). Usaha pertama dari dewan ini adalah mengeluarkan peraturan yang membagi masa belajar di al-Azhar menjadi dua periode: Pendidikan dasar 8 tahun dan tinggi 12 tahun. Kurikulum al-Azhar ikut diklasifikasikan dalam dua kelas: al-‘Ulum al-Manqulah (bidang studi agama) dan al-‘Ulum al-Ma’qulah (studi umum).[15]

  1. 3. Al-Azhar Kini

Pada tahun 1930, keluar undang-undang nomor 49 yang mengatur al-Azhar mulai dari pendidikan dasar hingga ke perguruan tinggi. Membagi universitas al-Azhar menjadi 3 fakultas, yaitu: syari’ah, ushuluddin dan bahasa Arab. Fakultas Syari’ah wa al-Qanun di Kairo merupakan bangunan pertama yang berdiri pada tahun 1930. Pada tahun 1960 didirikan fakultas Ushuluddin dan Bahasa Arab, penjurusannya diatur kembali pada tahun 1961. Fakultas Da’wah Islamiyah didirikan dengan Keputusan Presiden nomor 380 tahun 1978. Fakultas Dirasat al-Islamiyah wa al-Arabiyah memulai kuliahnya pada tahun 1965 sebagai salah satu jurusan dari fakultas Syari’ah. Pada tahun 1972 keluar Keputusan Presiden nomor 7 yang menjadikan lembaga ini sebagai lembaga tersendiri dengan nama Ma’had Dirasat al-Islamiyah wa al-‘Arabiyah (Instutute of Islamic and Arabic Studies).[16]

Sebagai universitas yang mapan, al-Azhar memiliki visi dan misi sendiri dalam melaksanakan roda pendidikannya. Misi utama dari universitas ini adalah untuk melestarikan warisan intelektual kaum Muslimin dengan melakukan studi dan penyebarannya; menyampaikan risalah Islamiyah kepada masyarakat dengan menegaskan hakikat kebahagiaan di dunia dan akhirat; menitik beratkan hasil karya ilmiah bangsa Arab; menyiapkan kader ulama yang dapat memadukan kemantapan akidah dengan kemampuan akademis. Karenanya, universitas di Timur Tengah khususnya al-Azhar menganut prinsip aliran salafiyah dalam arti bersifat otentik, modern, moderat dan toleran yang digambarkan sebagai berikut:[17]

  1. Berpegang kepada teks agama yang murni bukan kepada pendapat mujtahid
  2. Ukur dan kembalikan masalah mutasyabihat kepada yang muhkamat, dan dari yang abstrak kepada yang kongkrit
  3. Memahami masalah parsial dalam konteks pemahaman konprehensif
  4. Menganut prinsip penelitian dan pembaharuan; dan menjauhi fanatisme dan stagnasi
  5. Memegang teguh prinsip budi pekerti mulia
  6. Mengutamakan kemudahan dalam masalah fiqh
  7. Menggunakan metode himbauan dalam berdakwah dan bukan memusuhi
  8. Mengutamakan prinsip penanaman aqidah dalam masalah aqidah dan bukan perdebatan
  9. Mengutamakan ruh ibadah dan bukan rutinisme

10.  Mengutamakan prinsip “kepatuhan” dalam masalah akhirat (keagamaan) dan prinsip “inovatif” dalam masalah keduniaan

Universitas al-Azhar hanyalah salah satu lembaga resmi yang dimiliki al-Azhar. Masih ada lembaga lain yang sempat terbentuk, seperti:[18]

  • Al-Ma’ahid al-Azhariyah (Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah)
  • Idarat al-Tsaqafah wa Bu’uts al-Azhariyah (Biro Kebudayaan dan Misi al-Azhar)
  • Al-Majelis al-A’la li al-Azhar (Majelis Tinggi al-Azhar)
  • Maj’ma al-Buhuts al-Islamiyah (Lembaga Riset Islam)
  • Hai’ah Ighatsah al-Islamiyah (Lembaga Bantuan Islam)

Sejak mulai berdirinya, studi al-Azhar selalu terbuka untuk semua pelajar dari seluruh dunia. Hingga kini, universitas al-Azhar memiliki lebih dari 50 fakultas yang tersebar di seluruh wilayah Mesir.

  1. C. Kehidupan di Mesir

Perjalanan kami ke negeri Mesir bertujuan untuk mengemban ilmu di negeri 1000 menara ini. Belajar di Mesir merupakan cita-cita kami khususnya setelah kami mendapat informasi tentang Mesir dari beberapa Ustadz yang kebetulan alumni dari sana. Perjalanan yang menempuh waktu kurang lebih 12 jam tidak terasa lelah, karenma disamping perjalanan udara terasa menyenangkan kami juga merasakan kerinduan mendalam untuk segera tiba di sana.

Bagi orang asing yang ingin mengunjungi suatu negara harus memiliki visa atau izin masuk. Di negara Arab, visa dikenal dengan ta’syirah. Pengurusan visa ke Mesir bisa dilakukan di Kedutaan Mesir di Jakarta atau melalui travel yang mengurus keberangkatan ke Mesir. Visa yang diberikan biasanya tercantum selama dua bulan, namun sebenarnya hanya berlaku satu bulan. Selanjutnya, kita harus memperpanjang visa sesuai dengan aturan yang berlaku di Mesir. Untuk itu kita harus mendapatkan Keterangan Izin Menetap Sementara (KIMS). Surat ini mudah didapat bagi pelajar asing, karena Mesir dikenal sebagai negara yang paling toleran terhadap mahasiswa dibanding negara Arab lainnya.

Namun, karena berbagai pertimbangan, pemerintah Mesir sekarang mulai memperketat proses masuk mahasiswa/i ke al-Azhar. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya mahasiswa dan pelajar di sana. Setiap tahunnya tidak lebih dari 200 calon mahasiswa yang bisa kuliah di al-Azhar. Prosesnyapun tidak mudah, harus melalui seleksi yang diadakan di UIN dan IAIN di seluruh Indonesia. Dengan kualifikasi 100 orang untuk mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dan 100 orang yang tidak berbeasiswa. Biasanya pengumuman test akan disampaikan melalui sekolah-sekolah Madrasah Aliyah Negeri dan Swasta.

Mesir adalah sebuah negara berkembang yang tak jauh beda dengan negara ketiga lainnya. Kultur serta corak hidup penduduknya terkesan kasar, keras dan kurang teratur. Meski begitu, tetap saja banyak warga asing yang betah berlama-lama menikmati kehidupan di negeri ini.

Sebagian mahasiswa, terutama yang sudah senior memilih tinggal di ruwaq (tempat kost al-Azhar). Sebagian besaranya, lebih memilih tinggal dikawasan Nasr City dan sekitarnya. Lokasi ini dipilih karena selain lokasinya tidak terlalu jauh dengan kampus, harga sewanya masih terjangkau. Hal ini harus dimaklumi, karena biaya sewa rumah paling murah harganya sekitar 300 pounds atau hampir 800.000 rupiah sebulan. Tak heran jika rumah yang disewa oleh mahasiswa umumnya diisi lebih dari 6 orang.

Bagi mahasiswa yang tidak memperoleh beasiswa al-Azhar berhak tinggal di asrama Madinat al-Bu’uts al-Islamiyah, sementara yang Majelis al-A’la menyediakan asrama Dirmalak. Kedua asrama ini di berikan secara gratis bagi para penghuninya. Hanya bagi penghuni bu’uts akan dikenakan potongan beasiswa guna administrasi bulanan, termasuk makan dan listrik. Sementara asrama Dirmalak yang dikhususkan bagi mahasiswi tidak terlalu banyak memungut biaya, hal ini karena pihak asrama tidak menyediakan makanan bagi penghuninya. Hanya disediakan ruangan bagi yang ingin masak.

Bagi mahasiswa non beasiswa atau “terjun bebas” bisa menyewa flat atau rumah. Satu flat biasanya terdiri dari tiga kamar, ruang tamu, kamar mandi, dapur dan balkon. meski rumah yang disewa bentuknya tidak terlalu bagus, tapi kulkas, pemanas air dan kompor gas telah disediakan sebagai fasilitas standar yang diharuskan bagi setiap rumah di sana. Bagi mahasiswa yang ingin mendapat fasilitas lebih seperti televisi, telepon lokal dan AC bisa mendapatkannya dengan sewa yang agak mahal tentunya. Mensikapi biaya yang terkesan mahal, mahasiswa biasanya menempati rumah sewaan dengan 4 sampai 6 mahasiswa.

Dari keterangan di atas, maka bisa disimpulkan bahwa mahasiswa Indonesia tinggal di tiga wilayah:[19]

  1. Dalam Ruwaq, yang pada waktu dulu di sebut Ruwaq al-Jawi. Istilah jawi dulu digunakan untuk menyebut mahasiswa yang dating dari Asia tenggara.
  2. Madinat al-Bu’uts al-Islamiyah
  3. Madinat Nasr.

Makanan pokok penduduk Mesir adalah fuul (kacang) dan isy (roti). Disamping itu, ada berbagai masakan khas Timur Tengah yang kebanyakan masakan tersebut tentu tidak cocok bagi lidah orang kita. Biasanya, mahasiswa masak sendiri. Disamping bisa menekan biaya pengeluaran juga membuat kita belajar hidup mandiri. Karena beras dan keperluan memasak khas Melayu banyak tersedia di sini.

Mengenai transportasi, Mesir merupakan salah satu negara yang terbilang maju dalam masalah ini. Hampir 24 jam jasa tranportasi disediakan di sana. Bis, angkutan kota, taksi dan kereta bawah tanah yang menjadi salah satu kereta bawah tanah tercanggih di dunia dapat ditemui sebagai alat transportasi sehari-hari.

Suasana dan kondisi keamanan Mesir atau kota Kairo yang padat penduduknya masih memungkinkan untuk belajar dengan tenang. Gangguan yang biasa terjadi sebenarnya tidak ditujukan kepada mahasiswa asing, orang Mesir pada umumnya masih menghargai para pelajar asing. Jika kita bepergian di waktu malam jarang sekali terjadi gangguan maupun tindak kejahatan. Suasana kota Kairo relative lebih aman dibanding kota-kota besar lainnya di dunia. Hal ini dikarenakan pemerintah Mesir menerapkan pengawasan ketat terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan warganya. Mabahits (intel) bertebaran untuk memantau kegiatan masyarakat. Jadi umumnya warga Mesir takut untuk melakukan pelanggaran karena khawatir ditangkap intel berpakaian preman. Meski demikian, sikap waspada dan hati-hati tetap diperlukan, misalnya ketika menaiki bus yang padat saat bepergian. Bus adalah tempat yang rawan bagi para penumpang, khususnya pelajar asing. Karena di bus-bus tertentu, seperti yang jurusan ke kampus, banyak pencopet berkeliaran mencari mangsa.

Mengenai peluang kerja, pelajar asing hendaknya tidak memasang niatan “belajar sambil bekerja”. Hal ini akan menyia-nyiakan kesempatan belajar. Apalagi kesempatan bekerja di mesir tidak terbuka bagi orang asing, terlebih mahasiswa. Bekerja bagi orang asing harus melalui prosedur kontrak resmi antar negara. Kesempatan bekerja bagi mahasiswa asing biasanya hanya ada di Saudi Arabia pada musim haji. Namun demikian, jangan pernah membayangkan hal yang muluk-muluk bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah, persaingan dan kendala birokrasi biasanya menjadi kendala untuk mendapatkan visa ke Arab Saudi. Sebaliknya, berangkatlah ke Mesir dengan tujuan belajar dan mendapatkan pengalaman yang sebanyak-banyaknya.

E. Sekolah al-Azhar

Selain memiliki universitas, al-Azhar juga memiliki sekolah dari berbagai tingkat sebelum menuju ke bangku kuliah. Nama Ma’had Bu’uts al-Azhar dan Dirash Khashakh seolah tidak asing lagi ditelinga pelajar asing di Mesir khususnya yang belum memiliki ijazah persamaan. Ma’had Bu’uts al-Azhar membuka tahapan studi untuk tingkat Tsanawiyah dan Aliyah seperti yang ada di Indonesia dengan jenjang studi sebagai berikut:

Tingkat I’dadi: Dari kelas/tingkat 1 sampai 3

Tingkat Tsanawi: Dari kelas/tingkat 1 sampai 3

Penentuan jenjang studi di atas biasanya melalui imtihan qabul (tes penerimaan). Setelah lulus kedua jenjang itu, ijazahnya bisa diajukkan untuk pendaftaran masuk ke Universitas al-Azhar.

Sistem ujian yang dilakukan ma’had ada dua tingkat. Daur awal (term pertama) dan Daur Tsani (term kedua). Sedikitnya ada 16 mata pelajaran yang diajarkan, meliputi ilmu agama dan umum serta hapalan al-Qur’an beberapa juz (mulai juz 30 ke bawah). Surat Keterangan Sekolah (tashdiq) yang dikeluarkan oleh ma’had ini bisa digunakan untuk memperpanjang visa satu tahun di Mesir.

Selain Ma’had Bu’uts al-Azhar, ada pula Dirasah Khashakh (Sekolah Khusus). Sekolah ini umumnya diikuti oleh pelajar yang belum terdaftar sama sekali di salah satu lembaga pendidikan al-Azhar, surat keterangan yang diberikan juga bisa diajukkan untuk mendapatkan visa selama enam bulan. Adapun Ma’had yang lain namanya Ma’had al-Qura. Dikhususkan bagi pelajar yang ingin menjadi hafidz sekaligus mendalami berbagai disiplin ilmu al-Qur’an, jenjang studinya mirip Ma’had Bu’uts al-Azhar.

F. Serba-serbi al-Azhar

Pelajar Indonesia juga mayoritas pelajar Melayu umumnya tinggal di kawasan Nasr City. Sementara kebanyakan pelajar dari Thailand tinggal di kawasan Heliopolis dan sekitarnya. Bukan soal tempat yang menjadi topik dalam kisah ini, tapi suasana ketika berangkat menuju tempat kuliah. Tempat kuliah yang lumayan jauh dari tempat tinggal kita, memaksa kita untuk naik kendaraan umum. Kendaraan umum tersebut adalah bis kota. Karena jam ke kuliah bersamaan dengan berangkat kantor tak hran jika kita harus berdesak-desakan dalam bis. Jangan berharap ada tempat kosong kecuali kita naik dari terminal. Selain tempat yang sudah terisi penuh, menunggu bis tiba terbilang lama, paling cepat 40 menit sekali bis yang dimaksud ada. Namun jika memiliki uang lebih, bolehlah kita sedikit lebih tenang. Sedikit saja, jangan berharap lebih, karena supir taksi punya adat tambah penumpang jika kursi masih kosong.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kita baru tiba di kampus. Kampus tua penuh sejarah yang menjadi kebanggaan masyarakat Mesir telah ramai didatangi mahasiswa, dosen dan karyawannya. Diantara mereka, ada mahasiswa yang ingin mengikuti kuliah ada pula yang hanya sekedar mencari muqorror (diktat kuliah). Hanya saja, kebanyakan mahasiswa yang datang ke kampus hanya membeli diktat atau keperluan yang lain. Jarang sekali mereka datang untuk mengikut kuliah. Hal ini dikarenakan cara belajar yang ada di al-Azhar sedikit berbeda dengan universitas di Indoseia. Di sini, mahasiswa hanya datang, duduk dan mendengarkan penjelasan dosen. Jika ada yang tidak jelas dipersilahkan bertanya tapi jangan harap ada diskusi yang berlebihan kecuali hanya menerima apa yang diberikan oleh dosen. Perkuliahan di al-Azhar telah diformat dalam bentuk muhadlarah (presentasi) dari dosen. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa mendapat informasi sebanyak-banyaknya mengenai materi yang diberikan. Lagi pula dosen yang mengajar semuanya bergelar doctor..

Disamping ceramah, para dosen telah menyediakan buku pegangan mahasiswa (diktat) untuk setiap mata kuliah. Diktat tersebut disusun oleh dosen yang bersangkutan atau panitia yang ditunjuk oleh al-Azhar dengan mengambil rujukan dari kitab klasik dan modern.

Tidak adanya kewajiban untuk mengikuti kuliah adalah salah satu contoh perkuliahan di sini. Namun, pada fakultas tertentu ada yang mewajibkan kehadiran mahasiswanya tidak kurang dari 75 %. Terlepas dari peraturan tersebut, sebaiknya hadir dalam kuliah. Hal ini akan berguna untuk melancarkan pendengaran kita terhadap bahasa a’miyah (bahasa pasar) yang digunakan sehari-hari dan bahasa fushha (standar). Disamping itu, aktif kuliah bisa membantu kita dalam menghadapi ujian. Hal ini, karena dosen suka memberikan hal-hal yang penting dalam kuliahnya dan mungkin sekali keluar dalam ujian.

Belajar di al-Azhar tidak hanya menekankan asfek hapalan, tapi juga pemahaman serta penguasaan pelajaran secara detail. Jika jawaban ujian jauh dari muqarrar, maka nilai akan berkurang. Ada beberapa maddah (mata kuliah) tertentu yang menuntut ketajaman analisa dan kepiawaian mengekspresikan bahasa Arab dengan baik. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan, banyak diantara dosen yang menentukan pola jawaban tersendiri, maka ada baiknya memahami karakter doktor jika tidak ingin terkecoh dalam menjawab ujian. Karenanya, jangan heran jika pada masa-masa ujian banyak mahasiswa membaca buku dimanapun mereka berada. Suatu pemandangan yang mungkin sulit ditemui di Indonesia.

Sebagai lembaga pendidikan yang sudah mapan, al-Azhar patut dicatat sebagai pioner dalam mendorong mahasiswa untuk menghapal al-Qur’an. Tradisi menghapal memang agak dilematis bagi beberapa perguruan tinggi di Indonesia termasuk UIN, IAIN dan STAIN. Alasan yang diangkat cukup beralasan bahwa untuk mendapat informasi tentang ayat-ayat al-Qur’an bisa ditemukan melalui indeks dan klasifikasi ayat-ayat al-Qur’an. Apalagi sekarang didukung dengan tekhnologi komputer yang memungkinkan seseorang mengakses ayat-ayat tersebut melalui CD al-Qur’an. Pendapat ini hanyalah pandangan rasional saja. Ada pandangan lain yang sifatnya inner (dalam) dan merujuk pada keyakinan, kecintaan dan sufisme yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena itu, tradisi al-Azhar yang mewajibkan hapalan al-Qur’an kepada mahasiswanya dapat difahami. Al-Azhar memandang bahwa untuk menjaga dan menyebarkan Islam harus ditumbuhkan dikalangan alumninya. Hal ini dilakukan agar alumninya menjadi pengemban misi al-Azhar dimanapun mereka berada.[20]

Bagi mahasiswa asing, kampus tak lebih dari tempat belajar formal belaka. Sebagian mahasiswa banyak memanfaatkan belajar non- formal di luar kampus. Tempat belajar non-formal ini banyak tersebar di sekitar Kairo, seperti mesjid al-Azhar yang membuka zawiyah (pojok) untuk tafsir, ilmu Hadits, manthiq dan fiqh. Masjid Husein membuka pojok qiro’ah dan sebagainya. Ada juga yang memanfaatkan waktunya untuk mengikuti kursus computer atau bahasa asing.

Pemandangan lain yang berbeda dengan perguruan tinggi yang ada di Indonesia, apalagi di barat, adalah bahwa fakultas di al-Azhar tidak mengenal kelas campuran antara laki-laki dan perempuan. Untuk mahasiswi terdapat al-Jami’at al-Azhar li al-Banat. Pemisahan ini agaknya didasarkan kepada pandangan tertentu dalam Islam yang tidak memperkenankan ikhtilat (percampuran).

Kegiataan kemahasiswaan asing di lingkungan kampus kurang dominan. Jarang ada kesempatan untuk menjadi anggota senat, paling hanya mengikuti kegiatan kemahasiswaan yang mereka adakan. Maka tidak aneh hubungan mahasiswa asing dengan lokal nampak kurang erat, sekedar tahu nama dan berbicara yang penting-penting saja mengenai materi mata kuliah. Demikian juga hubungan mahasiswa asing dengan masyarakat setempat kurang begitu kental, hanya sekedar interaksi karena adanya kebutuhan tertentu.

Dalam kegiatan ujian, ujian di al-Azhar tidak menganut SKS (Sistem Kredit Semester) seperti yang ada di Indonesia. Di sini, ujian hanya dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu bulan Januari dan Mei. Jika lulus semua mata kuliah, bisa langsung meneruskan ke tingkat berikutnya, tapi kalau ada yang ketinggalan, harus bersabar karena materi yang tertinggal baru bisa ditempuh setelah tahun berikutnya. Kesempatan menyelesaikan semua mata kuliah dalam satu tingkat diberi jatah tiga tahun. Jika selama tiga tahun (tiga kali ujian) tidak selesai, maka kita harus berkemas-kemas untuk pulang ke tanah air. Hanya saja al-Azhar memberi kesempatan bagi yang tidak lulus dua mata kuliah, masih tetap naik tingkat. Tahun depan kita harus mengikuti ujian dua mata kuliah itu dalam ujian takhaluf (ujian mata kuliah yang tertinggal).

Dalam kertas soal hanya ada model essay, tidak menyediakan jenis multiple choice atau bentuk-bentuk lain. Jumlah pertanyaan pada setiap mata kuliah berkisar tiga hingga enam butir saja. Panitia ujian menyediakan kertas jawaban 12 halaman folio yang telah disatukan dalam bentuk buku. Para peserta hanya boleh membawa kartu mahasiswa, passport, pulpen, penghapus dan rol ke dalam ruangan. Semua jenis kertas lainnya tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruang ujian. Ketika ujian berlangsung, jangan coba-coba menyontek. Perbuatan menyontek termasuk yang diharamkan di sini. Jika ketahuan, hukuman akibat menyontek bisa sampai dua tahun.

Agar pikiran lebih tenang ketika mengikuti ujian, peserta ujian boleh membawa teh hangat ke dalam ruang ujian. Teh disediakan oleh petugas dengan mengutip bayaran 50 piasters, sementara untuk air putih disediakan dengan gratis. Lama ujian diberikan waktu selama tiga jam, kecuali untuk mata kuliah al-Qur’an dan bahasa Inggris diberi waktu dua jam.

Inilah sedikit pengalaman penulis yang dialami sendiri dan didapat dari berbagai sumber untuk melengkapi sedikit perjalanan penulis di al-Azhar.

III. Penutup

Belajar di Timur Tengah khususnya di al-Azhar merupakan tradisi yang telah lama dirintis sejak abad ke lima belas. Sekarang terdapat ribuan pelajar Indonesia yang masih menempuh studi di negeri Seribu Menara ini. Dengan adanya kerja berbagai lembaga dengan pemerintahan di Timur Tengah. Maka, prospek belajar lebih menjanjikan. Dengan standar akademi internasional dapat membantu pembinaan kader-kader mujtahid Islam yang moderat, tegar keimanannya dan memiliki jati diri dalam menghadapi tantangan di masa yang akan datang.

MADINAT AL-Buuts al-islamiyah

HARGA SEWA SEKARANG

POUNDS SEKARANG

RUWAQ


[1] Husni Mubarak A. Latif dkk, Panduan ke Mesir dan al-Azhar, (Kairo: Keluarga Mahasiswa Aceh, 2003), h. 13, cet.ke-3

[2] Ibid., h. 14

[3] Ibid., h. 23

[4] Ibid., h. 24 – 40

[5] Hasan Mu’arif Ambary, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2001), cet.ke-9, j. 2, h. 4-5

[6] Cyril Glasie, Ensilopedi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrapindo Perkasa, 2002), h.43

[7] Ibid., h. 251

[8] Ibid,. h. 114

[9] Ibid., h. 117

[10] Ibid., h. 165

[11] Ibid., h. 168

[12] Ibid., h. 169

[13] Ibid., h. 170

[14] Ibid., h. 171

[15] Ibid., h. 174

[16] Ibid., h. 176

[17] Yusuf al-Qardlawi, Aulawiyat al-Harakat al-Islamiyat fi al-Marhalat al-Qadimat, (Kairo: Maktabah Wahbah, 1991), h. 86

[18] Ibid., h. 178

[19] Mona Abaza, Islamic Education Perceptions and Exchange , Indonesian Students in Cairo, terj: S. Harlinah, Jakarta: Pustaka LP3ES, 1999, h. 100

[20] Bustanuddin Agus, Belajar Islam di Timur Tengah, Jakarta: Departemen Agama RI, t.th. h. 79


0 Responses to “Mesir dan al-Azhar”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: