14
Mar
11

AL-SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM

AL-SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM

oleh Andi Mardian, Lc., MA

I. PENDAHULUAN

Al-Sunnah adalah sumber hukum Islam yang kedua, salah satu kajian yang penting untuk dipelajari lebih mendalam.
II. PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN AL-SUNNAH

Al-Sunnah secara etimologi berarti:

الطريقة المسثقيمة و السيرة المستمرة حسنة كانت او سيئة

“Jalan yang lurus dan berkesinambungan yang baik atau yang buruk”[1]

Secara terminologis, para ulama berbeda pendapat dalam memberikan al-Sunnah sesuai dengan perbedaan dengan keahlian masing-masing. Para ulama Hadits mengatakan bahwa al-Sunnah adalah:

“Setiap apa yang ditinggalkan (diterima) dari Rasul saw berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, akhlak atau kehidupan, baik sebelum beliau diangkat menjadi Rasul maupun sesudahnya, seperti tahanuts (berdiam diri) yang dilakukan di gua Hira atau sesudah kerasulan beliau”[2]

Para ulama Hadits memberikan pengertian yang luas terhadap al-Sunnah disebabkan pandangan mereka terhadap Nabi Muhammad saw sebagai contoh yang baik bagi umat manusia, bukan sebagai sumber hukum. Oleh karena itu, ulama Hadits menerima dan meriwayatkan al-Sunnah secara utuh atas segala berita yang diterima tentang diri Nabi saw tanpa membedakan apa-yang diberitakan itu-isinya berkaitan dengan penetapan hukum syara ataupun tidak, juga menyebutkan bahwa perbuatan yang dilakukan Nabi sebelum atau sesudah beliau diangkat menjadi Rasul sebagai Sunnah.

Sedangkan ulama ushul fiqh menjadikan al-Sunnah secara terminology yaitu:

“Setiap yang datang dari Rasul saw selain al-Qur’an, baik berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapan yang dapat dijadikan sebagai dalil dalam menetapkan hukum syara’”.[3]

Melalui definisi diatas dapat disimpulakn bahwa segala sifat, prilaku, dan segalanya yang bersumber dari Nabi saw dan tidak ada relevansinya dengan hukum syara’ tidak dapat dijadikan sebagai al-Sunnah. Karenanya, jumlah al-Sunnah dalam pandangan ulama ushul sangat terbatas.

Adapu ulama ushul fiqh Syi’ah menganggap bahwa al-Sunnah berarti ucapan, tindakan, ketatapan Nabi saw dan para imam. Merujuk kepada Hadits versi mereka: “Aku tinggalkan setelah kepergianku dua hal yang amat berharga kepada kalian untuk merujuk dan Allah melarangmu jika kalian tidak merujuk kepadanya yaitu Kitab Allah dan Ahlul baitku”.[4]

Sunnah dikalangan dilakalangan Syi’ah bukan hanya dari Rasul (al-Hadits al-nabawi) juga berasal dari 12 imam mereka (al-Hadits al malawi). Seperti diungkapkan oleh imam ke 6 mereka, Ja’far al-Shadiq:

“Hadistku adalah Hadits ayahku (Muhammad bin al-Baqir) dan Hadits ayahku adalah Hadits kakekku (Ali ibn Husein ibn Ali ibn Abi Thalib), dan Hadits kakekku adalah Hadits Husein (Husein ibn Ali ibn Abi Thalib) dan Hadits Husein adalah Hadits Hasan (Hasan ibn Abi Thalib) dan Hadits Hasan adalah Hadits Amirul Mukminin (Ali ibn Abi Thalib) dan Hadits Amirul Mukminin adalah Hadits rasulullah saw, dan Hadits Rasuullah saw pada hakikatnya berasal dari Allah swt”.[5]

Adapun istilah al-Sunnah seringkali diidentikkan dengan Hadits, Khabar dan Atsar.

  1. PENGERTIAN AL-HADITS

Hadits secara etimologi berarti الجديد (sesuatu yang baru),   الخبر(kabar, berita atau cerita), الكلام (perkataan).[6]

Sama dengan al-Sunnah, pengertian al-Hadits secara terminology dijelaskan oleh para ulama dengan redaksi yang berbeda-beda. Menurut ulama Hadits, Hadits adalah: “Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi saw, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan maupun sifatnya”.[7]

Sementara ulama ushul fiqh mengatakan bahwa Hadits adalah: “meliputi perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi saw yang dapat dijadikan dalil dalam menentukan hukum syara’”.[8]

Dalam pandangan ulama ushul fiqh, segala sesuatu yang berasal dari Nabi saw tapi bukan berkaitan dengan hukum, seperti makan, tidur dan berpakaian tidak dianggap sebagai Hadits.

  1. PENGERTIAN AL-KHABAR

Secara etimologi khabar berarti النباء (berita),[9] yaitu segala berita yang diberikan kepada orang lain.

Sedangkan pengertian khabar secara terminology, khabar terbagi kedalam tiga pendapat, yaitu:

1.             Khabar adalah sinonim dengan Hadits, keduanya dapat digunakan untuk sesuatu yang marfu’ mauquf dan maqhthu’, mencakup segala sesuatu yang datang dari Nabi saw, sahabat dan tabi’in.[10]

2.             Khabar berbeda dengan Hadits, khabar adalah berita dari selain Nabi saw, sementara Hadits adalah sesuatu yang datang dari Nabi saw. Sehingga yang berkecimpung dalam kegiatan sejarah dan sejenisnya disebut akhbari, sedangkan seorang ahli Hadits disebut Muhaddits.[11]

3.             Khabar lebih umum daripada Hadits, setiap khabar dapat dikatakan Hadits tetapi tidak setiap khabar, tapi tidak setiap khabar dikatakan Hadits.[12]

Kegiatan yang trjado dalam masalah khabar pasti terjadi dalam masalah Hadits, tetapi tidak semua yang ada dalam khabar terdapat dalam Hadits.

  1. PENGERTIAN AL-ATSAR

Secara etimologi, al-Atsar berarti sisa atau peninggalan sesuatu. Secara terminology, atsar terbagi kedalam dua pendapat:

  1. Atsar adalah sinonim dengan Hadits yaitu segala sesuatu yang berasal dari Nabi saw
  2. Atsar adalah sesuatu yang yang disandarkan kepada sahabat dan tabi’in yang terdiri atas perbuatan.[13]

Jumhur ulama berpendapat bahwa khabar dan atsar untuk segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi, Sahabat dan Tabi’in. Sedangkan ulama Khurasan berpendapat bahwa atsar untuk yang mauquf (berita yang disandarkan kepada sahabat) dan khabar untuk yang marfu’ (sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw).

 

MACAM-MACAM DAN PEMBAGIAN AL-SUNNAH

  1. Macam-macam al-Sunnah dilihat dari Segi bentuknya

Al-Sunnah jika dilihat dari segi bentuknya terdapat tiga perkara, yaitu:

1.       Sunnah qauliyah, yaitu Hadits-Hadits yang diucapkan langsung oleh Nabi saw dalam berbagai kesempatan terhadap berbagai masalah yang kemudian dinukil oleh para sahabat dalam bentuknya yang utuh sebagaimana diucapkan oleh Nabi saw.[14] Diantara contohnya yaitu Hadits dari Anas bin Malik bahwa rasulullah saw bersabda:

سووا صفوفكم فإن تسوية الصف من تمام الصلاة (رواه مسلم)

“Hendaklah kamu meluruskan shaf (barisan) mu, karena sesungguhnya shaf yang lurus itu termasuk dari kesempurnaan shalat” (H. R. Muslim)[15]

2.       Sunnah Fi’liyah, yaitu Hadits-Hadits yang berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan oleh Nabi saw yang dilihat atau diketahui para sahabat, kemudian disampaikan kepada orang lain.[16]

Dalam masalah ini, para ulama ushul fiqh membahas secara mendalam tentang kedudukan  Sunnah fi’liyah. Masalah yang dikemukakan adalah: Apakah seluruh perbuatan Rasulullah saw wajib diikuti umatnya atau tidak. Ulama ushul fiqh membaginya kepada:[17]

a.       Perbuatan yang dilakukan Nabi saw sebagai manusia biasa, seperti makan, minum, duduk, berpakaian, memelihara jenggot dan sebagainya. Perbuatan seperti ini tidak termasuk sunnah yang wajib diikuti oleh umatnya. Hal ini dikarenakan perbuatan Nabi sebagai manusia biasa.

b.       Perbuatan yang dikerjakan Rasul saw yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut khusus untuk dirinya, seperti melakukan shalat tahajjud setiap malam, menikahi perempuan lebih dari empat atau menerima sedekah dari orang lain. Perbuatan seperti ini adalah khusus untuk diri Rasul dan tidak wajib diikuti.

c.       Perbuatan yang berkenaan dengan hukum dan ada alasannya, yaitu, sunnat, haram, makruh dan mubah. Perbuatan seperti ini menjadi syari’at bagi umat Islam.

3.             Sunnah Taqririyah, yaitu Hadits yang berupa ketetapan Nabi saw terhadap apa yang datang atau yang dilakukan sahabatnya. Nabi saw membiarkan atau mendiamkan suatu perbuatan yang dilakukan oleh para sahabatnya tanpa memberikan penegasan apakah beliau bersikap membenarkan atau mempermasalahkannya.[18]

 

  1. Macam-macam al-Sunnah jika dilihat dari Segi Kualitas Rawinya

Al-Sunnah jika ditinjau dari segi periwayatannya, para ulama ushul fiqh membaginya menjadi dua macam, yaitu:[19]

1.       Sunnah yang bersambung mata rantai perawinya

2.       Sunnah yang tidak bersambung mata rantai perawinya

Sunnah yang bersambung mata rantai perawinya terbagi kepada tiga macam:

1. Sunnah Mutawattir

Sunnah mutawattir adalah adalah sunnah yang diriwayatkan oleh rawi yang jumlahnya banyak dan diyakini mustahila adanya kebohongan. Penukilan sunnah mutawattir dengan jumlah perawi yang banyak yang terdiri dari 3 generasi, yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabi al-tabi’in.[20]

Jumhur ulama sepakat bahwa sunnah mutawattir adalah hujjah setelah al-Qur’an. Ditinjau dari segi bentuknya, para ulama ushul membagi sunnah mutawattir menjadi dua macam, yaitu:[21]

Pertama; mutawattir lafzhi, yaitu sunnah yang diriwayatkan oleh banyak orang, susunan redaksi dan maknanya sesuai antara riwayat dengan yang lainnya. Contohnya:

من كذب على متعمدا فليتبوأ مقعده من النار ( رواه البخارى و المسلم )

“Barang siapa berdusta dengan sengaja terhadapku, maka hendaklah ia mengambil tempat dalam neraka.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits diatas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat bahkan lebih.

Kedua; mutawattir maknawi, yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak yang berlainan lafal (redaksi) tetapi memiliki persamaan dalam maknanya. Contohnya:

انه كان يرفع يديه فى الدعاء

Terdapat pula lafal yang berbeda tetapi maknanya sama:

وهو رفع اليد عند الدعاء

2. Sunnah Masyhur

Sunnah masyhur adalah sunnah yang diriwayatkan dari Nabi saw oleh dua orang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawattir. Kemudian Hadits ini tersebar pada generasi kedua (tabi’in) dan generasi ketiga (tabi al-tabi’in).

Sunnah masyhur pada mulanya berawal dari sunnah ahad, kemudian tersebar dikalangan orang banyak dan terjadi pada generasi tabi’in dan tabi’ al-tabi’in.[22] Menurut Hanafiyah, Hadits masyhur berada dibawah sunnah mutawattir dan berfungsi memperkuat ayat al-Qur’an.[23]

3.      Sunnah Ahad

Sunnah ahad adalah sunnah yang jumlah perawinya tidak sampai kepada jumlah mutawattir, baik perawi itu satu, dua, tiga atau lebih, namun tidak memberikan pengertian jika bilangan tersebut masuk kedalam jumlah mutawattir.

Ketiga imam madzhab (Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad) menerima Hadits ahad jika dianggap memenuhi syarat-syarat periwayatan yang sahih. Namun Abu Hafifah disamping meriwayatkan perawi harus tsiqah dan adil, juga perawi tidak melakukan sesuatu yang berlawanan dengan isi Hadits yang diceritakannya.[24]

Sementara, sunnah yang tidak bersambung jumlah perawinya kepada Nabi Muhammad saw dinamakan Hadits mursal. Hadits mursal adalah Hadits yang salah seorang perawinya tidak disebutkan.  Ulama yang lain menyebutnya dengan Hadits munqhathi’ (terputus).[25]

Para ulama berbeda pendapat dalam pemakaian Hadits mursal. Imam Ahmad tidak memakai Hadits mursal kecuali jika pada kasus tersebut tidak disebutkan Hadits lain. Menurutnya, Hadits mursal seperti Hadits dhaif (lemah) dan tidak memakainya kecuali dalam keadaan dharurat saja.[26] Sementara Imam Syafi’i menetapkan beberapa syarat dalam menerima dan tidak menolaknya secara mutlak. Syarat-syarat tersebut:[27]

1.       Hadits mursal itu diperkuat dengan Hadits musnad yang bersambung sanadnya dari segi makna. Dalam keadaan seperti ini yang diambil sebagai hujjah adalah Hadits musnad, bukan Hadits mursalnya.

2.       Hadits mursal itu diperkuat dengan Hadits mursal yang lain. Dengan demikian keduanya saling menguatkan

3.       Hadits mursal itu sesuai dengan perkataan sahabat, maka hal itu sama artinya dengan mengangkat status Hadits mursal menjadi marfu’

4.       Apabila kalangan ulama telah menerima Hadits mursal itu dan segolongan dari mereka mengeluarkan fatwa seperti yang terkandung dalam Hadits itu.

Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menerima Hadits mursal secara mutlak. Menurut keduanya, Hadits mursal ini sederajat dengan Hadits musnad. Keduanya tidak hanya menerima Hadits mursal tabi’in saja, yaitu Hadits yang tidak disebutkan perawi sahabat,  tetapi keduanya menerima Hadits mursal tabi al-tabi’in, yaitu Hadits yang tidak disebutkan perawi tabi’in dan sahabat. Ini disebabkan karena riwayat kedua imam ini berasal langsung dari tabi’in dan tabi al-tabi’in. Bagi keduanya yang terpenting adalah tingkat kepercayaan dari orang yang meriwayatkannya.[28]

 

KEHUJAHAN AL-QUR’AN

Jumhur ulama ushul fiqh sepakat bahwa sunnah mutawattir, masyhur dan ahad adalah sumber istinbath hukum Islam jika tidak ditemukan dalam Hadits. Dari ketiga bentuk Hadits diatas para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kehujahan Hadits ahad.

Imam Syafi’i misalnya, beliau tidak menempatkan Hadits ahad setingkat dengan al-Qur’an atau Hadits mutawattir, karena al-Qur’an dan Hadits mutawattir adalah qathi al-wurud sedangkan Hadits ahad adalah zhonni al-wurud. Imam Syafi’i memberikan syarat-syarat ketat dalam menjadikan Hadits ahad sebagai hujjah dalam menentukan hukum Islam. Syarat-syarat tersebut diantaranya:[29]

1.       Rawi adalah orang yang dapat dipercaya atau adil.

2.       Rawi adalah orang yang berakal

3.       Rawi adalah orang yang kuat hapalannya

4.       Hadits yang diriwayatkannya tidak berbeda dengan Hadits yang diriwayatkan oleh orang lain yang lebih dipercaya.

Ulama Hanafiyah menerima Hadits ahad dengan syarat:[30]

1.      Hadits ahad diterima jika terkait dengan berbagai peristiwa

2.      Hadits ahad tidak bertentangan dengan qiyas, ushul dan kaidah-kaidah yang terdapat dalam syari’at

3.      Perawi ahad tidak menyalahi ahadnya.

Ulama Malikiyah menerima Hadits ahad jika tidak bertentangan dengan amal ahli madinah..[31] Sikap mendahulukan amal ahli Madinah daripada Hadits ahad disebabkan oleh tradisi hidup Nabi Muhammad saw telah menjadi sikap hidup penduduk Madinah dan secara factual dijadikan sebagai landasan menetapkan hukum.

Sementara kedudukan al-Sunnah terhadap al-Qur’an, para ulama ushul fiqh mengelompokkannya kedalam tiga bagian:[32]

1.       Al-Sunnah berfungsi memperkuat apa yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an, tidak menjelaskan apalagi menambahkan ketetapan al-Qur’an.

2.       Al-Sunnah berfungsi memperjelas dan merinci apa yang telah digariskan dalam al-Qur’an. Seperti Hadits-Hadits yang berhubungan dengan tata cara salat, puasa dan sebagainya.

3.       Al-Sunnah berfungsi menetapkan hukum yang belum ditentukan dalam al-Qur’an.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Abbas Mutawali Hamadah, Al-Sunnah al-Nabawiyah wa Makanatuha fi al-Tasyr’i, (Kairo: Dar al-Kaumiyah, t. th), h. 13

[2] Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Al-Sunnah Qabla Tadwin, (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), h. 14

[3] Ibid, h. 16,

[4] Ayatullah Baqir al-Shadr dan Murtadha Muthahari, Pengantar Ushul Fiqh dan Ushul Fiqh Perbandingan, terj: Satno Pinanito dan Ahain Muhammad, (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1993), cet. Ke-1, h. 144

[5] dikutip oleh Omar Hasyim, dari kitab Ushul kafi, pada jurnal makalah Ilmu-Ilmu Islam al-Huda, (Jakarta: vol 1, No. 5, 2000), h. 50

[6] Al-Tabik Ali Ahmad Zuhdi Mahdlor, Kamus Kontemporer, (Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, 1998), h. 747

[7] Muhammad al-Shabaq, Al-Hadits al-Nabawi: Musthalahuhu Balaghathuhu Ulumuhu Kutubuhu, (Riyad: Mansyurat al-Maktabah al-Islami, 1972), h. 14

[8] Muhammad Ajaz al-Khatib, op. cit., h. 14

[9] Mahmud al-Thahan, Taisir Musthalah al-Hadits, (Surabaya: Syirkah Bongkol Indah, 1985), h. 14

[10] Muhammad Ajaz al-Khatib, op. cit., h. 21

 

[11] Ibid

[12] Mahmud al-Thahan, op. cit., h. 14-15

[13] Ibid., h. 16

[14] Wahbah al-Zuhaily, Ushul Fiqh al-Islami, (Beirut: Dar al-Fikr, 1986), Juz I, h. 450

[15] Imam Muslim, Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawi, (Indonesia: Maktabah Wahbah, t.t), Juz I, h. 324

[16] Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, (Kuwait: Al-Dar al-Kuwaitiyah, 1968), h. 36

[17] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Bhuty, Mabahits al-Kitab wa al-Sunnah min Ilmi al-Ushul, (Damaskus: al-Mathba’ah al-Ta’awuniyah, 1974), h. 18-21

[18] Zaky al-Din Sya’ban, Ushul Fiqh al-Islami, (Mesir: Dar Ta’lif, 1965), h. 54

[19] Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, (Beirut: Dar al-Fikr, 1958), h. 107

[20] Ibid.,

[21] Zaky al-Din Sya’ban, op. cit., h. 56-58

[22] Abdul karim Zaidan, Al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh, (Baghdadh: Dar al-Arabiyah, 1997), cet.ke-VI, h. 167

[23] Abdul Wahab Khalaf, op. cit., h. 42

[24] Abu Zahrah, op. cit., h. 108

[25] Ibid, h. 111

[26] Ibid

[27] Muhammad ibn Idris al-Syafi’i, Al-Risalah, (Mesir: Dar al-Tsaqofah, 1973), h. 196-197

[28] Muhammad Abu Zahra, op. cit., 112

[29] Al-Syafi’i, op. cit., h. 159-174

[30] Abdul Karim Zaidan, Al-Wajiz fi ushul Fiqh, (Baghdadh: Dar al-Arabiyah, 1977), h. 177

[31] Ibid., h. 170

[32] Abdul Wahab Khalaf, op. cit., h. 39-40

26
Feb
11

AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM

Al-QUR’AN SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM

oleh: ANDI MARDIAN Lc., MA

I. PENDAHULUAN

Di zaman Rasulullah, sumber hukum Islam ada dua yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Jika terdapat suatu kasus, Rasul menunggu wahyu untuk menjelaskan kasus tersebut. Apabila wahyu tidak turun, maka beliau menetapkan hukum tersebut melalui sabdanya, yang kemudian dikenal dengan Hadits.

Sebagai sumber hukum Islam yang pertama, al-Qur’an mempunyai peranan penting dalam rangka penetapan hukum Islam terutama setelah meninggalnya Rasul saw. Keberadaan Rasul saw di tengah-tengah para sahabat masih mungkin terjadi penetapan hukum baru, karena sang pembuat hukum masih hidup diantara mereka, namun setelah meninggalnya beliau, tentu tidak ada lagi sumber hukum baru kecuali dengan cara-cara yang selama ini kita kenal.

Keywords:

 

II. PEMBAHASAN

Pengertian al-Qur’an

Menurut bahasa al-Qur’an berasal dari kata قرأ – يقرأ – قرأة artinya bacaan atau yang dibaca.[1] Al-Qur’an adalah mashdar yang diartikan dengan isim maf’ul yaitu maqru’. Kata qaraa juga berarti menghimpun dalam mengumpulkan huruf-huruf dan kalimat-kalimat dalam bacaan.

Menurut istilah al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan membacanya adalah ibadah. Term kalam sebenarnya meliputi seluruh perkataan, namun karena istilah itu disandarkan kepada Allah hingga menjadi kalamullah. Karenanya, perkataan yang tidak berasal dari selain Allah seperti perkataan manusia, jin maupun malaikat tidak dinamakan al-Qur’an. diturunkan kepada Nabi Muhammad saw meniadakan kepada kalamullah yang diturunkan kepada selainnya, seperti Jabur, Taurat dan Injil. Membacanya adalah perintah, karena itu membaca al-Qur’an adalah ibadah.[2]

Pengertian Ikhtilaf (perbedaan pendapat)

Menurut bahasa ikhtilaf berasal dari kata خلف – يخلف – خلافا artinya berbeda-perbedaan.[3] Menurut istilah ikhtilaf adalah berlainan pendapat antara dua atau beberapa orang terhadap beberapa objek atau masalah tertentu.[4] Dalam pembahasan ini, yang dimaksud ikhtilaf adalah perbedaan pendapat diantara dua ahli hukum Islam (fuqaha) dalam menetapkan sebagian hukum Islam yang bersifat furu’iyah (cabang).

 

Sebab-sebab Ikhtilaf Ulama dalam Memahami al-Qur’an

Sebab perbedaan pendapat ulama dalam menentukan suatu hukum adalah perbedaan mereka dalam memahami al-Qur’an. Baik dari segi bahasa, kontradiksi antara nash al-Qur’an dan beberapa perbedaan lainnya. Lebih jelas, perbedaan tersebut diantaranya:

1. Perbedaan dalam memahami al-Qur’an dari segi bahasa

a. Suatu kata mempunyai makna hakiki dan majazi

Sebagai contoh adalah kata الأب dalam bahasa Arab memiliki makna hakiki ayah atau bapak, namun jika dimutlakkan akan bermakna الجد yang berarti kakek, ini adalah makna majazi.

Contoh lain, perselisihan ulama dalam memahami kalimat أوينفوا من الأرض pada surat al-maidah: 33, kalimat ini berarti “dibuang dari negeri (tempat kediamannya)”, ayat tersebut adalah hukuman atas orang yang memerangi agama Allah dan Rasul-Nya. Makna hakiki dari kalimat tersebut adalah orang-orang yang melakukan kerusakan dari negeri tempat ia melakukan kerusakan itu, ini adalah pendapat jumhur ulama. Sedangkan makna majazi dari kalimat tersebut adalah dimasukkan penjara sebagaimana pendapatnya Hanafiyah.[5]

Sumber perselisihan tersebut adalah penggunaan kata nafa (pembuangan) secara majazi diartikan sebagai “penjara”. Golongan pertama berpendapat bahwa lafazh tersebut harus sesuai dengan maknanya yang hakiki, selama tidak ada petunjuk bahwa lafazh tersebut harus digunakan dalan pengertian lain.[6]

Sementara golongan Hanafiyah berpendapat, terdapat beberapa petunjuk yang mengisyaratkan tidak dipakainya makna hakiki. Karena membuangnya dari muka bumi merupakan tindakan yang mustahil dilakukan dan hanya mungkin dilakukan dengan cara membunuhnya. Kata nafa (pembuangan) menunjukkan arti hukuman yang bukan pembunuhan. Karenanya, jika yang dimaksud adalah pembuangan secara khusus dari negeri Islam, maka hukuman tersebut sama dengan mencampakkan seorang Muslim ke negeri kafir dan tindakan tersebut tidak dibenarkan oleh syara’.[7]

b. Suatu kata memiliki dua makna atau lebih.

Contohnya lafazh القروء dalam firman Allah untuk menyertakan masa iddah bagi wanita-wanita yang dijatuhi talak dalam masa haidh.

والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu ) tiga kali quruu/suci”. (Q. S. Al-Baqarah/2: 228)

Lafazh quruu disini boleh dipakai untuk pengertian haidh dan suci. Telah dibuktikan penggunaannya dalam bahasa Arab untuk kedua pengertian tersebut. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud adalah salah satu dari dua pengertian tersebut. Dua pengertian itu yang menyebabkan perselisihan pendapat dikalangan ulama.

Imam Malik dan Syafi’i berpendapat bahwa pengertian yang dimaksud adalah suci. Karena itu, iddah wanita yang dithalak dihitung menurut masa suci. Iddah berakhir dengan berakhirnya masa suci yang ketiga.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pengertian yang dimaksud adalah haidh. Karenanya, iddah wanita yang dithalak dihitung sejak masa haid dan iddahnya berakhir sesudah masa haidhnya yang ketiga.[8]

 

 

 

c. Penggunaan kata tunggal untuk makna menurut bahasa dan syari’at.

Misalnya perbedaan para ulama tentang makna kata بناتكم (anak-anak perempuan) yang tersebut dalam ayat-ayat tentang wanita-wanita yang haram dinikahi.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa perempuan yang lahir melalui perzinaan termasuk dalam kategori بناتكم , mengingat bahwa ia adalah anak perempuan dalam pengertian bahasa. Sehingga, Abu Hanifah mengharamkan seseorang yang menikahi anak perempuan yang berasal dari air maninya.[9]

Sementara imam Syafi’i berpendapat bahwa kata بناتكم tidak mencakup anak perempuan dari hasil perzinaan. Oleh karena itu, imam Syafi’i tidak mengharamkan seseorang untuk menikahi anak perempuan yang berasal dari air maninya. Mengingat bahwa anak perempuan hasil zina tidak termasuk istilah anak dalam pengertian syara’. Dalilnya adalah anak perempuan tersebut tidak berhak mewarisi dan diwarisi serta dilarang berkhalwat dengan anak perempuan tersebut.[10]

Sumber perselisihan itu adalah adanya kemungkinan kata tersebut digunakan dalam pengertian bahasa yaitu bahwa bintun adalah anak perempuan yang dilahirkan dari air mani seorang laki-laki. Juga, dapat digunakan dalam pengertian syara’, karena kata bintun berarti anak perempuan yang dilahirkan dari air mani seorang laki-laki yang diikat pernikahan yang sah menurut syara’.

 

2. Kebersamaan Makna Suatu Kata dalam Susunan Kalimat

Firman Allah swt:

$yJ¯RÎ) (#ätÂt“y_ tûïÏ%©!$# tbqç/͑$ptä† ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur tböqyèó¡tƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# #·Š$|¡sù br& (#þqè=­Gs)ム÷rr& (#þqç6¯=|Áム÷rr& yì©Üs)è? óOÎgƒÏ‰÷ƒr& Nßgè=ã_ö‘r&ur ô`ÏiB A#»n=Åz ÷rr& (#öqxÿYムšÆÏB ÇÚö‘F{$# 4 šÏ9ºsŒ óOßgs9 ӓ÷“Åz ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ( óOßgs9ur ’Îû ÍotÅzFy$# ë>#x‹tã íOŠÏàtã

Artnya:

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan dimuka bumi, hendaklah mereka dibunuh, atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan timbale balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya)”. (Q. S. Al-Maidah: 33)

Ayat tersebut tersusun dari beberapa kalimat yang dihubungkan antara satu sama lainnya. Lafazh au (atau) dalam bahasa Arab digunakan untuk memilih antara dua atau beberapa hal, penjenisan atau pembagian.

Dari sini timbul perselisihan diantara para fuqoha. Apakah hukum itu dijatuhkan berdasarkan kejahatan-kejahatan yang telah ditetapkan syara’. Jika demikian, maka orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya tidak dihukum bunuh kecuali ia telah nyata-nyata melakukan pembunuhan. Tangan dan kakinya tidak dipotong dan dibuang. Demikian pendapat jumhur ulama yang mengartikan au (atau) sebagai penjenisan atau pembagian.[11]

Sedangkan imam Abu Hanifah mengartikan au sebagai pilihan tidak pada muthlak muharib (orang yang memerangi secara umum), namun yang dimaksud adalah muharib secara khusus, yaitu membunuh dan mengambil harta. Menurut Abu Hanifah hukuman terhadap kejahatan seperti ini boleh memilih antara empat hukuman:

1.      memotong tangan dan kakinya secara silang dan membunuhnya

2.      memotong tangan dan kakinya secara silang dan menyalibnya

3.      menyalib saja tanpa memotong tangan dan kakinya

4.      membunuhnya saja demi kemaslahatan[12]

 

3. Perbedaan dalam Kaidah Ushuliyah

Contoh:

Perselisihan pendapat dalam hal penetuan kadar penyusuan yang dapat mengharamkan perkawinan. Sebagian ulama berpendapat bahwa satu susuan itu mengharamkan perkawinan sedikit atau banyak. Sebagian ulama berpendapat bahwa satu susuan tidak menjadikan haramnya perkawinan.[13]

 

4. Perbedaan dalam Penetapan Hukum dengan Kaidah Fiqhiyah

Contoh:

Hadits dari Abi Huraerah:

“Janganlah kamu mengikat susu unta dan kambing, barang siapa membelinya sesudah itu (sesudah diikat) ia boleh memilih antara dua hal setelah memerahnya. Jika ia suka, ia boleh memegang (meneruskan membelinya itu), dan jika tidak suka, maka ia boleh mengembalikan hewan itu disertai satu gantang kurma ”.

sebagian ulama berpendapat dengan apa yang dimaksud Hadits tersebut. Karenanya, mereka menetapkan bahwa sipembeli berhak mengembalikan hewan yang dibelinya dengan menyertakan satu gantang kurma kepada sipenjual, tidak membedakan susu yang diperahnya itu sedikit atau banyak.[14]

Golongan Hanafiyah mengemukakan pendapat bahwasanya tidak boleh dikembalikan hewan yang dibeli dengan alasan susunya dikat. Oleh karena itu, mereka tidak mewajibkan pemberian satu gantang.[15]

 

III. PENUTUP

Uraian diatas menunjukkan bahwa hukum Islam sangat komprehensif dan fleksibel. Ini disebabkan karena al-Qur’an menetapkan kaidah-kaidah umum dan ushul-ushul universal. Hal ini memungkinkan para mujtahid untuk melakukan ijtihad sebagai solusi penetapan hukum Islam. Sebagai agama yang diciptakan menjadi rahmat bagi semua mahluk hidup, tentu kandungan hokum yang terkandung dalam al-Qur’an bias bersifat fleksibel karena di dalamnya memberikan berbagai penafsiran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Ahmad Warson  Munawir, Kamus al-Munawwir, (Jogjakarta: Krapyak Press, 1995), h. 1185

[2] Manna al-Qhaththan, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, (Beirut: Muasasat al-Risalah, 1987), h. 21

[3] Op. cit., h. 390

[4] Huzaemah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Madzhab, (Jakarta: Logos, 1997), cet. ke-1, h. 47

[5] Mahmud Syaltu, Al-Islam Aqidah wa Syari’ah, (Kairo: Dar al-Qalam, 1976), cet.ke-3, h. 520

[6] Ibid

[7] Ibid., h. 521

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Ibid

[12] Ibid

[13] Mahmud Syaltut, op. cit., h. 528

[14] Ibid

[15] Ibid

26
Feb
11

Sejarah Perkembangan Ushul Fiqh

MEMBAHAS ISTILAH-ISTILAH USHUL FIQH

oleh: ANDI MARDIAN, Lc., MA

I. PENDAHULUAN

Dalam usaha mempelajari sebuah disiplin ilmu terlebih dengan tujuan mendalaminya, maka kewajiban utama yang harus dikuasai adalah pemahaman sebanar-benarnya atas sejumlah istilah yang akan dipakai dalam suatu disiplin ilmu tersebut. Pembahasan mengenai istilah tidak terlalu menarik dari pada membahas dan memperdebatkan materi dari garapan ilmu tersebut. Hanya saja, sesuatu yang tidak pernah kita sadari bahwa istilah merupakan pondasi keterbangunan sebuah disiplin ilmu dalam arti yang luas. Kesalahan dalam memahami suatu peristilahan tidak menutup kemungkinan merancukan proses berfikir yang bermuara pada kesimpangsiuran makna sehingga tujuan yang hendak dicapai tidak terealisasi.

II. PEMBAHASAN

  1. Syari’ah

Kata ini berasal dari lafal شرع syara’a dengan mengambil bentuk mashdar syari’ah yang berarti jalan ke tempat pengairan atau tempat berlalunya air di sungai.[1] Syara’a juga berarti “sesuatu yang lebar dan dibuka kepadanya”. Dari sinilah terbentuk kata syari’ah yang berarti “sumber air minum”[2]

Bentuk kesamaan syari’at Islam dengan jalan air adalah bahwa siapa yang mengikuti syari’at, ia akan mengalir sehingga bersih jiwanya. Allah menjadikan air penyebab kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan sebagaimana menjadikan syari’at sebagai penyebab kehidupan jiwa insani.[3]

Kata syari’ah muncul dalam al-Qur’an sebanyak lima kali, yaitu: al-Maidah: 48, al-Syuura: 13 dan 21, al-Jatsiyah: 18 dan al-A’raf: 163. Dalam hal ini agama yang ditetapkan untuk manusia disebut syari’at dalam artian lughawi (bahasa) karena umat Islam selalu melaluinya dalam kehidupan didunia.[4]

Adapun secara terminology, syari’ah diartikan dengan “jalan lurus”. Kemudian pengertian ini dijabarkan menjadi: hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan (manusia) dari dalil-dalil yang terperinci diperoleh dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang shahih.[5]

Pengertian lain yang diberikan oleh ulama ialah hukum-hukum yang bersumber dari Allah swt untuk hamba-hamba-Nya yang dibawa oleh seorang Rasul, baik hukum-hukum yang berkaitan dengan cara berprilaku (hukum-hukum cabang) yang dihimpun dalam fiqh, maupun yang berkaitan dengan cara mengadakan kepercayaan (hukum-hukum pokok) yang dihimpun dalam ilmu kalam. Syari’ah juga disebut dengan agama (al-diin atau al-millah).[6]

Berdasarkan pengertian-pengertian yang dikemukakan diatas dapat diperoleh rumusan bahwa syari’ah adalah aturan-aturan yang berkenaan dengan perilaku umat manusia, baik yang berkenaan dengan hukum pokok maupun cabang yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits Nabi saw. Namun demikian, perlu difahami bahwa meskipun syari’ah sifatnya tetap (tidak berubah), tetapi dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi, sebab petunjuk-petunjuk yang bersifat tajally dapat membawa ke jalan yang lurus.

  1. FIQH

Kata fiqh secara etimologi berakar dari lafal فقه faqiha berarti faham yang mendalam.[7] Lafal faqiha menunjukkan kepada “maksud sesuatu” atau ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya, setiap ilmu yang berkaitan dengan sesuatu disebut dengan fiqh.[8]

Dalam al-Qur’an, lafal faqiha atau yang berakar dengan itu terdapat 20 ayat; 19 diantaranya mempunyai arti kedalaman faham atau kedalaman ilmu sehingga dapat diambil manfaat darinya.[9]

Adapun pengertian fiqh secara terminologi menurut ulama Syafii’yah adalah “ilmu yang menerangkan hukum-hukum agama yang berhubungan dengan pekerjaan para mukallaf yang dikeluarkan dari dalil-dalil yang jelas”.[10] Abdul Wahab Khalaf mengartikannya dengan “pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan manusia yang diusahakan dari dalil-dalil yang terinci atau kumpulan hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan manusia yang diperoleh dari dalil-dalil yang terinci”.[11] Selanjutnya, al-Jurjani, seperti yang dikutip Ahmad Hanafi menyatakan bahwa fiqh adalah “usaha yang dihasilkan oleh pikiran atau ijtihad melalui analisis dan perenungan”.[12] Pengertian ini,jika dikaitkan dengan pengertian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa fiqh adalah hasil analisis para ulama yang didasarkan pada kaidah-kaidah ushul dalam meng-istinbath-kan hukum-hukum syara’ dan hasil analisis tersebut dinamakan fiqh.

Hubungan syari’ah dengan fiqh

Dari pengertian diatas kita mengetahui bahwa lapangan syari’ah lebih luas daripada fiqh, karena lapangan syari’ah apa yang tercakup dalam ilmu kalam dan ilmu fiqh. Dengan kata lain, fiqh adalah sebagian dari isi syari’ah, karena pengertian syari’ah ialah keseluruhan agama bukan fiqh saja. Segi pemisahan yang lain ialah bahwa fiqh tidak mendapat kedudukan dan penghormatan yang tinggi seperti syari’ah, karena fiqh (sebagai ilmu) adalah buatan manusia sedang syari’ah dating dari Tuhan.

Selanjutnya, kata-kata syari’ah telah lama dipakai sebelum timbulnya kata-kata fiqh yang dipakai dalampengertiannya sekarang. Dalam al-Qur’an banyak kita dapati kata-kata syari’ah dengan segala tasrifnya, antara lain pada firman Allah:

“Kemudian Kami jadikan engkau atas perkara yang disyari’atkan” (Q. S. al-Jatsiyah: 18).

Pengertian syari’ah disini (syari’ah Islam) merupakan imbangan dari syari’ah Nabi Musa a.s dan syari’ah Nabi Isa a.s.

Kata-kata fiqh pada masa permulaan Islam mencakup semua hukum-hukum agama, baik yang berhubungan dengan hukum-hukum kepercayaan, perbuatan atau akhlak. Mempelajari hukum-hukum tersebut disebut fiqh tanpa diadakan pembedaan. Hal ini nampak jelas dari firman Tuhan:

“Hendaklah dari tiap-tiap golongan dari mereka ada serombongan orang yang pergi untuk memahami (mempelajari) agama”. (Q. S. al-Taubah: 122)

Fiqh dalam pengertian yang luas tersebut, yaitu yang sepadan dengan kata-kata syari’ah, mencerminkan corak pemikiran Islam yang sebenarnya pada masa-masa pertama Islam. Karena fiqh pada masa tersebut berhubungan dengan masalah akhirat yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits. Sebutan bagi orang-orang yang ahli dalam lapangan tersebut dinamakan “al-Quraa”.

Setelah daerah kekuasaan Islam semakin meluas dan banyaknya orang yang memeluk ajaran Islam, kata fiqh dipakai untuk sekumpulan hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan, seperti hukum wajib, makruh, mubah, halal, haram dan sebagainya.

Sejak masa tersebut hukum-hukum tersebut merupakan ilmu yang berdiri sendiri dan orang-orang yang ahli dalam hukum tersebut dinamakan faqih atau fuqaha.[13]

Syari’ah dan fiqh mempunyai ruang lingkup yang berbeda. Ruang lingkup syari’ah adalah:

1.       Hukum-hukum I’tiqadiyah,yakni yang berkenaan dengan akidah dan kepercayaan (rukun iman yang enam).

2.       Hukum-hukum amaliyah yang meliputi:

a.       Ibadah,seperti shalat, puasa, zakat dan haji.

b.       Mu’amalah seperti jual beli, pencurian dan lain-lain.[14]

  1. HUKUM

Kata hukum secara etimologi berasal dari lafal حكم yang berarti menolak kelaliman/penganiayaan.[15]

Secara terminology, ulama ushul mengartikannya sebagai titah Allah yang berkenaan dengan perbuatan orang mukallaf, baik berupa tuntutan, pilihan maupun larangan. Sedangkan ulama fiqh mengartikannya dengan efek yang dikehendaki oleh titah Allah dari perbuatan manusia,seperti wajib, haram dan sebagainya.[16]

Jika dikompromikan antara pengertian lafal “hukum” secara etimologi dan terminology diatas, dapat disimpulkan bahwa jika seseorang telah mengamalkan segala titah Allah, baik berupa tuntutan, larangan atau pilihan, maka dia akan menolak untuk berbuat lalim baik terhadap sesama manusia maupun sesama makhluk.

  1. USHUL FIQH

Kata ushul fiqh secara etimologi berasal dari lafal أصل yang berarti pokok, sumber tempat tegak berdirinya sesuatu.[17] Para ahli ushul memberikan definisi ilmu ushul fiqh dari dua titik sudut; pertama dari sudut keberadaannya sebagai idhafah, kedua dari sudut ilmu. Dua pengertian yang mencakup dari perkataan ushul fiqh adalah:[18]

1.             Sebagai suatu rangkaian lafal yang terdiri dari dua kata yaitu ushul dan fiqh:

a.       kata ushul yang menunjukkan undang-undang/kaedah, seperti: perintah menunjukkan wajib, larangan menunjukkan haram.

b.      Fiqh, dalil-dalil hukum, seperti perbuatan Nabi menjadi hujjah, ijma’menjadi hujjah dan lain-lain

Sehingga pengertiannya menjadi: kaidah-kaidah yang dipergunakan untuk mengeluarkan hukum dari dalil-dalilnya.

2.             Sebagai cabang dari suatu ilmu yaitu cabang dari ilmu syari’ah. Maka pengertiannya menjadi: ilmu yang menerangkan kaidah-kaidah dan pembahasan-pembahasan yang dipergunakan untuk meng-istinbath-kan hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliyah dari dalil-dalilnya yang tafshili (rinci).

Secara terminology, ushul fiqh adalah: “pengetahuan tentang kaidah dan penjabarannya yang dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum syari’ah Islam mengenai perbuatan manusia, dimana kaidah itu bersumber dari dalil-dalil yang rinci”.[19]

Hubungan ushul fiqh dengan fiqh

Perbedaan mendasar antara ushul fiqh dengan fiqh adalah bahwa ushul fiqh merupakan metode yang harus ditempuh ahli fiqh didalam menetapkan hukum-hukum syara’ berdasarkan dalil-dalil syar’i serta mengklasifikasikan dalil-dalil tersebut berdasarkan kualitasnya. Misalnya, dalil-dali dari al-Qur’an harus didahulukan daripada qiyas. Sedangkan fiqh adalah hasil hukum-hukum syar’i berdasarkan metode-metode tersebut. Sedangkan hubungan ushul fiqh dengan fiqh seperti hubungan ilmu mantiq dengan filsafat,yakni bahwa ilmu mantiq merupakan kaidah berfikir yang memelihara akal agar tidak terjadi kerancuan dalam berfikir. Dengan demikian ushul fiqh merupakan kaidah yang memelihara fuqaha agar tidak terjadi kesalahan dalam meng-istinbath-kan hukum.

Adapun objek kajian ushul fiqh adalah:

1.        Mengkaji sumber hukum Islam atau dalil-dalil yang digunakan dalam menggali hukum syara’.

2.        Mencarikan jalam keluar dari dalil-dalil yang secara lahir dianggap bertentangan

3.        Ijtihad (syarat dan sifat)

4.        Hukum syara’ (nash)

5.        Kaidah-kaidah yang digunakan dan cara menggunakannya dengan cara istinbath.

Tujuan ushul fiqh adalah menerapkan kaidah-kaidah dan teori-teori yang terhadap dalil-dalil yang terpeinci untuk memperoleh hukum-hukum syara’ yang ditunjukannya.

Aliran yang terdapat dalam ushul fiqh:

1.      Aliran Ilmu Kalam

Menetapkan suatu ushul dengan tidak memperdulikan cocokkah kaidah itu dengan furu’ (cabang) yang telah ada ataukah tidak.kaidah itu harus dikuatkan/bersendi pada akal dan petunjuk yang kokoh, jika tidak,kaidah itu harus dikuatkan/bersendi pada akal dan petunjuk yang kokoh, jika tidak mereka tidak menggunakannya.

2.      Aliran Hanafiyah

Adapun ulama Hanafiyah membuat pembahasan dalam ushul dengan menjaga furu’ (cabang) yang telah ada.[20]

  1. QAWAID FIQHIYAH

Kata qawaid merupakan bentuk jama’ dari قاعدة kaidah yang berarti pondasi bangunan (asas al-bina), penguat (dlabith),[21]aturan atau patokan.[22]

Sedangkan tinjauan istilah, qaidah menurut ahli fiqh adalah adalah: Perkara universal yang berkesesuaian dengan bagian-bagiannya yang banyak kita dapat memahami hukum darinya.[23] Qaidah diartikan juga sebagai: hukum yang biasa berlaku (umum) yang berkesesuaian dengan sebagian besar bagian-bagiannya.[24]

Kemudian arti fiqhiyah diambil dari kata fiqh yang ditambah ya nisbah yang berfungsi sebagai penjenisan atau pembangsaan.[25] Dengan demikian, makna qawaid fiqhiyah adalah: hukum yang berkaitan dengan asas-asas hukum yang dibangun oleh syari’ serta tujuan-tujuan yang dimaksud dalam pensyariatannya.[26]

Perbedaan antara ashal dan qaidah:

Ashal ialah: “Jalan istinbath kepada cabang”, ia mendahului cabang dalam wujudnya, walaupun kebanyakan ashal yang dipegangi para imam dilahirkan oleh furu’.

Qaidah adalah: “Pengekang furu’” yang bermacam-macam. Dan meletakan fur’ itu dalam satu kandungan umum yang lengkap.

  1. IJTIHAD

Secara etimologi ijtihad berasal dari mashdar ijtihadan yang berarti kerajinan, kegiatan dan ketekunan,[27] atau dari kata kerja jahada yajhadu dengan mashdar jahdan, berarti pengerahan segala kesanggupan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit juga bisa bermakna sungguh-sungguh dalam bekerja dengan segenap kemampuan.[28]

Para mujtahid memberikan pengertian dengan berbagai arti, ada yang mengertikannya dengan arti yang sempit dan luas. Imam Syafi’i termasuk yang mengartikannya dengan arti yang sempit, yakni beliau menyamakannya dengan qiyas, artinya: Ijtihad hanyalah menjalankan qiyas atau membandingkan hukum kepada sesuatu yang lain.[29] Sementara pengertian ijtihad secara luas diantaranya:

  1. Menurut Khudlari Bek, ijtihad adalah pengerahan segala kemampuan menalar dari seorang faqih dalam mencari hukum-hukum syara’[30]
  2. Menurut Abdul Wahab Khalaf, ijtihad adalah mencurahkan segala kemampuan dari dalil-dalil syara secara rinci[31]
  3. Menurut Abu Zahrah, ijtihad adalah upaya mengerahkan seluruh kemampuan dan potensi untuk sampai pada suatu perkara atau perbuatan[32]
  4. Menurut Idris Ramulyo, ijtihad adalah berusaha sungguh-sungguh dengan mempergunakan segala dana untuk mempelajari hukum Islam dari sumber yang asli, yaitu al-Qur’an dan Hadits sehingga mengalirkan garis hukum baru, atau untukmencapai suatu tujuan tertentu dengan menyusun pendapat yang berhubungan dengan sebuah tata hukum.[33]

Keempat pengertian diatas pada umumnya mempunyai persamaan bahwa ijtihad adalah usaha ahli fiqh dengan menggunakan pengetahuannya secara sungguh-sungguh untu menemukan hukum syari’ah yang amaliyah dari sumber aslinya. Sementara lapangan ijtihad adalah dalil-dalil yang bersifat dzanni.

Adapin bentuk ijtihad yang bisa diterapkan pada masa kini adalah:

1. Ijtihad Intiqa’i. Menurut bahasa intiqa’i adalah memilih atau mempertemukan yang lebih utama.[34] Sedang menurut istilah ialah memilih salah satu pendapat yang paling kuat dari beberapa pendapat yang ada didalam karya para mujtahid.[35]

2. Ijtihad Insya’i. Menurut bahasa insya’i adalah menjadikan, mengadakan dan jalan karangan.[36] Menurut istilah adalah mengambil kesimpulan hukum baru (pendapat baru) terhadap suatu masalah yang belum pernah dikemukakan oleh ulama terdahulu.[37]

Pintu ijtihad senantiasa terbuka bagi mereka yang mencukupi sarat untuk berijtihad. Hal ini dikarenakan permasalahan agama yang semakin komplik yang dengan sendirinya membutuhkan usaha dalam menetapkan hukum.

  1. ISTINBATH

Secara etimologi istinbath diambil dari kata nabata yang diberi tambahan alif, sin dan ta’ yang bermakna muta’adi (membutuhkan objek) sama dengan ketika hanya ditambah alif didepannya atau saddah pada huruf ba’. Artinya yaitu mengeluarkan, melahirkan atau menciptakan.[38]

Secara terminology istinbath adalah menetapkan hukum dengan cara ijtihad yaitu mengeluarkannya dari dalil-dalil yang telah ditetapkan oleh syara’.[39]

  1. FATWA

Fatwa adalah petuah, nasihat atau jawaban atas pertanyaan yang berkaitan dengan hukum. Bentuk jamaknya adalah fatawa.[40] Dalam ilmu ushul fiqh fatwa berarti pendapat yang dikemukakan seorang mujtahid atau faqih sebagai jawaban yang diajukan oleh peminta fatwa dalam suatu kasus yang sifatnya tidak mengikat. Pihak yang meminta fatwa disebut mustafti, baik secara pribadi maupun kelompok. Seorang mufti berbeda dengan qadli (hakim) dilihat dari segi kekuatan hukumnya. Fatwa mufti tidak mengikat mustafti jadi boleh diterima atau tidak. Sedangkan keputusan hakim bersifat mengikat dan harus dilaksanakan oleh pihak terhukum.

  1. QADLA

Secara etimologi, qadla berasal dari mashdar qadla yang bermakna hukum atau putusan.[41] Secara terminology, qadla adalah penjelasan tentang hukum-hukum syari’at dan upaya melaksanakannya.[42]

III. PENUTUP

Setelah memahami istilah-istilah yang berkaitan dengan ilmu fiqh akan lebih memudahkan kepada pihak-pihak yang ingin mengetahui hukum Islam. Penelusuran yang mendalam mengenai hal ini akan menambahwawasan bagi para peneliti hukum Islam. Akan tetapi, jika seseorang dengan sengaja mengabaikan istilah akan merancukan landasan berfikirnya mengenai hukum Islam.


[1] Muhamammad Rasyid Ridla, Tafsir al-Manar, Beirut: Dar al-Fikr, t.t, Jilid VI, cet. Ke-2, h. 413

[2] Abi al-Husein Ahmad ibn Farits ibn Zakariya, Mu’jam Maqayis al-Lughah, Beirut: Dar al-Fikr, 1989. Jilid III, h. 262

[3] Muhamammad Rasyid Ridla, loc. cit.,

[4] Yusuf al-Qardlawi, Madkhal li Dirasat al-Islamiyah, Kairo: Maktabah Wahbah, t.t, h. 7

[5] Muhammad Ali al-Sayis, Nasyi’ah al-Fiqh al-Ijtihad wa Athwaruhu, Kairo: Salsalat al-Buhuts al-Islamiyah, 1970, h. 8-9

[6] Ahmad Hanafi, Pengantar dan Sejarah Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984, h. 9

[7] Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Beirut: Dar al-Fikr, tt, h. 6. Ahmad Warson al-Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif, 1997, h. 1067

[8] Abi al-Husein Ahmad ibn Farits ibn Zakariya, op. cit., Jilid IV, h. 442. Hasbi ash Shiddieqy, Pengantar Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1994, h. 29

[9] Muhamammad Rasyid Ridla, op. cit., JIlid IX, h. 11

[10] Ahmad Nahrawi Abdul Salam, Al-Imam al-Syafi’i fi al-Madzhabihi al-Qodim wa al-Jadid, Kairo: Maktabah Wahbah, 1994, cet. Ke-2 h. 430

[11] Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Qalam, 1978,cet.ke-2, h. 14

[12] Ahmad Hanafi,op. cit., h. 10

[13] Ahmad Hanafi, op.cit., h. 11

[14] Muhammad Husein al-Dzahabi, Al-Syari’ah al-Islamiyah, Dirasat al-Muqaranah bain al-Madzahib ahl al-Sunnah wa Madzahib al-Ja’fariyah, Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsah, 1968, h. 18-19

[15] Abi al-Husein Ahmad ibn Farits ibn Zakariya, op. cit., Jilid II, h. 91

[16] Muhammad Khudlari Bek, Ushul al-Fiqh,Kairo: Al-Maktabah al-Tijariyah al-Kubra, 1969, h.  18

[17]Al-Munawwir, op.cit., h. 28

[18] Al-Zuhaili, op. cit., h. 15

[19] Abdul Wahab Khalaf, op. cit., h. 12

[20] Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1997, h. 334

[21] Muhammad al-Sidqi, Al-Wajiz, Beirut: Muasasat al-Risalah, 1983,cet.ke-1,h. 13

[22] Muslih Usman, Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah, Pedoman Dasar dalam Istinbath Hukum Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996,cet. ke-1, h. 13

[23] Muhammad al-Sidqi, op. cit., h. 14

[24] Muslih Usman, loc.cit

[25] Ibid

[26] Ibid

[27] Al-Munawwir, op.cit., h.14

[28] Louis Ma’luf,, Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam, Beirut: Dar al-Masyriq, 1996, h. 105-106

[29]Hasbi ash Shiddieqy

[30] Khudlari Bek, Tarikh Tasyri’, Beirut: Dar al-Qalam, 1980, h. 100

[31] Abdul Wahab Khalaf, op.cit., h. 216

[32] Abu Zahrah, op.cit., h. 200

[33] Idris Ramulyo, Asas-asas Hukum Islam, Sejarah Timbul dan Berkembangnya Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995, h. 139

[34] Jamaluddin ibn Mukarram al-Anshari, Lisan al-‘Arab, Dar al-Mishri, tt. Jilid xx, h. 212

[35] Al-Qardlawi, op.cit., h. 150

[36] Idris al-Marbawi, Qamus al-Marbawi, Mesir: Dar al-Fikr, tt. Jilid I, h. 316

[37] Al-Qardlawi, op.cit., h. 151

[38] Al-Munawwir, op.cit., h. 1379

[39] Abdul Aziz Dahlan, op.cit., h. 320

[40] Abdul Aziz Dahlan, op.cit., h. 326

[41] Ibrahim Aras et.al, Mu’jam al-Wasith, Kairo: tp, 1972, h. 672

[42] Abu Bakar Jabir, Pedoman Hidup Muslim, Jakarta: PT. Intermasa, 1996, h. 811

16
Feb
11

Ramadhan dan Etos kerja

ramadhan dan etos kerja

Makanan dan miuman merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Tidak seorangpun yang mampu bertahan hidup berhari-hari tanpa kemasukan makanan atau minuman. Karena makanan dan minuman merupakan  zat untuk memperlancar metabolisme di dalam tubuh kita, maka makanan dan minuman yang dimasukan ke dalam tubuh akan berpengaruh terhadap stamina dan kesehatan seseorang. Semakin berkualitas apa yang dimasukkan ke dalam tubuh, semakin berkualitas pula apa yang ditanpakkan oleh tubuh. Tubuh dengan jiwa dan stamina yang berkualitas akan menghasilkan etos kerja yang berkualitas pula. Dengan kerja yang berkualitas maka hasil yang didapatpun akan lebih optimal.

Kita semua tahu bahwa bekerja memerlukan energi yang notabene diperoleh dari makanan dan minuman. Jika seseorang makan dan minum tidak mencukupi kadar yang dibutuhkan, dia relatif tidak memiliki energi cukup untuk beraktivitas. Kondisi fisik yang tidak prima dapat berpengaruh terhadap hasil dari pekerjaan seseorang. Konsekuensi ke sekian dari logika ini, produktivitas dan prestasi kerja sulit ditingkatkan, bahkan mungkin anjlok dikarenakan  tidak cukup makanan dan minuman yang seharusnya dikonsumsi oleh tubuh. Jika asumsi ini benar, maka puasa Ramadhan sebulan penuh tidak cocok bagi mereka yang bekerja di siang hari. Dalam pengertian lain, seseorang tidak akan dapat berprestasi ketika berpuasa. Namun apakah semua logika di atas itu benar adanya?

Lima belas abad lamanya sejarah Islam berlangsung, terutama masa Rasul dan sahabatnya, terlihat bahwa Ramadhan bukan bulan pemandul kreativitas dan produktivitas. Hal ini bisa dibuktikan justru di bulan ini terlahir beberapa karya tak ternilai dan menjadi sejarah penting dan tercatat dengan  tinta emas dalam sejarah perkembangan Islam. Sejarah yang mengisahkan kemenangan kaum Muslimin dalam perang Badar (2 H/624 M), meski hanya dengan 313 orang prajurit dengan persenjataan yang seadanya. Kemudian sejarah penaklukan kota Mekah (8 H/630 M) merupakan contoh konkrit kesimpulan ini. Kedua sejarah kemenangan emas kaum Muslimin ini justru didapat ketika kaum Muslimin sedang melaksanakan ibadah puasa.

Sejarah ini kemudian berlanjut terhadap umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad saw. Sejarah mencatat bahwa kemenangan spektakuler kaum Muslimin di Spanyol terjadi pada bulan Ramadhan (91 H/710 M). Sama halnya dengan kemenangan besar perang Salib (584 H/1188 M), sukses melawan Tartar (658 H/1168 M) dan banyak lagi catatan manis lainnya. Bahkan, bangsa Indonesia sendiri telah menjungkir-balikkan “kesimpulan” keliru di atas dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan pada hari Jum’at 9 Ramadhan 1364 H. Sungguh suatu kondisi yang para pakar perangpun tidak berani bertaruh bagaimana mungkin umat Islam di Indonesia dapat memperoleh kemenangan yang gemilang justru disaat mereka sedang khusyuk dalam menjalankan ibadah puasa.

Puasa yang dilakukan umat Islam, seharusnya bukan alasan untuk bermalas-malasan dalam bekerja. Karena puasa bisa berarti menahan atau paling tidak mengendalikan makan dan minum secara berlebihan. Ketika makan dan minum sudah bisa dikendalikan, maka hasilnya akan positive bagi tubuh seseorang. Menurut para ahli, makan, minum dan berhubungan seks berlebihan, tanpa aturan dan disiplin, bukannya membuat seseorang mampu melakukan pekerjaan lebih baik, tapi bisa menjatuhkan angka produktivitasnya. Energi dan produktivitas tidak senantiasa segaris dengan konsumsi jasmani. Orang tersebut malahan akan terperosok menjadi budak kebutuhannya sendiri. Memperjuangkan apa yang menjadi keinginannya tanpa memperhatikan kondisi dan fisiknya. Kesemuanya itu jika dilaksanakan akan membuat kondisi seseorang semakin tidak sehat.

Sebagai salah satu perintah Allah swt terhadap umat Islam, puasa tidak akan memberatkan umat Islam. Karena Allah tidak pernah memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya melainkan sesuai dengan kemampuannya. Kewajiban berpuasa hanya bagi mereka yang dalam kondisi fisik dan mental sehat. Hal ini bisa dibuktikan dengan ayat yang membolehkan untuk tidak berpuasa bagi mereka yang sedang dalam perjalan dan mereka yang sedang sakit. Keduanya boleh tidak berpuasa dengan cara menggantinya di hari-hari yang lain. (Q. S. Al-Baqarah: 185)

Kebolehan untuk tidak berpuasa juga berlaku bagi mereka yang bekerja dengan fisik dan terkategori berat –seperti pekerja peleburan besi, buruh tambang, tukang sidang, atau yang lainnya– jika berpuasa menimbulkan kemudharatan terhadap jiwa mereka, boleh tidak berpuasa. Tapi, mereka diwajibkan untuk mengqadha’ puasanya. Jumhur ulama mensyaratkan orang-orang yang seperti ini wajib baginya untuk sahur dan berniat puasa, lalu berpuasa di hari itu. Kalau tidak sanggup, baru boleh berbuka. Berbuka menjadi wajib, kalau yakin kondisi ketidak sanggupan itu akan menimbulkan kemudharatan. Begitu juga kebolehan tidak berpuasa bagi wanita hamil dan ibu yang menyusui. Wanita hamil atau ibu menyusui boleh tidak berpuasa, tapi harus menggantinya di hari lain. Jika dia tidak berpuasa karena takut dengan kondisi dirinya sendiri, maka hanya wajib bayar qadha’ saja. Tapi jika dia takut akan keselamatan janin atau bayinya, maka wajib bayar qadha’ dan fidyah berupa memberi makan sekali untuk satu orang miskin. Hal ini diqiyaskan dengan orang sakit dan dengan orang tua yang uzur. Orang yang sudah lanjut usia dan tidak sanggup puasa lagi tidak wajib puasa, tapi wajib bayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan. Fidyah  dimaksud adalah memberi makan fakir/miskin setiap hari selama  ia  tidak  berpuasa.  Ada  yang  berpendapat  sebanyak setengah  sha’ (gantang)  atau kurang lebih 3,125 gram gandum atau kurma (makanan pokok). Ada juga yang menyatakan satu  mud yakni   sekitar   lima   perenam  liter,  dan  ada  lagi  yang mengembalikan penentuan jumlahnya pada kebiasaan yang  berlaku pada setiap masyarakat.

Nabi Muhammad pernah menyatakan agar kita berpuasa, karena puasa akan menyehatkan jiwa raga kita. Sepintas kita meragukan bagaimana mungkin tubuh yang tidak dimasuki oleh makanan dan minuman menjadi sehat. Jika kita memperhatikan lebih jauh tentang sifat-sifat berpuasa, maka nyatalah bahwa berpuasa bisa menahan makan dan minum yang berlebihan. Kita menyadari bahwa kita merasakan lapar dan haus di siang hari, akan tetapi ketika berbuka ternyata yang bisa dimasukkan kedalam tubuh kita hanya sebagian kecil dari apa yang kita inginkan disaat kita berpuasa. Makan dan minum yang sesuai dengan kebutuhan ternyata akan menjadikan kita sehat dan meningkatkan etos dan produktivitas kita dalam bekerja.

Sehubungan produktivitas dan etos kerja orang yang berpuasa ini, ada sebuah firman Allah yang sangat baik direnungkan. “Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka siapa di antara kamu yang meminum airnya (secara berlebihan), maka dia bukanlah pengikutku. Barangsiapa tidak meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan (sekedar melepaskan dahaga dan menguatkan badan), maka ia adalah pengikutku.’ Maka, (ketika sampai di sungai itu), mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, ‘Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.’ Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.’ Dan Allah beserta orang-orang yang sabar,” (Q. S. Al-Baqarah: 249).

Dari kisah di atas dapat dipahami bahwa orang yang minum sedikit saja, sekedar melepaskan dahaga dan menguatkan badan, jauh lebih kuat dari mereka yang minum sepuas-puasnya. Mereka yang minum yang sedikit itu, sekalipun jumlah mereka jauh lebih sedikit, memiliki semangat (etos kerja) luar biasa dan tidak mengenal putus asa. Meski jumlah mereka sedikit, namun hasilnya, tentara Thalut yang berpuasa biasa bisa memporak-porandakan pasukan Jalut yang banyak dan dapat makan dan minum kapan saja itu.

Kisah di atas menjadi pertanda bahwa puasa sama sekali tidak menghalangi pekerjaan dan produktivitas seseorang. Kekuatan dan kemampuan fisik dan psikis manusia tidak sebangun dengan apa-apa yang dikonsumsinya. Bahwa makan dan minum yang sedikit dan dibarengi dengan semangat dan etos kerja yang luar biasa dapat mengalahkan mereka pasukan yang dibekali dengan makanan dan minuman yang berlebihan. Makan dan minum yang tidak diniatkan untuk beribadah akan menjadi sia-sia. Hal ini juga bisa dibuktikan terhadap mereka yang senantiasa memperturutkan keinginan perutnya, hingga mereka tidak sadar bahwa tubuh yang seharusnya menjadi tenpat bagi penampungan terhadap makanan dan minuman ternyata tidak sanggup menahan semua yang masuk ke dalam tubuh ini.

Melaksanakan ibadah puasa Ramadhan tahun ini mestinya tidak mengurangi kreativitas dan produktivitas kerja. Puasa yang kita jalani dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah swt akan mendatangkan berbagai macam kenikmatan, kesehatan bahkan kemenangan. Dengan niat dan tekad yang kuat bahwa puasa adalah kewajiban yang harus dijalani dengan ikhlas dan sabar, insya Allah energi kita tidak akan berkurang karena menahan makan dan minum. Makan dan minum  hanyalah sebatas sarana, namun kebulatan tekad dalam jiwalah yang akan menjadi pemompa semangat kita.

Berkurangnya semangat kerja karena puasa mungkin disebabkan rendahnya keikhlasan dan kesabaran yang tertanam dalam jiwa kita. Keikhlasan dan kesabaran adalah jalan menuju kemenangan yang hakiki. Keikhlasan dan kesabaran menjadi juga menjadi pembuka bagi diberikannya pahala yang besar bagi mereka yang menjalankan ibadah dengan ikhlas dan sabar. Keikhlasan dan kesabaran perlu terus kita tanam dan pupuk agar mengeluarkan energi kerja yang maksimal, meski secara lahir makan dan minum kita berkurang. Dengan semangat dan etos kerja yang tinggi puasa di tahun ini akan kita jalani dengan penuh manfaat dan hasilnya akan didapat di dunia dan akhirat.

16
Feb
11

Puasa dan Nilai Ketaqwaan

PUASA DAN NILAI-NILAI KETAKWAAN
Secara jelas  Al-Quran  menyatakan  bahwa  tujuan  puasa  yang hendaknya  diperjuangkan  adalah untuk mencapai ketakwaan atau la'allakum tattaqun. Dalam  rangka  memahami  tujuan  tersebut agaknya perlu digarisbawahi beberapa penjelasan dari Nabi Saw.misalnya,  "Banyak  di  antara  orang  yang   berpuasa   tidak memperoleh   sesuatu  dari puasanya,  kecuali  rasa  lapar  dan dahaga."
Ini berarti bahwa menahan diri dari  lapar  dan  dahaga  bukan tujuan  utama dari puasa. Kegiatan ini hanyalah sebagian kecil daripada amalan puasa. Hal ini dikuatkan pula dengan firman-Nya bahwa  "Allah   menghendaki   untuk   kamu   kemudahan   bukan kesulitan."
Di sisi  lain,  dalam  sebuah  Hadits  qudsi, Allah berfirman,
"Semua amal putra-putri Adam  untuk  dirinya,  kecuali  puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya."
Ini  berarti pula bahwa puasa merupakan satu ibadah yang unik. Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang dapat  dikemukakan, misalnya  bahwa  puasa  merupakan  rahasia  antara  Allah  dan pelakunya  sendiri.  Bukankah  manusia  yang  berpuasa   dapat bersembunyi  untuk  minum  dan  makan? Bukankah sebagai insan, siapa pun yang berpuasa, memiliki keinginan untuk  makan  atau minum  pada  saat-saat  tertentu  dari  siang hari puasa? Nah, kalau demikian, apa motivasinya  menahan  diri  dan  keinginan itu?  Tentu  bukan karena takut atau segan dari manusia, sebab jika demikian,  dia  dapat  saja  bersembunyi  dari  pandangan mereka.   Di  sini  disimpulkan  bahwa  orang  yang  berpuasa, melakukannya karena  Allah  Swt.  Demikian  antara  lain penjelasan  sementara  ulama  tentang keunikan puasa dan makna hadis qudsi di atas.
Sementara pakar ada  yang  menegaskan  bahwa  puasa  dilakukan manusia   dengan   berbagai  motif,  misalnya,  protes,  turut belasungkawa,  penyucian  diri,  kesehatan,  melakukan ritual-ritual tertentu dan  sebagainya. Tetapi  seorang  yang  berpuasa  Ramadhan dengan benar, sesuai dengan cara yang dituntut oleh Al-Quran, maka pastilah ia akan melakukannya karena Allah semata. Di sini  Anda  boleh bertanya, "Bagaimana puasa yang demikian dapat mengantarkan manusia kepada  takwa?"  Untuk  menjawabnya terlebih  dahulu  harus  diketahui  apa  yang  dimaksud dengan takwa.
Puasa dan Nilai-nilai Ketakwaan        
Takwa  terambil  dari  akar  kata  yang  bermakna  menghindar, menjauhi,  atau  menjaga  diri.  Kalimat  perintah  ittaqullah yang secara harfiah berarti, "Hindarilah,  jauhilah,  atau  jagalah dirimu dari Allah"
Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari  Allah  atau menjauhi-Nya,  sedangkan "Dia (Allah) bersama kamu di manapun kamu berada." Karena itu perlu disisipkan  kata  atau  kalimat untuk  meluruskan  maknanya.  Misalnya  kata  siksa  atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung  arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.
Syaikh Muhammad Abduh menulis, "Menghindari siksa atau hukuman Allah  diperoleh  dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa  yang  diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah Swt ). Rasa  takut  ini,  pada mulanya  timbul  karena  adanya  siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah Swt. (yang menyiksa)."
Perasaan takut akan siksa Allah akan menjadikan manusia untuk senantiasa taat dan bersungguh sungguh untuk menjauhkan diri bermaksiat kepada-Nya. Dari perasaan takut ini akan senantiasa menjadikan manusia untuk selalu merasakan keberadaan Allah di sampingnya. Bahwa Dia-lah yang Maha Mengetahui akan apa yang sedang dia kerjakan. Dengan demikian orang yang  bertakwa  adalah  orang  yang  merasakan kehadiran  Allah  Swt. setiap saat, seperti disebutkan dalam salah satu Hadits "Bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadari  bahwa  Allah  melihatnya.”
Tentu banyak cara yang  dapat  dilakukan  untuk  mencapai  hal tersebut,  antara  1ain  dengan  jalan berpuasa. Puasa seperti yang  dikemukakan  di  atas  adalah  satu  ibadah  yang  unik. Keunikannya  antara  lain  karena  ia  merupakan upaya manusia meneladani Allah Swt. Suatu tindakan yang sangat terpuji jika manusia benar-benar ingin meneladani sifat-sifatnya Allah Swt.
Puasa Meneladani Sifat-sifat Allah swt
Beragama  menurut  sementara  pakar   adalah   upaya   manusia meneladani  sifat-sifat Allah, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai  makhluk.  Nabi  Saw.  memerintahkan,  "Takhallaqu  bi akhlaq Allah" (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).
Meneladani sifat-sifat Allah adalah sesuatu yang diperintah oleh Nabi saw. Bahwasanya Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Damai, Maha Kuat, Maha Mengetahui dan lain-lain. Kesemuanya itu tidak akan tercapai kecuali setelah manusia sudah mendapatkan derazat ketaqwaannya. Dengan berpuasa kita bisa berupaya untuk meneladani sifat-sifat Allah tersebut. Karena puasa berusaha menjaga diri kita dari sesuatu yang membatalkan puasa, artinya menjauhkan diri dari pada maksiat kepada-Nya. Upaya meneladani sifat Allah swt mutlak dilakukan karena upaya  peneladanan  ini  dapat mengantarkan  manusia  menghadirkan  Tuhan dalam kesadarannya, dan  bila  hal  itu  berhasil  dilakukan,  maka  takwa   dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.
Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran  tersebut  --bukan  pada  sisi  lapar  dan  dahaga--sehingga   dari   sini  dapat  dimengerti  mengapa  Nabi  Saw.menyatakan bahwa, "Banyak orang yang  berpuasa,  tetapi  tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga." Hadits ini memberikan gambaran kepada kita bahwa betapa banyak diantara kaum muslimin yang melaksanakan ibadah puasa namun tidak ada yang didapatkan dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus saja.
Keistimewaan Bulan Ramadhan
Dalam  rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang puasa, Allah menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan pada ayat lain dinyatakannya bahwa Al-Quran turun pada malam Qadar. Ini berarti bahwa di bulan Ramadhan terdapat malam Qadar  itu, yang  menurut  Al-Quran  lebih  baik  dari  seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Jibril) silih berganti turun  seizin  Tuhan, dan kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.
Di sisi lain --sebagaimana disinggung pada awal uraian—bahwa dalam rangkaian ayat-ayat puasa Ramadhan, disisipkan ayat yang mengandung   pesan   tentang   kedekatan   Allah  Swt.  Kepada hamba-hamba-Nya serta janji-Nya untuk mengabulkan doa  --siapapun yang dengan tulus berdoa.
Dari   hadis-hadis  Nabi  diperoleh  pula  penjelasan  tentang keistimewaan  bulan  suci  ini.  Namun  seandainya  tidak  ada keistimewaan  bagi  Ramadhan  kecuali Lailat Al-Qadr, maka hal itu pada hakikatnya telah cukup untuk  membahagiakan  manusia. Karena ibadah di malam lailat al-Qadar lebih baik dari pada seribu bulan.
Kebahagiaan yang akan diterima oleh umat manusia tentu tidak akan sebanding dengan apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Karena itu, agama memerintahkan manusia untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan ini. Keistimewaan yang dijanjikan Allah di bulan suci ini tidak akan dijumpai di bulan-bulan yang lain. Pelipat gandaan pahala yang dilakukan pada bulan puasa ini hendaknya memotivasi manusia untuk memperbanyak ibadah. Ibadah yang dilakukan dengan penuh ketulusan akan menjadikan kita sebagai insan yang bertaqwa seperti yang telah dijelaskan di atas. Dan nilai-nilai taqwa itu akan terpancar di hari-hari setelah bulan Ramadlan.

 

 

16
Feb
11

Hakikat Taqwa

HAKIKAT TAQWA

Pada setiap kesempatan dalam kehidupan kita sehari–hari kita sering mendengar kata-kata taqwa, bahkan setiap sholat Jum’at khotib selalu mengajak kepada ketaqwaan karena itu merupakan rukun khutbah. Tetapi apa sebenarnya taqwa itu sendiri, mengapa Islam sangat menekankan kepada pemeluknya untuk mempunyai predikat taqwa ?

Bapak dan ibu yang kami hormati. Taqwa sebenarnya lahir dari sebuah keimanan yang kokoh yang selalu dipupuk dengan perasaan diawasi Allah, merasa takut terhadap murka dan adzabnya dan selalu berharap atas limpahan karunia dan maghfirohNya.

Atau sebagaimana di katakan oleh para ulama taqwa adalah hendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam laranganNya dan tidak kehilangan kamu dalam perintah-perintahNya. Dalam Al Qur’an perintah dan sokongan untuk melaksanakannya banyak ditemukan, bahkan hampir di setiap halaman pasti kita temukan kalimat taqwa. Begitu juga dalam kehidupan para sahabat dan salafussoleh.
Sahabat Umar bin Khottob r.a. Bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang taqwa, Ubai r.a. Menjawab “Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh duri?” “Ya”, jawab Umar “Apa yang anda lakukan saat itu?” “Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati” “Itulah taqwa”jawab Ubai r.a.

Berpijak dari jawaban Ubai bin ka’ab itulah Sayyid Qutb berkata dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an: “Itulah taqwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut, terus menerus selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan.
Jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, harapan semu atas segala sesuatu yang tidak bisa diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti dan masih banyak duri-duri yang lainnya”.

Cukup lah kiranya, keutamaan dan pengaruh taqwa merupakan sumber segala kebaikan di masyarakat, sebagai satu-satunya cara untuk mencegah kerusakan, kejahatan dan perbuatan dosa. Taqwa merupakan pilar utama dalam pembinaan jiwa dan akhlaq seseorang agar dapat menghadapi tantangan kehidupan ini. Agar ia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dan agar ia bersabar atas segala ujian dan cobaan.

Ada beberapa jalan yang harus ditempuh seorang mukmin untuk mencapai sifat taqwa :

Pertama, Mu’ahadah (mengingat perjanjian dengan Allah) dalam QS An Nahl 16:91 Allah berfirman:

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan jangan lah kamu membatalkan sumpah2mu itu sesudah meneguhkannya…”

Cara mu’ahadah adalah dengan menyendiri ( berkholwat) antara dia dan Allah untuk mengintrospeksi diri seraya mengatakan pada dirinya: “Wahai jiwaku, sesungguhnya kamu telah berjanji kepada robbmu setiap hari disaat kamu berdiri membaca”.

“Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan”

Berkholwat bukanlah bersemedi, karena dalam Islam telah disediakan sarana untuk selalu mengingat perjanjian ini. Bila kita mengharuskan diri untuk komitmen kepada apa yang telah kita ikrarkan 17 kali dalam sehari semalam dan mewajibkan diri untuk menuju ikrar tersebut berarti kita telah menuju tangga taqwa. Itulah makanya dalam QS Al Mukminun :2 dikatakan bahwa “orang-orang yang khusyu dalam sholatnya mereka termasuk golongan yang menang (Taqwa)” dan dalam QS Al Ma’arij 70 : 22-23 bagi orang-orang yang konsiten dalam sholat (daimun) akan mendapatkan balasan surga dari Allah. “Kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat yang mereka itu daim (tetap) mengerjakan sholatnya”

Bapak dan ibu yang kami mulaikan

Kedua, Muroqobah (merasakan kesertaan Allah) landasan muroqobah dapat kita temukan dalam surat As Syu’ara 26:218-219) yang terjemahannya
“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri dan melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang yang sujud”

Dalam sebuah hadits ketika nabi saw ditanya tentang ihsan beliau menjawab :
“Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya dan jika memang kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Allah melihat kamu” (HR Bukhori dan Muslim).

Cara muroqobah adalah hendaklah sebelum memulai pekerjaan atau amal seorang mukmin memeriksa dirinya. Apakah setiap gerak dan ketaatannya dimaksudkan untuk kepentingan pribadi dan mencari poppularitas atau karena dorongan ridho Allah dan mencari pahalaNya. Jika memang karena ridho Allah maka ia akan tetap melaksanakannya walaupun hawa nafsunya tidak setuju dan ingin meninggalkannya. Jadi dalam setiap pekerjaan kita hendaklah menyertakan doa-doa yang telah diajarkan atau minimal kita mengucapkan basmalah dan ketika niat kita menyimpang selalu kita koreksi terus menerus pada saat kita melakukan suatu amal atau pekerjaan. Itulah hakikat ikhlas, hakikat pembebasan diri dari penyakit nifaq dan riya’ dan orang-orang yang ikhlas (mukhlisun) adalah orang-orang yang bertaqwa.

Ketiga, Muhasabah (Introspeksi diri), dasarnya terdapat dalam surat Al Hasyr:18

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Muhasabah berarti hendaklah seorang mukmin munghisab (menghitung-hitung) dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan apakah tujuan amalnya untuk mendapatkan ridho Allah? Atau apakah amalnya dirembesi sifat riya’? apakah dia sudah memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak manusia?

Sahabat Umar bin khottob ra. Pernah berkata : “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang dan bersiap-siaplah untuk mengikuti pertunjukan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satupun”. Jika kita telah dapat menghisab diri dalam urusan yang besar maupun dan berusaha keras melakukan kholwat ( menyendiri bersama Allah) dimalam hari dengan Allah untuk melihat apa yang akan dipersembahkan di hari kiamat nanti…. Maka dengan demikian saudara telah melangkah menuju taqwa dan menapaki perjalanan rohani bahkan akhirnya kita akan sampai kederajat para muttaqien.

Keempat, Mu’aqobah (pemberian sanksi) dasar mu’aqobah dalam Al Qur’an di penggalan Surah Al Baqoroh:178) “Dan dalam qishosh itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa”

Mu’aqobah berarti hendaklah seorang mukmin apabila menemukan kesalahan maka tak pantas baginya untuk membiarkannya. Sebab membiarkannya akan mempermudah terlanggarnya kesalahan-kesalahan yang lain dan akan semakin sulit untuk meninggalkannya, bahkan sebaiknya kita memberikan sanksi dengan sanksi yang mubah. Sahabat Umar al faruq suatu ketika pernah disibukkan oleh suatu urusan sehingga waktu maghrib lewat sampai muncul dua bintang. Maka setelah melakssanakan sholat maghrib beliau memerdekakan dua orang budak.

Bapak dan ibu yang kami muliakan

Kelima, Mujahadah (Optimalisasi) dalam QS Al Ankabut: 69
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”

Seorang mukmin dalam beramal dan beribadah harus memaksa dirinya melakukan amal-amal sunnah (sesuai tuntunan Nabi Muhammad saw) dan dalam hal ini ia harus tegas, serius dan penuh semangat sehingga akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan yang mulia bagi dirinya dan menjadi sikap yang melekat pada dirinya. Dalam hal ini cukuplah Rasulullah saw menjadi qudwah yang patut di teladani sebagaimana di riwayatkan oleh Aisyah ra : “Rasulullah saw melaksanakan sholat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Ketika Aisyah ra bertanya “Mengapa engkau lakukan hal itu? Bukankah Allah sudah mengampuni dosamu yang sudah lalu dan yang akan datang?” Rasulullah menjawab:”Bukankah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur? (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah juga menekankan kepada orang-orang beriman untuk bermujahadah dalam beribadah hal ini terungkap dalam hadits qudsi: “Dari abu Hurairoh ra rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya Allah berfirman “Tidaklah seorang hambaKu mendekat kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Kusukai selain dari amalan-amalan wajib dan seorang hambaKu senantiasa mendekat kepadaKu dengan melakukan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Akulah yang menjadi pendengarannya dan sebagai tangan yang digunaknnya untuk memegang dan kaki yang dia pakai untuk berjalan, dan apabila ia memohon kepadaKu pasti Kukabulkan dan jika berlindung kepadaKu pasti Kulindungi””

Bapak dan ibu yang kami muliakan

Selain itu untuk menumbuh subur kan ruhiah kita ada beberapa cara diantaranya :
Dengan mengingat kematian melalui ziarah kubur, takziah orang meninggal atau membesuk orang sakit, membayangkan hari akhirat dan hal ahl yang berkaitan dengannya melalui kisah Al Qur’an dan hadits nabi, banyak membaca dan mentadaburi (mengkaji) Al Qur’an, berzikir kepada Allah dalam setiap waktu dan keadaan, bersahabat dengan orang-orang sholeh, dan memperbanyak ibadah-ibadah wajib maupun sunnah. Demikianlah semoga kita diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk berusaha menjadi orang-orang yang bertaqwa dan kita menganggap hal-hal diatas dapat kita laksanakan walaupun sedikit demi sedikit dan bertahap karena memang aturan Islam bukanlah aturan yang tidak dapat diterapkan.

 

16
Feb
11

Meraih berkah ramadhan

Meraih Berkah Ramadhan

 

Ramadhan adalah bulan yang suci, bulan penuh berkah dan limpahan Allah senatiasa tercurah pada bulan itu. Sebagai bulan penuh berkah, ramadhan menjadi bulan yang ditunggu-tunggu oleh kaum Muslimin. Karena, pada bulan inilah segala amal ibadah di lipat gandakan pahalanya. Lebih dari itu, ramadhan dijadikan sebagai latihan bagaimana kita memelihara diri kita dari godaan hawa nafsu.

Kewajiban berpuasa tersurat dalam surat al-Baqarah: 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”. Ayat di atas menunjukkan bahwa tujuan puasa adalah menciptakan  ketaqwaan kepada Allah. Dengan bertaqwa seorang hamba akan selalu taat dan patuh kepada Tuhannya. Hal ini tidak lain karena ketaqwaan adalah tanda bagi kemuliaan seseorang. (QS. Al-Hujurat: 13)

Jika kita melirik kehidupan para sahabat, kita bisa melihat bagaimana para sahabat menata kehidupannya. Mereka membagi dua belas bulan menjadi dua bagian. Enam bulan pertama mereka memohon kepada Allah agar bisa bertemu Ramadhan dan menjalankan ibadah didalamnya dengan sebaik-baiknya. Pada enam bulan kedua mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka di bulan Ramadhan diterima oleh-Nya. Hal ini berarti bahwa Ramadhan adalah bulan dimana mereka mengasah keimanan dan menjadikan suasana bulan Ramadhan senantiasa hadir di bulan-bulan setelahnya.

Ramadhan merupakan langkah pertama dimana kita akan memulai bulan-bulan setelahnya. Pada bulan Ramadhan, Allah ta’ala memberikan keistimewaan yang tidak diberikan pada bulan-bulan yang lain. Diantara keistimewaan bulan Ramadhan antara lain: pertama; pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Hal tersebut dapat dipahami bahwa peluang untuk masuk surga begitu besar, karena pada bulan ini Allah melipat gandakan amal ibadah dari hamba-Nya. Semakin banyak seorang hamba menjalankan ibdah, semakin besar pula pahala yang dia dapatkan. Seperti disabdakan oleh Nabi saw: “Barang siapa ber-taqarub (mendekatkan diri) kepada-Nya (di bulan Ramadhan) dengan suatu kebaikan, ia bagaikan melakukan suatu kewajiban di bulan yang lainnya. Barang siapa melakukan kewajiban pada bulan ini, maka ia sama dengan melakukan tujuh puluh kali amalan wajib di bulan lainnya”. (HR. Ibnu Huzaimah). Sementara itu, peluang masuk neraka menjadi kecil, karena kecil kemungkinan kita berbuat maksiat di bulan suci ini, hal ini dikarenakan perbuatan maksiat di bulan ini bisa membatalkan atau paling tidak akan mengurangi nilai puasa seseorang.

Kedua; setan-setan dibelenggu. Setan-setan yang selama ini menggoda iman manusia, dan selalu mendorongnya untuk berbuat maksiat, pada bulan itu dibelengggu. Setan-setan yang dibelenggu bukan berarti seseorang tidak akan bermaksiat di bulan ini. Hal ini dikarenakan manusia memiliki hawa nafsu, sementara setan bertugas untuk me-“ngipasi” hawa nafsu tersebut.

Ketiga; menghapus dosa-dosa yang sebelumnya. Puasa yang dilakukan dengan keimanan dan pengharapan akan ridho Allah akan menghapus dosa-dosa yang sebelumnya. Ini merupakan hadiah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh. “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridho Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu”. (muttafaq alaihi).

Puasa sebagai pengendalian diri

Bila dikaji lebih dalam, maka kita bisa menyimpulkan bahwa salah satu tujuan dari puasa adalah pengendalian diri. Pengendalian diri yang dijalani selama berpuasa, mencerminkan bahwa setiap orang harus bisa mengendalikan dirinya. Banyak sekali kita menyaksikan kehancuran akibat manusia tidak mampu mengendalikan diri dan hawa nafsunya. Dari sikap pengendalian diri itu, maka manusia akan senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan memperturutkan hawa nafsu.

Sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, kita diberikan oleh jalan agar kita bisa memperbaiki diri dari hari ke hari. Bulan Ramadhan merupakan jalan untuk memperbaiki sikap dan perbuatan kita. Setiap hari di bulan Ramadhan adalah jalan menuju kepada kesempurnaan ibadah. Ibarat orang yang menaiki pohon, semakin tinggi ia menaiki pohon tersebut, semakin tinggi pula hembusan angin yang menerpanya. Begitu pula dengan menjalankan ibadah puasa. Puasa yang dilakukan dari hari-hari bagaikan ujian yang harus ditempuh bagi pelajar atau mahasiswa yang ingin mendapatkan ijazah kelulusan. Jika kita berhasil menempuh puasa dengan baik, maka ijazah kelulusan kita adalah derazat ketaqwaan seperti yang telah dijanjikan Allah. (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Pada awal bulan Ramadhan kita bergembira dengan antusiasme kaum Muslimin dalam menyambut awal puasa. Di mulai dengan penuhnya jama’ah yang menghadiri tarawih di mesjid, warung-warung makan yang tutup di siang hari dan sebagainya. Namun, sayangnya hal semacam itu tidak lagi terlihat pada hari-hari berikutnya. Masjid-masjid menjadi sepi, warung makan kembali buka dan suasana Ramadhan menjadi sirna karena kesibukan kita dalam menghadapi lebaran. Sikap pengendalian diri terhadap hal-hal yang bisa mengurangi nilai puasa mutlak diperlukan agar kita tidak terjebak dengan keadaan yang terjadi selama ini.

Memaknai Ramadhan

Ramadhan yang kita jalani sekarang adalah lanjutan dari Ramadhan yang pernah kita jalani sebelumnya. Sebagai orang yang beriman tentunya kita tidak boleh melakukan kesalahan dua kali pada tempat yang sama. Ramadhan yang telah berlalu hendaknya menjadi pelajaran bagi kita untuk menjalani Ramadhan sekarang dengan lebih baik.

Agar Ramadhan bermakna, kita harus bersiap diri untuk menghadapinya. Ada beberapa persiapan yang bisa dilakukan. Pertama; memupuk kerinduan dan kecintaan terhadap Ramadhan. Dalam memupuk kecintaan pada bulan Ramadhan salah satunya dengan berdoa. Rasul mencontohkan sebuah doa menjelang Ramadhan yang artinya: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”. Doa yang disebutkan Nabi memberikan gambaran akan kemuliaan bulan Ramadhan. Bahkan beliau menjelaskan jika saja kita mengetahui akan besarnya berkah di bulan Ramadhan ini, maka pastilah kita ingin agar setiap bulan dalam satu tahun itu Ramadhan semuanya. Keinginan agar setiap bulan menjadi bulan Ramadhan sepenuhnya tentu tidak mungkin terjadi. Yang mungkin kita lakukan adalah bagaimana menjadikan suasana Ramadhan senantiasa hadir di setiap bulan yang kita jalani.

Kedua; menyiapkan diri dengan baik. Hati, akal dan fisik harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Hati dipersiapkan untuk senantiasa berdzikir dan membaguskan perasangka kita kepada Allah. Seringkali kita lupa dalam mengingat Allah, terkadang kita berprasangka buruk terhadap Allah, maka Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki semua itu. Kemudian, akal digunakan untuk mendalami ilmu yang berkaitan dengan Ramadhan. Ilmu dan keihlasan menjadi faktor penting dalam menentukan diterima atau tidaknya ibadah kita. Demikian pula ibadah Ramadhan. Tanpa ilmu seseorang berpotensi melakukan kesalahan. Ia menganggap bahwa ia telah menjalankan puasa dengan sebaik-baiknya, padahal sungguh ia telah salah dalam melaksanakannya. Kemudian fisik. Fisik juga harus dipersiapkan dengan cara menjaga kesehatan, kebersihan olah raga dan lain-lain. Kesehatan fisik menjadi sangat penting, hal dikarenakan ibadah di bulan Ramadhan memerlukan fisik yang prima. Jika kita tidak bisa melaksanakannya akibat gangguan kesehatan maka ibadah yang kita lakukan tidak akan maksimal.

Ketiga; merencanakan prestasi ibadah setiap hari di bulan Ramadhan. Kita tidak ingin agar Ramadhan kali ini sama dengan Ramadhan tahun lalu, apalagi lebih jelek dari tahun lalu. Seperti yang telah disampaikan Nabi, bahwa orang yang amal ibadahnya hari ini sama dengan hari kemarin sungguh ia telah merugi. Dan orang yang amal ibadahnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin maka ia tercela.

Ramadhan adalah bulan penuh berkah, menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya di bulan ini akan memberikan arti yang lebih mendalam bagi yang menjalaninya. Orang-orang yang menjalani ibadah dengan sebaik-baiknya merekalah yang akan mendapatkan keberkahan di bulan Ramadhan ini.