Arsip untuk Januari, 2010

21
Jan
10

Kontroversi Hukuman Mati (kajian fiqh)

Kontroversi Hukuman Mati (Kajian Fiqh)

Andi Mardian, Lc. MA

Hukuman mati sebagai sebagai salah satu legal hukum di Indonesia kembali diperbincangkan dan menjadi suatu kontroversi. Kotroversi ini muncul manakala vonis pengadilan dirasa kurang adil terutama bagi pelaku dan orang-orang yang selama ini menentang hukuman mati. Pihak yang menolak hukuman mati menganggap hukuman tersebut melanggar HAM, UUD 45 dan tidak relevan lagi dengan keadaan sekarang. Mereka yang menaruh kepedulian terhadap HAM senatiasa berpandangan bahwa kewenangan mencabut hak untuk hidup merupakan pelanggaran terhadap HAM dan merampas hak hidup yang merupakan hak dasar dan tidak tergantikan dalam diri seseorang. Sementara pihak yang setuju beralasan bahwa hingga saat ini hukuman mati masih sangat relevan untuk diterapkan terutama terhadap suatu kejahatan yang sangat biadab dan membahayakan orang banyak. Pihak yang setuju menegaskan bahwa penolakan terhadap hukuman mati hanya berlaku pada sisi si pelaku saja, tanpa melihat sisi kemanuisan dari korban, keluarga dan masyarakat yang bergantung kepada si korban. Kontroversi kedua belah pihak tidak pernah selesai jika keduanya masih mempertahankan argumentasinya masing-masing.

Hukuman mati dalam pandangan fiqh

Dalam kitab fiqh, kita mengenal istilah jinayat (kejahatan terhadap jiwa seseorang / penganiayaan) dan jarimah (kejahatan yang diancam dengan hukuman). Dalam istilah hukum keduanya sering diebut dengan delik atau tindak pidana. Dalam terminologi hukum Islam jinayah adalah perbuatan yang dilarang oleh syara’ seperti membunuh, melukai, memotong anggota dan menghilangkan manfaat badan.

Dalam fiqh terdapat tiga macam jarimah (kejahatan) yang harus mendapatkan ‘uqubah (hukuman/balasan), yaitu hudud, qishosh diyat, dan ta’zir. Pertama; Hudud, merupakan kejahatan yang paling serius dan berat dalam fiqh. Ia adalah kejahatan terhadap kepentingan publik, dan perbuatan melanggar hukum yang jenis dan ancaman hukumannya ditentukan nahs (teks al-Qur’an/Hadits) terutama sekali berkaitan dengan hak Allah. Kejahatan ini diancam dengan hukuman hadd (batasan hukuman yang ditegaskan dalam al-Qur’an). Hukuman hadd yang dimaksud tidak mempunyai batas terendah dan tertinggi serta tidak bisa dihapuskan oleh perorangan (si korban atau walinya) atau masyarakat yang mewakili (ulil amri). Para ulama’ sepakat bahwa yang menjadi kategori dalam jarimah hudud ada tujuh, yaitu zina, qodzf (menuduh zina), sirq (mencuri), hirobah (perampok dan penyamun), surbah (minum-mnuman keras), dan riddah (murtad).

Kedua adalah qishosh diyyat, qishash (suatu kejahatan dimana pihak korban dan pelaku dalam status yang sama) yang berada pada posisi diantara hudud dan ta’zir dalam hal beratnya hukuman. Diyat (denda) yaitu hukuman berupa pembayaran ganti rugi terhadap pihak korban penganiayaan atau pembunuhan. Baik qishosh maupun diyat merupakan hukuman yang telah ditentukan batasannya, tidak ada batas terendah dan tertinggi tetapi menjadi hak perorangan (si korban dan walinya), ini berbeda dengan hukuman had yang menjadi hak Allah semata. Penerapan hukuman qishosh diyat ada beberapa kemungkinan, seperti hukuman qishosh bisa berubah menjadi hukuman diyat, hukuman diyat apabila dimaafkan bisa dihapus. Yang termasuk dalam kategori jarimah qishosh diyat antara lain qotl al-‘amdi (pembunuhan sengaja), qatl syibh al-‘amdi (pembunuhan semi sengaja), qotl al-khotho (pembunuhan keliru), jarh al-‘amdi (penganiayaan sengaja) dan jarh al-khotho (penganiayaan salah). Pembayaran diyat masa kini diganti dengan pembayaran sejumlah uang yang besarnya ditentukan oleh pengadilan yang berwenang. Pada tahun-tahun belakangan ini, Arab Saudi menetapkan denda pembunuhan tidak sengaja sebesar 6.000 dollar Amerika.

Ketiga ta’zir (peringatan) yang merupakan hukuman paling ringan diantara jnis-jenis hukuman yang lain. Jenis sanksinya secara penuh ada pada wewenang penguasa demi terealiasinya kemaslahatan umat. Dalam hal ini unsur akhlak menjadi pertimbangan paling utama. Misalnya pelanggaran terhadap lingkungan hidup, lalu lintas dan pelanggaran lainnya. Dalam penetapan jarimah ta’zir prinsip utama yang mejadi acuan penguasa adalah menjaga kepentingan umum dan melindungi setiap anggota masyarakat dari kemadhorotan (bahaya). Disamping itu, penegakan jarimah ta’zir harus sesuai dengan prinsip syar’i.

Ketiga kategori tersebut merupakan qishash bagi mereka yang melakukan perbuatan jarimah di muka bumi. Disyari’atkannya qishash terdapat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah/2: 179: “Dan dalam (hukum) qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa”. Maksudnya, disyari’atkannya hukum qishash bagi kalian, yakni bagi kalian terdapat hikmah yang besar yaitu menjaga jiwa. Sebab jika si pembunuh mengetahui bahwa ia akan dibunuh lagi maka ia akan takut melakukan pembunuhan. Itulah yang dimaksud bahwa qishash merupakan jaminan hidup bagi manusia yang berakal.

Esensi hukuman mati dalam Islam

Ada dua fungsi hukuman dalam Islam. Yaitu jawazir: mencegah kejahatan yang lebih besar. Penerapan hukuman akan membawa, bahkan orang-orang yang lemah iman dan ketaqwaannya pun takut untuk melakukan kejahatan. Dengan demikian, ketentraman masyarakat akan terjaga. Kedua jawabir, penebus bagi pelaku. Artinya, dosa-dosa pelaku akan terampuni dan ia tidak akan dituntut lagi di akhirat. Sanksi akhirat bagi seorang muslim akan gugur oleh sanksi yang dijatuhkan negara di dunia. Inilah yang menyebabkan dalam kondisi kaum muslimin berada dalam tingkat ketaqwaan tinggi, maka hukuman tidak akan banyak dijatuhkan. Adapun bagi yang melanggar, mereka sangat ingin segera dihukum agar dosanya tertebus.

Dari pengertian di atas, dapat kita simpulkan bahwa konsep atas vonis hukuman mati yang diterapkan sama sekali tidak bertentangan dengan hak asasi manusia bahkan sejalan dengan konsep setiap agama yang ada di muka bumi ini. Dalam konsep Islam, tujuan penetapan hukuman akan bertumpu pada pemenuhan dan perlindungan terhadap HAM dan kepentingan manusia. Dalam fiqh, kita mengenal konsep maqashid syari’ah yaitu tujuan hukum pidana Islam yang mencakup perlindungan terhadap lima hal yang harus ada pada manusia sebagai ciri atau kelengkapan manusia. Secara berurutan peringkatnya adalah agama, jiwa, akal, harta dan keturunan. Kelima hal ini sering dikenal dengan  dharuriyat al-khams (lima kebutuhan primer).

Selanjutnya, jika ditanyakan apakah vonis hukuman mati bisa menimbulkan efek jera bagi pelaku, kita bisa menjawab bahwa vonis hukuman mati bukan satu-satunya cara dalam mengurangi angka kejahatan. Sebab timbulnya kejahatan muncul dari berbagai factor, baik sosial, politik dan ekonomi. Penerapan hukuman mati harus pula dipandang dengan kepentingan umum khususnya kepentingan para korban pelaku kejahatan. Perbuatan seperti terorisme, pembunuhan, pengedaran narkoba, korupsi dan lain-lain telah menyebabkan jatuh moral, mental dan masa depan seseorang. Bukankah pelaku kejahatan di atas justru telah melanggar HAM yang selama ini kita hormati.

Pro dan kontra ini tidak akan berkhir sampai kapanpun. Oleh sebab itu, pengadilan dalam menetapkan vonis hukuman mati harus dilakukan dengan hati-hati dan sangat terbatas. Keputusannyapun harus diambil secara bulat dan berkekuatan hukum  hingga tidak menciptakan keresahan di masyarakat.



21
Jan
10

Mesir dan al-Azhar

MESIR DAN AL-AZHAR

(Sebuah Catatan Perjalanan)

Andi Mardian, Lc. MA

Egypt has been the main stream of the Islamic sciencies up to the recent days. History, culture and science are the valuable heritage. Al-Azhar is one of the oldest Islamic colege in Egypt. It has given any supports as well as the improvement of Islamic studies. It’s welfare and government support, makes al-Azhar to be one of universities which is honoured whole the world.

I. PENDAHULUAN

Kemajuan suatu negara dapat dilihat dari sejarah panjang kebudayaan negara tersebut. Mesir dengan kebudayaan dan sejarah peradabannya yang panjang, telah menjadikan negeri ini dikunjungi oleh para wisatawan dan para pelajar manca negara untuk menimba ilmu di negeri yang juga dikenal dengan negeri seribu menara. Pyramid, sungai Nil, Terusan Suez, al-Azhar dan beberapa peninggalan lainnya, telah menjadi daya tarik tersendiri bagi negeri ini. Salah satu peninggalan penting yang hingga kini masih bertahan adalah tradisi keilmuan yang ada di universitas al-Azhar. Dengan sejarahnya yang panjang, al-Azhar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah perjalanan dan peradaban negara Mesir.

  1. II. PEMBAHASAN
  2. A. Sejarah Ringkas Negara Mesir

Khazanah peradaban masa lalu telah mangangkat Mesir ke pentas sejarah dunia. Negara yang berada di sudut benua Afrika, sekilas tanpak biasa seperti umumnya negara berkembang, namun menjadi luar biasa dengan kekayaan budaya dan warisan sejarah yang dimilikinya.

Orang Qibti (Mesir Kuno) menyebut negeri ini di zaman dahulu dengan istilah Kemy dan Takemy yang berarti hitam atau tanah yang hitam, sebagai simbol dari warna tanah yang subur. Sedang dalam teks-teks resmi masa Fir’aun istilah Mesir paling kuno adalah Tawey yang berarti dua tanah. Karena secara geografis, Mesir terbagi menjadi dua. Tasymao (Dataran Tinggi/Ardh Sha’id) dan Tsameho (Permukaan Laut/Ardh Wajhul Bahri). Nama ini muncul sejak akhir 4000 tahun yang lalu.[1]

Misr dalam bahasa Semit berarti batas. Bangsa-bangsa Semit yang terdiri dari bangsa-bangsa Asyiria, Aram, Ibrani dan Arab, menyebut daerah yang berada di perbatasan mereka sebagai Misr dan menyebut orang-orangnya dengan Misriyin (orang-orang Mesir). Sekitar abad 9-7 SM, beberapa teks klasik Asyiria menyebut berulang kali nama Mesir, ditulis dengan Mushuriy dan Mashur. Bangsa Persia kuno menyebutnya Mudharaya. Dalam teks Taurat ditulis Mashur dan Misrayem. Juga disebut Yaoriy Mashur yang berarti Nil Mesir dan Iris Misrayem yang berarti tanah kasar. Orang Yunani menyebut Mesir dengan nama Egyptus yang mereka dengar dan diambil dari orang-orang sebelum mereka. Sedangkan bangsa Romawi menyebutnya Aegyptus, yang kemudian dikenal dalam berbagai bahasa Eropa: Egypt, Egypte, Egitto dan Agypten.[2]

Mesir merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Peradaban Islam dimulai ketika ‘Amr bin ‘Ash berhasil memasuki Mesir dan Syiria di musim dingin tahun 639 M. Ketika itu, Khalifah Umar bin Khathab mengerahkan pasukannya melawan dua imperium besar, Persia di Timur dan Byzantium di Barat. Awalnya, ‘Amr bin ‘Ash masuk dan menduduki Pelusium selama 6 bulan, lalu pada tahun 640, dia mulai masuk ke Benteng Babilon yang merupakan sasaran yang sangat strategis. Bersama pasukannya, dia mengalahkan kekuatan Byzantium di Heliopolis pada bulan Juli di tahun yang sama dengan mengepung Babilon yang akhirnya menuntut Kaisar Byzabtium Heraclius menyerah secara penuh kepada kekuatan Muslimin pada April 641 M.[3]

Selama di Mesir, pasukan Islam dapat diterima secara damai oleh masyarakat Mesir yang mayoritas beragama Kristen Koptik dan sekelompok Yahudi. Hal ini dikarenakan Islam sangat toleran dalam beragama, dimana umat Koptik diberi kebebasan untuk menentukan pendetanya yang waktu itu bernama Benjamin.

Segera setelah itu, atas perintah Umar bin Khathab, didirikanlah sebuah kota di samping Benteng Babilon yang menjadi ibu kota kekuasaan Islam di Mesir yang bernama Fusthath. Secara administrasi, ketika itu Mesir tunduk kepada pemerintahan Madinah (bagian provinsi dari wilayah kekhalifahan Islam). Lalu berada di bawah kekuasaan dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus dan terakhir Abasiyah di Baghdad. Sejak itu, Mesir telah diperintah sekitar 80 gubernur, tapi hanya 2 khalifah yang pernah singgah di Mesir: Marwan II, khalifah Umayyah terakhir dan khalifah al-Makmun, putra Harun al-Rasyid dari Abasiyah. Dengan fathu Misr (pendudukan Mesir) ini, secara perlahan Mesir mengalami Arabisasi dan Islam bisa diterima oleh Kristen Koptik. Keadaan ini menjadikan bahasa Arab menjadi bahasa popular yang digunakan masyarakat setempat.

Terdapat beberapa dinasti yang memerintah Mesir hingga kini, diantara dinasti tersebut antara lain:[4]

1. Dinasti Thoulouniyah (868-905 M / 254-292 H)

Didirikan oleh Ahmad bin Thouloun pada tahun 868 M setelah khalifah al-Mu’tazz menunjuknya sebagai gubernur baru di Mesir. Beliau menjadikan Fusthath sebagai ibu kota pertamanya. Beberapa tahun kemudian, perlahan dia meluaskan wilayah kekuasaan dan administrasi dengan membangun kota baru yang dinamakan al-Qatha’i dan menyusun kekuatan pasukan besar di sana. Selama kepemimpinannya, ia berhasil merestorasi dan memulihkan kondisi ekonomi Mesir kala itu. Sepeninggal Ahmad bin Thouloun, pemerintahan digantikan putranya, Khumarawayn yang berkuasa selama 12 tahun (884-896 M). Namun, akhir yang tragis dialaminya manakala ia mati terbunuh. Tampuk kekuasaan kemudian diteruskan oleh kedua orang putranya, Jaysh dan Harun (896-905 M). Instabilitas politik pada masa ini membuat pasukan Abasiyah berhasil merebut kekuasaan yang ada ditangan dinasti ini selama hampir setengah abad. Selama 30 tahun kemudian, Mesir kembali berada dibawah penguasaan langsung pemerintahan pusat di Baghdad. Gubernur baru Mesir dipilih oleh khalifah Abasiyah. Sementara itu, Byzantium mencoba kembali melakukan invasi di Pantai Utara dan menyusun kekuasaan barunya di Selatan. Demikian juga Fatimiyah yang berusaha untuk merebut Mesir. Kondisi ini menuntut khalifah al-Radi segera menunjuk Muhammad bin Tughj sebagai gubernur Mesir tahun 935 M yang dikenal sebagai periode dinasti Ikhsid.

  1. 2. Dinasti Ikhsid (935-969 M / 323-358 H)

Sesuai namanya, kata Ikhsid berasal dari bahasa Iran yang berarti pengatur atau pemimpin. Wilayah kekuasaannya meluas hingga bagian utara dan tengah Syiria serta memiliki kekuatan terbesar di dunia Islam. Karena menganut system monarkhi (kerajaan), otomatis putranya segera memegang tampuk pimpinan selanjutnya. Unujur (946-961 M) dan Ali (961-966 M) yang berkuasa setelah itu tidak banyak membawa perubahan, karena kekuasaan sebenarnya dipegang oleh Kafur (berasal dari Nubah, Aswan) yang berhasil menjalankan pemerintahan selama dua tahun. Berkat usahanya, negara tetap dalam keadaan yang relative aman. Kematiannya di tahun 968 M, diperburuk oleh rentetan musibah seperti surutnya sungai Nil, ancaman kelaparan dan penyeberangan yang berhasil dilakukan oleh Wazir bin Kilis merupakan pertanda akan adanya serbuan dari Fathimiyah. Pengganti Kafur, Ahmad bin Ali tak mampu memukul mundur Fathimiyah, hingga harus melarikan diri ke Syiria.

  1. 3. Dinasti Fahimiyah (969-1171 M / 358-567 H)

Dinasti ini menamakan dirinya dengan Fathimiyah karena mengklaim sebagai keturunan Fathimah putri Muhammad dan Ali, khalifah ke-4. Fathimiyah telah melakukan beberapa penyerangan ke Mesir sejak awal abad ke-10, namun dikalahkan oleh tentara Ikhsid. Pada tahun 969 M, Jauhar al-Shiqili, komandan pasukan khalifah fathimiyah ke-4, Al-Mu’izz li Dinillah, berhasil memasuki Fusthath. Diapun mulai membangun kota baru yang disebut al-Qahirah (kemenangan), terdiri dari tembok berpagar, istana dan mesjid besar al-Azhar.

Jasa terbesar dinasti Fathimiyah dalam pentas sejarah Islam adalah bangunan Jami’ al-Azhar yang berkembang fungsinya dari sekedar masjid menjadi tempat pengajaran dan pendidikan ilmu agama. Perhatian para khalifah terhadap al-Azhar merupakan factor pentin dalam kemajuan lembaga pendidikan tertua ini. Adalah al-Hakim bin Amrillah, penggagas pertama kegiatan wakaf bagi al-Azhar yang diambil dari harta negara dan pajak. Kegiatan mulia tersebut akhirnya diikuti oleh khalifah selanjutnya.

Dinasti Fathimiyah bertahan selama dua abad, berakhir dengan berkuasanya Shalahuddin al-Ayyubi yang membentuk dinasti Ayyubiyah.[5]

  1. 4. Dinasti Ayyubiyah (1171-1250 M / 564-648 H)

Shalahuddin al-Ayyubi dikenal sebagai pemimpin mujahid dalam mempertahankan Jerusalem pada 1187 hingga memancing pecahnya perang salib ke-3 yang dipimpin oleh Frederick Barbarossa dan dibantu Richard I dari Inggris. Pada masa Shalahuddin al-Ayyubi pula orientasi pendidikan di al-Azhar diubah dari Syi’ah menjadi Sunni. Diantara peningalan sejarah pada periode ini dapat kita saksikan berupa benteng pertahanan selama perang di Mesir dulu, yang masih berdiri tegar hingga kini.[6]

  1. 5. Dinasti Mamalik (1250-1517 M / 648-922 H)

Periode dinasti Mamalik dimulai dengan berkuasanya Bahri Mamalik pada 1250-1382 M / 648-783 H. Berdirinya dinasti ini berawal instabilitas pemerintahan beberapa penguasa terakhir dinasti Ayyubiyah. Al-Malik bin al-‘Adli II (1238-1240 M) yang mati dibunuh, lalu diganti oleh Salih Ayyub yang berkeinginan untuk membangun pasukan besar para budak atau mamluk dari Turki yang sebagian besar dibawa ke bagian utara Laut Hitam. Terakhir mereka ditempatkan di sekitar sungai Nil dekat kota Kairo kemudian membentuk dinasti Bahri (sungai) Mamalik.

Selama pemerintahannya, dinasti ini dipimpin oleh 28 penguasa yang berakhir pada 1382 M, setelah itu Mesir di bawah dinasti Burju Mamalik (1382-1517 M / 784-992 H). Sesuai namanya, Burj berarti menara, mereka dinamakan burj karena letaknya berada di kawasan yang tinggi. Pemerintahan dinasti ini berakhir dengan berkuasanya Turki Utsmani di Mesir.[7]

  1. 6. Turki Utsmani (1517-1805 M / 922-1220 H)

Turki Utsmani membangun dinastinya dengan melakukan fath (pembebasan) sebagai salah satu kekuatan di Asia Barat ketika itu. Konstantinopel jatuh ke wilayah kekuasaannya pada 1453 M oleh Muhammad al-Fatih. Di penghujung abad ke-15, mereka terus melawan Persia untuk menguasai Mesopotamia dan Mesir yang tepatnya direbut pada 1516 M. Demikian pula Syiria dan Jazirah Arab di bawah kendali imperium Turki Utsmani. Mesir dikuasai oleh Turki Utsmani dimasa pemerintahan Sultan Salim I, namun pada tahun 1769 Mesir berhasil lepas dari Utsmani selama beberapa periode. Hingga Prancis masuk ke Mesir pertama kali pada bulan Juni 1797 M yang dikenal dengan ekspedisi militer di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte.[8]

  1. 7. Ekspedisi Prancis (1798-1801 M / 1213-1217 H)

Dengan dalih menjaga otoritas wilayah Utsmani di Mesir, disamping menjaga kepentingan para pedagang eropa, invasi Napoleon ke Mesir kenyataannya merupakan bagian dari kampanye matang guna mengawasi rute darat yang akhirnya rute laut ke India, sekaligus menghalangi hegemoni Inggris di Samudera Hindia. Hingga Juli 1798, pasukan Napoleon mendarat dekat Iskandariyah. Sementara itu, kekuatan Utsmani yang dibantu Inggris terus mengadakan penyerangan dari Abu Qir pada Juli 1799. Beberapa waktu kemudian, Napoleon meninggalkan Mesir dan memberikan mandat kepada Jenderal Kleber sebagai gubernur. Setelah peperangan antara pasukan Utsmani dengan Prancis, akhirnya Prancis bisa diusir berkat persekutuan antara Utsmani, Inggris dan Mamalik. Mesirpun kembali jatuh ke tangan Turki Utsmani pada bulan oktober 1801.

Babak berikutnya terjadi perebutan kekuasaan antara Turki Utsmani dengan Mamalik serta beberapa golongan yang ada di Mesir. Akhirnya, kekuasaan yang ada di Mesir berhasil dipegang oleh Muhammad Ali Pasha di bulan Juli 1805.

  1. 8. Muhammad Ali (1805-1953 M / 1220-1372 H)

Untuk membantu Mamalik yang tersingkir dari kekuasaannya di Mesir, Inggris melakukan agresi militer serta menaklukkan Iskandariyah pada bulan Maret 1807. Namun, berkat kelihaian Muhammad Ali dalam berdiplomasi, di tahun yang sama dia berhasil mencapai kesepakatan untuk memaksa Inggris keluar dari Iskandariyah pada bulan Agustus 1807.

Dimasa Muhammad Ali, kekuasaan Mesir meluas sampai ke Sudan, Syiria, bahkan para tentaranya turut berperang bersama Turki dikepulauan Yunani, Asia Kecil hingga Eropa Timur. Malangnya, Muhammad Ali kemudian diasingkan oleh Sultan Utsmani atas tekanan Inggris pada tahun 1840. Sesudah Muhammad Ali Pasha, Mesir diperintah oleh Abbas I (1848-1854) dan Sa’id Pasha (1854-1863). Hanya saja, di masa mereka, Mesir mengalami penurunan, hingga muncul seorang pemimpin besar bernama Khedive Ismail (1863-1879 M) yang memperbaiki kembali kehidupan sosial politik Mesir.

Sementara itu, terusan Suez mulai direncanakan oleh Ferdinand de Lesseps pada masa Sultan Sa’id Pasha tahun 1857 dan mulai digali pada 25 April 1859. terusan ini pertama kali dibuka pada tanggal 17 November 1869, kala Khedive Ismail masih memimpin.  Berhubung Mesir banyak mengalami kemerosotan dalam bidang ekonomi dengan pembukaan Terusan Suez, ditambah banyaknya campur tangan pemerintah asing, akhirnya Sultan Utsmani menurunkan Khedive Ismail dari jabatannya pada tahun 1879, lalu digantikan oleh anaknya, Taufiq. Sewaktu pemerintahan Taufiq (yang dekat dengan Inggris) inilah terjadi beberapa peristiwa politik penting, diantaranya adalah revolusi yang dipimpin oleh Omar Orabi. Menghadapi saat-saat genting seperti ini, Inggris kembali melakukan agresi militer ke Mesir. Setelah pertempuran beberapa kali di kawasan delta, mereka terus bergerak dan berhasil menguasai Kairo pada 14 Desember 1882. Inggris baru melepaskan Mesir dari Turki Utsmani pada tahun 1914, karena Mesir membantu Turki dalam perang dunia ke 1.[9]

  1. 9. Revolusi Mesir 1919-1967

Seusai perang dunia ke 1 pada tanggal 1918, di Mesir muncul pemimpin yang bernama Sa’ad Zaghlul. Ia berusaha dan berjuang menuntut kemerdekaan Mesir dari Inggris. Kemudian Inggris menangkap Sa’ad Zaghlul serta mengasingkannya ke Malta, hingga membangkitkan kemarahan rakyat Mesir. Semangat anti Inggris sebagai aksi protes segera merebak ke seluruh Mesir hingga pada puncaknya terjadilah revolusi besar menentang pemerintahan koloni tersebut di Kairo pada tanggal 9 Maret 1919 yang menyebabkan Inggris terpaksa merubah kebijakan politiknya terhadap Mesir serta membebaskan Sa’ad Zaghlul.

Pada tahun 1921, Inggris menyatakan Mesir sebagai Negara berdaulat, meskipun mereka tetap mengawasi pemerintahan, komunikasi, wilayah Sudan serta perlindungan terhadap warga asing. Melalui berbagai diplomasi, Mesir akhirnya mendapatkan kemerdekaan pada 28 Februari 1922. Kemerdekaan itu diraih tidak terlepas dari jasa Sa’ad Zaghlul. Ia mendirikan partai wafd yang bermotokan al-Haq Fauqa al-Quwwah wa al-Ummah fauqa al-Hukumah. Partai ini mampu meraih suara terbanyak pada pemilu 1926, namun pahlawan besar ini wafat pada 23 Agustus 1927.

Pada tanggal 23 Juli 1952, Mesir kembali mengalami revolusi. Adalah pasukan “al-Dhubat al-Ahrar” (pasukan pembebasan) di bawah pimpinan Gamal Abdul Nasir yang melakukan pengepungan terhadap istana Abidin. Mereka mengeluarkan siaran di radio yang mengumumkan pengambil alihan kekuasaan di Mesir. Ketika itu Mesir diperintah oleh Raja Farouk yang naik tahta sepeninggal ayahnya. Al-Dhubat al-Ahrar, memaksa Raja Faouk untuk menyerahkan tahtanya kepada anaknya Fouad II. Karena Fouad II belum dewasa, maka kekuasaan dipegang oleh junta (dewan pemerintahan) yang dibentuk oleh al-Dhubat al-Ahrar. Namun mereka melihat bahwa sistem kerajaan tidak lagi cocok dengan kehidupan rakyat Mesir. Pada tanggal 16 Januari 1953 seluruh partai politik disingkirkan dan akhirnya mereka mengumumkan berdirinya sistem negara republik pada 18 Juni 1953. Jenderal Mohammed Naghib menjadi Presiden pertama sampai tahun 1954.

Diilhami oleh revolusi ini, Sudan yang sebelumnya masuk ke dalam wilayah otoritas Mesir menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1956. Uniknya, Mesirlah negara pertama yang mengakui kedaulatan negara Sudan.

Setelah Naghib mengundurkan diri dengan tuduhan melakukan konspirasi dengan kekuatan komunis dan gerakan Ikhwanul Muslimin, Gamal Abdul Naser terpilih menjadi presiden pada 22 Juni 1956. Pada Januari 1958, Mesir dan Syiria menyatakan penyatuannya dan membentuk negara yang dikenal dengan Jumhuriyah al-‘Arabiyah al-Muttahidah atau Republik Persatuan Arab dengan Nasser sebagai presidennya. Namun ide ini bubar pada Juli 1961.

Pada 5 Juni 1967 terjadi perang hebat antara Mesir dan Israel. Perang yang berujung kekalahan bagi Mesir ini tak lepas dari perubahan strategi matang yang disetujui Nasser sendiri. Akibatnya, pada 8 Juni 1967, angkatan udara Israel membombardir kapal-kapal Mesir hingga mereka menduduki tepi timur Terusan Suez. Sedangkan di front Syiria, Israel berhasil menguasai Dataran Tinggi Gholan, bahkan hingga ke Palestina dan sebagaian Jordan. Pada sore hari tanggal 9 Juni, Nasser mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden. Pengunduran ini ditolak oleh masyarakat Mesir dan Majelis Nasional. Akhirnya, Nasser memutuskan untuk meneruskan jabatannya. Dalam usaha merebut kembali wilayahnya, Mesir sangat bertumpu pada Uni Soviet. Namun, dalam waktu yang demikian genting, pada tanggal 28 September 1970 Nasser meninggal dunia.

Tentara Mesir yang dipimpin oleh presiden baru, Anwar Saddat (15 Oktober 1970), berhasil menyeberangi Terusan Suez dan menghancurkan kekuatan Israel pada 10 Ramadhan atau tanggal 16 Oktober 1973. Setelah kemenangan Oktober ini, Israel menyadari kekuatan Mesir, merekapun mau berdamai dan menyerahkan kembali seluruh kawasan Sinai yang direbut ke pangkuan Mesir. Dikemudian hari, presiden Anwar Saddat mengunjungi Israel pada 17 November 1977 yang dianggap pengkhianatan oleh bangsa Arab lain. Atas prakarsa Jimmy Carter, presiden Amerika ketika itu, Anwar Saddat dan Menahem Begin menandatangani suatu perjanjian perdamaian di Camp David pada bulan September 1978 kemudian dikenal dengan Perjanjian Camp David. Hal ini mengakibatkan Mesir dipecat dari keanggotaannya di Liga Arab dan markasnya dipindahkan dari Kairo ke Tunis. Namun, pada bulan Juli 1990 Liga Arab kembali memasukkan Mesir sebagai anggota dan markasnya dikembalikan ke Kairo.

Pada peringatan hari kemerdekaan 6 Oktober, presiden Anwar Saddat ditembak dalam sebuah parade militer yang diadakan di Nasr City, tahun 1981. Posisi beliau digantikan oleh Mohammed Hosni Mubarrak yang pada saat itu menjabat wakil presiden. Beliaulah yang sampai sekarang menjadi presiden di Mesir.

  1. B. Sejarah Ringkas al-Azhar

Perjalanan panjang al-Azhar begitu menarik untuk disimak. Sejak dibangun pertama kali pada 29 Jumada al-‘Ula 359 H (970 M) oleh Panglima Jauhar al-Shiqili lalu dibuka resmi dan shalat jum’at bersama pada 7 Ramadhan 361 H. Kehadiran al-Azhar tidak bisa dipisahkan dari peran dinasti Fathimi yang kala itu dipimpin oleh Khalifah Mu’iz li Dinillah Ma’ad bin al-Manshur (319-365 H/931-975 M), khalifah keempat dari Dinasti Fathimiyah.[10]

Masa demi masa berlalu, pemerintahanpun silih berganti. Pada masa Dinasti Fathimiyah (358 H/969 M). Ibu kota Mesir berpindah ke daerah baru atas perintah Khalifah Al-Mu’iz li Dinillah yang menugasi panglimanya Jauhar al-Shiqili untuk membangun pusat pemerintahan. Setelah itu, daerah tersebut dinamakan kota al-Qahirah. Beriringan dengan pembangunan kota al-Qahirah, didirikan pula Jami’ al-Qahirah-meniru nama kota-. Pada masa Khalifah Al-Aziz Billah, sekeliling Jami’ al-Qahirah dibangun beberapa istana yang disebut al-Qushur al-Zahirah (istana yang bercahaya). Istana-istana ini sebagian besar berada di sebelah timur (kini berada sebelah barat masjid Husein), sedangkan beberapa sisanya yang kecil di sebelah barat (dekat mesjid al-Azhar sekarang), kedua istana dipisahkan oleh sebuah istana nan indah. Keseluruhan daerah ini dikenal dengan sebutan Madinat al-Fathimiyah al-Mulukiyah (Kota Kerajaan Fhatimiyah). Kondisi sekitar yang begitu indah dan bercahaya ini mendorong orang menyebut Jami’ al-Qahirah dengan sebutan Jami’ al-Azhar (berasal dari kata Zahra, artinya: yang bersinar, bercahaya dan berkilauan).[11]

Para khalifah telah jauh-jauh hari menyadari bahwa kelanjutan al-Azhar tidak bisa lepas dari segi pendanaannya. Oleh karena itu, setiap khalifah memberikan harta wakaf baik dari kantong pribadi maupun kas negara. Penggagas pertama wakaf al-Azhar adalah Khalifah al-Hakim bi Amrillah, lalu diikuti oleh para khalifah setelahnya serta orang-orang kaya setempat dan berbagai negara muslim hingga saat ini. Menurut berbagai sumber, harta wakaf yang diberikan kepada al-Azhar pernah mencapai sepertiga harta kekayaan Mesir. Dari harta wakaf inilah roda perjalanan al-Azhar terus berputar, termasuk memberikan beasiswa, asrama dan pengiriman utusan al-Azhar ke berbagai penjuru dunia.

  1. 1. Fase Peralihan

Sudah menjadi perjanjian tidak tertulis, pada setiap khalifah dinasti Fathimiyah, selalu diadakan restorasi bangunan Jami’ al-Azhar. Ciri spesifik bangunan mulai tanpak pada masa Sultan Qanshouh al-Ghouri (1509 M) yang merestorasi satu menara al-Azhar nan indah dengan dua puncak. Pada masa Abdul Rahman Katahda (w. 1776 M) kembali dilakukan penambahan dua buah menara, mengganti mihrab dan mimbar baru, membuka lokal belajar bagi yatim piatu, membangun ruaq sebagai pemondokan mahasiswa dan pelajar asing, membuat pendopo bagi ruang tamu, teras tidak beratap di dalam masjid dan tangki air tempat berwudlu. Singkat kata, hampir seluruh bangunan tua yang masih tersisa di masjid al-Azhar kini adalah hasil karya Amir tersebut.[12]

Selain berfungsi sebagai masjid, proses penyebaran faham Syi’ah turut mewarnai aktivitas awal yang dilakukan dinasti Fathimi. Khususnya di pengujung masa Khalifah Al-Mu’iz li Dinillah ketika Qadli Abu al-Hasan Ali bin Nu’man al-Qairawani mengajarkan fiqh madzhab Syi’ah dari kitab Mukhtashar yang merupakan pelajaran agama pertama di masjid al-Azhar pada bulan Shafar 365 Hijriah (Oktober 975 M).[13]

Ketika Shalahuddin al-Ayyubi memegang pemerintahan Mesir (567 H/1171 M), al-Azhar sempat diistirahatkan sementara waktu sambil dibentuk lembaga pendidikan alternative guna mengikis pengaruh Syi’ah. Inilah awal perubahan orientasi secara besar-besaran dari madzhab Syi’ah ke Sunni yang berlaku hingga sekarang. Meski tidak dipungkiri, faham Syi’ah dari sudut akademis masih tetap dipelajari.

  1. 2. Fase Reformasi

Pembaharuan administrasi pertama al-Azhar dimulai pada masa pemerintahan Sultan al-Dhahir Barbuq (784 H/1382 M). Beliau mengangkat Amir Bahadir al-Thawasyi sebagai direktur pertama al-Azhar tahun 782 H/1382 M ini terjadi dalam masa kekuasaan Mamalik di Mesir. Upaya ini merupakan usaha awal untuk menjadikan al-Azhar sebagai yayasan keagamaan yang mengikuti pemerintah. Sistem ini terus berjalan hingga pemerintahan Utsmani menguasai Mesir di penghujung abad 11 H. Ditandai dengan pengangkatan Syeikh al-Azhar sebagai figur sentral yang mengatur berbagai keperluan pendidikan, pengajaran, keuangan, fatwa hukum, termasuk tempat mengadukan berbagai persoalan. Pada fase ini terpilih Syeikh Muhammad al-Khurasy (1010 – 1101 H) sebagai syeikh al-Azhar pertama. Secara keseluruhan ada 40 syeikh yang telah memimpin al-Azhar selama 43 periode. Hingga kini jabatan syeikh al-Azhar dipegang oleh mantan Mufti Mesir Syeikh Muhammad Sayyid Thanthawi.[14]

Masa keemasan al-Azhar terjadi pada abad 9 H/15 M. Banyak ilmuwan dan ulama Islam bermunculan di al-Azhar saat itu, seperti Ibnu Khaldun, Al-Farisi, al-Syuyuthi dan sebagainya. Kepemimpinan Muhammad Ali Pasha di Mesir pada tahap selanjutnya telah membentuk sistem pendidikan yang paralel tapi terpisah, yaitu pendidikan tradisional dan pendidikan modern sekuler. Ia juga berusaha menciutkan peranan al-Azhar sebagai lembaga yang berpengaruh sepanjang sejarah, antara lain dengan menguasai Badan Wakaf al-Azhar.

Sejak awal abad 19, sistem pendidikan Barat mulai diterapkan di sekolah-sekolah Mesir. Sementara al-Azhar masih menggunakan sistem tradisional. Dari sinilah muncul suara pembaruan. Diantara pembaruan yang menonjol adalah dicantumkannya system ujian untuk mendapatkan Ijazah al-‘Alimiyah (sarjana) al-Azhar pada Februari 1872. Pada tahun 1896, buat pertama kali dibentuk Idarah al-Azhar (Dewan Administrasi). Usaha pertama dari dewan ini adalah mengeluarkan peraturan yang membagi masa belajar di al-Azhar menjadi dua periode: Pendidikan dasar 8 tahun dan tinggi 12 tahun. Kurikulum al-Azhar ikut diklasifikasikan dalam dua kelas: al-‘Ulum al-Manqulah (bidang studi agama) dan al-‘Ulum al-Ma’qulah (studi umum).[15]

  1. 3. Al-Azhar Kini

Pada tahun 1930, keluar undang-undang nomor 49 yang mengatur al-Azhar mulai dari pendidikan dasar hingga ke perguruan tinggi. Membagi universitas al-Azhar menjadi 3 fakultas, yaitu: syari’ah, ushuluddin dan bahasa Arab. Fakultas Syari’ah wa al-Qanun di Kairo merupakan bangunan pertama yang berdiri pada tahun 1930. Pada tahun 1960 didirikan fakultas Ushuluddin dan Bahasa Arab, penjurusannya diatur kembali pada tahun 1961. Fakultas Da’wah Islamiyah didirikan dengan Keputusan Presiden nomor 380 tahun 1978. Fakultas Dirasat al-Islamiyah wa al-Arabiyah memulai kuliahnya pada tahun 1965 sebagai salah satu jurusan dari fakultas Syari’ah. Pada tahun 1972 keluar Keputusan Presiden nomor 7 yang menjadikan lembaga ini sebagai lembaga tersendiri dengan nama Ma’had Dirasat al-Islamiyah wa al-‘Arabiyah (Instutute of Islamic and Arabic Studies).[16]

Sebagai universitas yang mapan, al-Azhar memiliki visi dan misi sendiri dalam melaksanakan roda pendidikannya. Misi utama dari universitas ini adalah untuk melestarikan warisan intelektual kaum Muslimin dengan melakukan studi dan penyebarannya; menyampaikan risalah Islamiyah kepada masyarakat dengan menegaskan hakikat kebahagiaan di dunia dan akhirat; menitik beratkan hasil karya ilmiah bangsa Arab; menyiapkan kader ulama yang dapat memadukan kemantapan akidah dengan kemampuan akademis. Karenanya, universitas di Timur Tengah khususnya al-Azhar menganut prinsip aliran salafiyah dalam arti bersifat otentik, modern, moderat dan toleran yang digambarkan sebagai berikut:[17]

  1. Berpegang kepada teks agama yang murni bukan kepada pendapat mujtahid
  2. Ukur dan kembalikan masalah mutasyabihat kepada yang muhkamat, dan dari yang abstrak kepada yang kongkrit
  3. Memahami masalah parsial dalam konteks pemahaman konprehensif
  4. Menganut prinsip penelitian dan pembaharuan; dan menjauhi fanatisme dan stagnasi
  5. Memegang teguh prinsip budi pekerti mulia
  6. Mengutamakan kemudahan dalam masalah fiqh
  7. Menggunakan metode himbauan dalam berdakwah dan bukan memusuhi
  8. Mengutamakan prinsip penanaman aqidah dalam masalah aqidah dan bukan perdebatan
  9. Mengutamakan ruh ibadah dan bukan rutinisme

10.  Mengutamakan prinsip “kepatuhan” dalam masalah akhirat (keagamaan) dan prinsip “inovatif” dalam masalah keduniaan

Universitas al-Azhar hanyalah salah satu lembaga resmi yang dimiliki al-Azhar. Masih ada lembaga lain yang sempat terbentuk, seperti:[18]

  • Al-Ma’ahid al-Azhariyah (Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah)
  • Idarat al-Tsaqafah wa Bu’uts al-Azhariyah (Biro Kebudayaan dan Misi al-Azhar)
  • Al-Majelis al-A’la li al-Azhar (Majelis Tinggi al-Azhar)
  • Maj’ma al-Buhuts al-Islamiyah (Lembaga Riset Islam)
  • Hai’ah Ighatsah al-Islamiyah (Lembaga Bantuan Islam)

Sejak mulai berdirinya, studi al-Azhar selalu terbuka untuk semua pelajar dari seluruh dunia. Hingga kini, universitas al-Azhar memiliki lebih dari 50 fakultas yang tersebar di seluruh wilayah Mesir.

  1. C. Kehidupan di Mesir

Perjalanan kami ke negeri Mesir bertujuan untuk mengemban ilmu di negeri 1000 menara ini. Belajar di Mesir merupakan cita-cita kami khususnya setelah kami mendapat informasi tentang Mesir dari beberapa Ustadz yang kebetulan alumni dari sana. Perjalanan yang menempuh waktu kurang lebih 12 jam tidak terasa lelah, karenma disamping perjalanan udara terasa menyenangkan kami juga merasakan kerinduan mendalam untuk segera tiba di sana.

Bagi orang asing yang ingin mengunjungi suatu negara harus memiliki visa atau izin masuk. Di negara Arab, visa dikenal dengan ta’syirah. Pengurusan visa ke Mesir bisa dilakukan di Kedutaan Mesir di Jakarta atau melalui travel yang mengurus keberangkatan ke Mesir. Visa yang diberikan biasanya tercantum selama dua bulan, namun sebenarnya hanya berlaku satu bulan. Selanjutnya, kita harus memperpanjang visa sesuai dengan aturan yang berlaku di Mesir. Untuk itu kita harus mendapatkan Keterangan Izin Menetap Sementara (KIMS). Surat ini mudah didapat bagi pelajar asing, karena Mesir dikenal sebagai negara yang paling toleran terhadap mahasiswa dibanding negara Arab lainnya.

Namun, karena berbagai pertimbangan, pemerintah Mesir sekarang mulai memperketat proses masuk mahasiswa/i ke al-Azhar. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya mahasiswa dan pelajar di sana. Setiap tahunnya tidak lebih dari 200 calon mahasiswa yang bisa kuliah di al-Azhar. Prosesnyapun tidak mudah, harus melalui seleksi yang diadakan di UIN dan IAIN di seluruh Indonesia. Dengan kualifikasi 100 orang untuk mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dan 100 orang yang tidak berbeasiswa. Biasanya pengumuman test akan disampaikan melalui sekolah-sekolah Madrasah Aliyah Negeri dan Swasta.

Mesir adalah sebuah negara berkembang yang tak jauh beda dengan negara ketiga lainnya. Kultur serta corak hidup penduduknya terkesan kasar, keras dan kurang teratur. Meski begitu, tetap saja banyak warga asing yang betah berlama-lama menikmati kehidupan di negeri ini.

Sebagian mahasiswa, terutama yang sudah senior memilih tinggal di ruwaq (tempat kost al-Azhar). Sebagian besaranya, lebih memilih tinggal dikawasan Nasr City dan sekitarnya. Lokasi ini dipilih karena selain lokasinya tidak terlalu jauh dengan kampus, harga sewanya masih terjangkau. Hal ini harus dimaklumi, karena biaya sewa rumah paling murah harganya sekitar 300 pounds atau hampir 800.000 rupiah sebulan. Tak heran jika rumah yang disewa oleh mahasiswa umumnya diisi lebih dari 6 orang.

Bagi mahasiswa yang tidak memperoleh beasiswa al-Azhar berhak tinggal di asrama Madinat al-Bu’uts al-Islamiyah, sementara yang Majelis al-A’la menyediakan asrama Dirmalak. Kedua asrama ini di berikan secara gratis bagi para penghuninya. Hanya bagi penghuni bu’uts akan dikenakan potongan beasiswa guna administrasi bulanan, termasuk makan dan listrik. Sementara asrama Dirmalak yang dikhususkan bagi mahasiswi tidak terlalu banyak memungut biaya, hal ini karena pihak asrama tidak menyediakan makanan bagi penghuninya. Hanya disediakan ruangan bagi yang ingin masak.

Bagi mahasiswa non beasiswa atau “terjun bebas” bisa menyewa flat atau rumah. Satu flat biasanya terdiri dari tiga kamar, ruang tamu, kamar mandi, dapur dan balkon. meski rumah yang disewa bentuknya tidak terlalu bagus, tapi kulkas, pemanas air dan kompor gas telah disediakan sebagai fasilitas standar yang diharuskan bagi setiap rumah di sana. Bagi mahasiswa yang ingin mendapat fasilitas lebih seperti televisi, telepon lokal dan AC bisa mendapatkannya dengan sewa yang agak mahal tentunya. Mensikapi biaya yang terkesan mahal, mahasiswa biasanya menempati rumah sewaan dengan 4 sampai 6 mahasiswa.

Dari keterangan di atas, maka bisa disimpulkan bahwa mahasiswa Indonesia tinggal di tiga wilayah:[19]

  1. Dalam Ruwaq, yang pada waktu dulu di sebut Ruwaq al-Jawi. Istilah jawi dulu digunakan untuk menyebut mahasiswa yang dating dari Asia tenggara.
  2. Madinat al-Bu’uts al-Islamiyah
  3. Madinat Nasr.

Makanan pokok penduduk Mesir adalah fuul (kacang) dan isy (roti). Disamping itu, ada berbagai masakan khas Timur Tengah yang kebanyakan masakan tersebut tentu tidak cocok bagi lidah orang kita. Biasanya, mahasiswa masak sendiri. Disamping bisa menekan biaya pengeluaran juga membuat kita belajar hidup mandiri. Karena beras dan keperluan memasak khas Melayu banyak tersedia di sini.

Mengenai transportasi, Mesir merupakan salah satu negara yang terbilang maju dalam masalah ini. Hampir 24 jam jasa tranportasi disediakan di sana. Bis, angkutan kota, taksi dan kereta bawah tanah yang menjadi salah satu kereta bawah tanah tercanggih di dunia dapat ditemui sebagai alat transportasi sehari-hari.

Suasana dan kondisi keamanan Mesir atau kota Kairo yang padat penduduknya masih memungkinkan untuk belajar dengan tenang. Gangguan yang biasa terjadi sebenarnya tidak ditujukan kepada mahasiswa asing, orang Mesir pada umumnya masih menghargai para pelajar asing. Jika kita bepergian di waktu malam jarang sekali terjadi gangguan maupun tindak kejahatan. Suasana kota Kairo relative lebih aman dibanding kota-kota besar lainnya di dunia. Hal ini dikarenakan pemerintah Mesir menerapkan pengawasan ketat terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan warganya. Mabahits (intel) bertebaran untuk memantau kegiatan masyarakat. Jadi umumnya warga Mesir takut untuk melakukan pelanggaran karena khawatir ditangkap intel berpakaian preman. Meski demikian, sikap waspada dan hati-hati tetap diperlukan, misalnya ketika menaiki bus yang padat saat bepergian. Bus adalah tempat yang rawan bagi para penumpang, khususnya pelajar asing. Karena di bus-bus tertentu, seperti yang jurusan ke kampus, banyak pencopet berkeliaran mencari mangsa.

Mengenai peluang kerja, pelajar asing hendaknya tidak memasang niatan “belajar sambil bekerja”. Hal ini akan menyia-nyiakan kesempatan belajar. Apalagi kesempatan bekerja di mesir tidak terbuka bagi orang asing, terlebih mahasiswa. Bekerja bagi orang asing harus melalui prosedur kontrak resmi antar negara. Kesempatan bekerja bagi mahasiswa asing biasanya hanya ada di Saudi Arabia pada musim haji. Namun demikian, jangan pernah membayangkan hal yang muluk-muluk bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah, persaingan dan kendala birokrasi biasanya menjadi kendala untuk mendapatkan visa ke Arab Saudi. Sebaliknya, berangkatlah ke Mesir dengan tujuan belajar dan mendapatkan pengalaman yang sebanyak-banyaknya.

E. Sekolah al-Azhar

Selain memiliki universitas, al-Azhar juga memiliki sekolah dari berbagai tingkat sebelum menuju ke bangku kuliah. Nama Ma’had Bu’uts al-Azhar dan Dirash Khashakh seolah tidak asing lagi ditelinga pelajar asing di Mesir khususnya yang belum memiliki ijazah persamaan. Ma’had Bu’uts al-Azhar membuka tahapan studi untuk tingkat Tsanawiyah dan Aliyah seperti yang ada di Indonesia dengan jenjang studi sebagai berikut:

Tingkat I’dadi: Dari kelas/tingkat 1 sampai 3

Tingkat Tsanawi: Dari kelas/tingkat 1 sampai 3

Penentuan jenjang studi di atas biasanya melalui imtihan qabul (tes penerimaan). Setelah lulus kedua jenjang itu, ijazahnya bisa diajukkan untuk pendaftaran masuk ke Universitas al-Azhar.

Sistem ujian yang dilakukan ma’had ada dua tingkat. Daur awal (term pertama) dan Daur Tsani (term kedua). Sedikitnya ada 16 mata pelajaran yang diajarkan, meliputi ilmu agama dan umum serta hapalan al-Qur’an beberapa juz (mulai juz 30 ke bawah). Surat Keterangan Sekolah (tashdiq) yang dikeluarkan oleh ma’had ini bisa digunakan untuk memperpanjang visa satu tahun di Mesir.

Selain Ma’had Bu’uts al-Azhar, ada pula Dirasah Khashakh (Sekolah Khusus). Sekolah ini umumnya diikuti oleh pelajar yang belum terdaftar sama sekali di salah satu lembaga pendidikan al-Azhar, surat keterangan yang diberikan juga bisa diajukkan untuk mendapatkan visa selama enam bulan. Adapun Ma’had yang lain namanya Ma’had al-Qura. Dikhususkan bagi pelajar yang ingin menjadi hafidz sekaligus mendalami berbagai disiplin ilmu al-Qur’an, jenjang studinya mirip Ma’had Bu’uts al-Azhar.

F. Serba-serbi al-Azhar

Pelajar Indonesia juga mayoritas pelajar Melayu umumnya tinggal di kawasan Nasr City. Sementara kebanyakan pelajar dari Thailand tinggal di kawasan Heliopolis dan sekitarnya. Bukan soal tempat yang menjadi topik dalam kisah ini, tapi suasana ketika berangkat menuju tempat kuliah. Tempat kuliah yang lumayan jauh dari tempat tinggal kita, memaksa kita untuk naik kendaraan umum. Kendaraan umum tersebut adalah bis kota. Karena jam ke kuliah bersamaan dengan berangkat kantor tak hran jika kita harus berdesak-desakan dalam bis. Jangan berharap ada tempat kosong kecuali kita naik dari terminal. Selain tempat yang sudah terisi penuh, menunggu bis tiba terbilang lama, paling cepat 40 menit sekali bis yang dimaksud ada. Namun jika memiliki uang lebih, bolehlah kita sedikit lebih tenang. Sedikit saja, jangan berharap lebih, karena supir taksi punya adat tambah penumpang jika kursi masih kosong.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kita baru tiba di kampus. Kampus tua penuh sejarah yang menjadi kebanggaan masyarakat Mesir telah ramai didatangi mahasiswa, dosen dan karyawannya. Diantara mereka, ada mahasiswa yang ingin mengikuti kuliah ada pula yang hanya sekedar mencari muqorror (diktat kuliah). Hanya saja, kebanyakan mahasiswa yang datang ke kampus hanya membeli diktat atau keperluan yang lain. Jarang sekali mereka datang untuk mengikut kuliah. Hal ini dikarenakan cara belajar yang ada di al-Azhar sedikit berbeda dengan universitas di Indoseia. Di sini, mahasiswa hanya datang, duduk dan mendengarkan penjelasan dosen. Jika ada yang tidak jelas dipersilahkan bertanya tapi jangan harap ada diskusi yang berlebihan kecuali hanya menerima apa yang diberikan oleh dosen. Perkuliahan di al-Azhar telah diformat dalam bentuk muhadlarah (presentasi) dari dosen. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa mendapat informasi sebanyak-banyaknya mengenai materi yang diberikan. Lagi pula dosen yang mengajar semuanya bergelar doctor..

Disamping ceramah, para dosen telah menyediakan buku pegangan mahasiswa (diktat) untuk setiap mata kuliah. Diktat tersebut disusun oleh dosen yang bersangkutan atau panitia yang ditunjuk oleh al-Azhar dengan mengambil rujukan dari kitab klasik dan modern.

Tidak adanya kewajiban untuk mengikuti kuliah adalah salah satu contoh perkuliahan di sini. Namun, pada fakultas tertentu ada yang mewajibkan kehadiran mahasiswanya tidak kurang dari 75 %. Terlepas dari peraturan tersebut, sebaiknya hadir dalam kuliah. Hal ini akan berguna untuk melancarkan pendengaran kita terhadap bahasa a’miyah (bahasa pasar) yang digunakan sehari-hari dan bahasa fushha (standar). Disamping itu, aktif kuliah bisa membantu kita dalam menghadapi ujian. Hal ini, karena dosen suka memberikan hal-hal yang penting dalam kuliahnya dan mungkin sekali keluar dalam ujian.

Belajar di al-Azhar tidak hanya menekankan asfek hapalan, tapi juga pemahaman serta penguasaan pelajaran secara detail. Jika jawaban ujian jauh dari muqarrar, maka nilai akan berkurang. Ada beberapa maddah (mata kuliah) tertentu yang menuntut ketajaman analisa dan kepiawaian mengekspresikan bahasa Arab dengan baik. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan, banyak diantara dosen yang menentukan pola jawaban tersendiri, maka ada baiknya memahami karakter doktor jika tidak ingin terkecoh dalam menjawab ujian. Karenanya, jangan heran jika pada masa-masa ujian banyak mahasiswa membaca buku dimanapun mereka berada. Suatu pemandangan yang mungkin sulit ditemui di Indonesia.

Sebagai lembaga pendidikan yang sudah mapan, al-Azhar patut dicatat sebagai pioner dalam mendorong mahasiswa untuk menghapal al-Qur’an. Tradisi menghapal memang agak dilematis bagi beberapa perguruan tinggi di Indonesia termasuk UIN, IAIN dan STAIN. Alasan yang diangkat cukup beralasan bahwa untuk mendapat informasi tentang ayat-ayat al-Qur’an bisa ditemukan melalui indeks dan klasifikasi ayat-ayat al-Qur’an. Apalagi sekarang didukung dengan tekhnologi komputer yang memungkinkan seseorang mengakses ayat-ayat tersebut melalui CD al-Qur’an. Pendapat ini hanyalah pandangan rasional saja. Ada pandangan lain yang sifatnya inner (dalam) dan merujuk pada keyakinan, kecintaan dan sufisme yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena itu, tradisi al-Azhar yang mewajibkan hapalan al-Qur’an kepada mahasiswanya dapat difahami. Al-Azhar memandang bahwa untuk menjaga dan menyebarkan Islam harus ditumbuhkan dikalangan alumninya. Hal ini dilakukan agar alumninya menjadi pengemban misi al-Azhar dimanapun mereka berada.[20]

Bagi mahasiswa asing, kampus tak lebih dari tempat belajar formal belaka. Sebagian mahasiswa banyak memanfaatkan belajar non- formal di luar kampus. Tempat belajar non-formal ini banyak tersebar di sekitar Kairo, seperti mesjid al-Azhar yang membuka zawiyah (pojok) untuk tafsir, ilmu Hadits, manthiq dan fiqh. Masjid Husein membuka pojok qiro’ah dan sebagainya. Ada juga yang memanfaatkan waktunya untuk mengikuti kursus computer atau bahasa asing.

Pemandangan lain yang berbeda dengan perguruan tinggi yang ada di Indonesia, apalagi di barat, adalah bahwa fakultas di al-Azhar tidak mengenal kelas campuran antara laki-laki dan perempuan. Untuk mahasiswi terdapat al-Jami’at al-Azhar li al-Banat. Pemisahan ini agaknya didasarkan kepada pandangan tertentu dalam Islam yang tidak memperkenankan ikhtilat (percampuran).

Kegiataan kemahasiswaan asing di lingkungan kampus kurang dominan. Jarang ada kesempatan untuk menjadi anggota senat, paling hanya mengikuti kegiatan kemahasiswaan yang mereka adakan. Maka tidak aneh hubungan mahasiswa asing dengan lokal nampak kurang erat, sekedar tahu nama dan berbicara yang penting-penting saja mengenai materi mata kuliah. Demikian juga hubungan mahasiswa asing dengan masyarakat setempat kurang begitu kental, hanya sekedar interaksi karena adanya kebutuhan tertentu.

Dalam kegiatan ujian, ujian di al-Azhar tidak menganut SKS (Sistem Kredit Semester) seperti yang ada di Indonesia. Di sini, ujian hanya dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu bulan Januari dan Mei. Jika lulus semua mata kuliah, bisa langsung meneruskan ke tingkat berikutnya, tapi kalau ada yang ketinggalan, harus bersabar karena materi yang tertinggal baru bisa ditempuh setelah tahun berikutnya. Kesempatan menyelesaikan semua mata kuliah dalam satu tingkat diberi jatah tiga tahun. Jika selama tiga tahun (tiga kali ujian) tidak selesai, maka kita harus berkemas-kemas untuk pulang ke tanah air. Hanya saja al-Azhar memberi kesempatan bagi yang tidak lulus dua mata kuliah, masih tetap naik tingkat. Tahun depan kita harus mengikuti ujian dua mata kuliah itu dalam ujian takhaluf (ujian mata kuliah yang tertinggal).

Dalam kertas soal hanya ada model essay, tidak menyediakan jenis multiple choice atau bentuk-bentuk lain. Jumlah pertanyaan pada setiap mata kuliah berkisar tiga hingga enam butir saja. Panitia ujian menyediakan kertas jawaban 12 halaman folio yang telah disatukan dalam bentuk buku. Para peserta hanya boleh membawa kartu mahasiswa, passport, pulpen, penghapus dan rol ke dalam ruangan. Semua jenis kertas lainnya tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruang ujian. Ketika ujian berlangsung, jangan coba-coba menyontek. Perbuatan menyontek termasuk yang diharamkan di sini. Jika ketahuan, hukuman akibat menyontek bisa sampai dua tahun.

Agar pikiran lebih tenang ketika mengikuti ujian, peserta ujian boleh membawa teh hangat ke dalam ruang ujian. Teh disediakan oleh petugas dengan mengutip bayaran 50 piasters, sementara untuk air putih disediakan dengan gratis. Lama ujian diberikan waktu selama tiga jam, kecuali untuk mata kuliah al-Qur’an dan bahasa Inggris diberi waktu dua jam.

Inilah sedikit pengalaman penulis yang dialami sendiri dan didapat dari berbagai sumber untuk melengkapi sedikit perjalanan penulis di al-Azhar.

III. Penutup

Belajar di Timur Tengah khususnya di al-Azhar merupakan tradisi yang telah lama dirintis sejak abad ke lima belas. Sekarang terdapat ribuan pelajar Indonesia yang masih menempuh studi di negeri Seribu Menara ini. Dengan adanya kerja berbagai lembaga dengan pemerintahan di Timur Tengah. Maka, prospek belajar lebih menjanjikan. Dengan standar akademi internasional dapat membantu pembinaan kader-kader mujtahid Islam yang moderat, tegar keimanannya dan memiliki jati diri dalam menghadapi tantangan di masa yang akan datang.

MADINAT AL-Buuts al-islamiyah

HARGA SEWA SEKARANG

POUNDS SEKARANG

RUWAQ


[1] Husni Mubarak A. Latif dkk, Panduan ke Mesir dan al-Azhar, (Kairo: Keluarga Mahasiswa Aceh, 2003), h. 13, cet.ke-3

[2] Ibid., h. 14

[3] Ibid., h. 23

[4] Ibid., h. 24 – 40

[5] Hasan Mu’arif Ambary, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2001), cet.ke-9, j. 2, h. 4-5

[6] Cyril Glasie, Ensilopedi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrapindo Perkasa, 2002), h.43

[7] Ibid., h. 251

[8] Ibid,. h. 114

[9] Ibid., h. 117

[10] Ibid., h. 165

[11] Ibid., h. 168

[12] Ibid., h. 169

[13] Ibid., h. 170

[14] Ibid., h. 171

[15] Ibid., h. 174

[16] Ibid., h. 176

[17] Yusuf al-Qardlawi, Aulawiyat al-Harakat al-Islamiyat fi al-Marhalat al-Qadimat, (Kairo: Maktabah Wahbah, 1991), h. 86

[18] Ibid., h. 178

[19] Mona Abaza, Islamic Education Perceptions and Exchange , Indonesian Students in Cairo, terj: S. Harlinah, Jakarta: Pustaka LP3ES, 1999, h. 100

[20] Bustanuddin Agus, Belajar Islam di Timur Tengah, Jakarta: Departemen Agama RI, t.th. h. 79

21
Jan
10

Madzhab Dalam Fiqh

MADZHAB DALAM FIQH

I. Pendahuluan

Sebagai salah satu upaya dari kaum muslimin dalam mencari ketetapan suatu hukum, mereka akan mencari ketetapan tersebut berdasarkan madzhab yang mereka pilih. Ketetapan hukum yang telah diatur oleh suatu madzhab, dengan sendirinya akan diikuti oleh pengikutnya.

Madzhab merupakan pokok pikiran atau dasar yang digunakan oleh imam mujtahid dalam memecahkan berbagai persoalan dalam hukum Islam. Penelusuran dalil-dalil syar’i dan penerapan hukumnya inilah yang kita kenal sebagai istinbath al-ahkam al-syar’iyyah. Selanjutnya imam madzhab dan madzhab itu berkembang pengertiannya menjadi kelompok umat Islam yang mengikuti cara istinbath imam mujtahid tertentu atau mengikuti pendapat imam mujtahid tentang masalah hukum Islam.

Perbedaan madzhab yang telah berlangsung ini, semata-mata didorong oleh keinginan mereka dalam mencari kebenaran berdasarkan kaidah dan dasar yang telah mereka tetapkan. Karenanya, mereka bersepakat dalam masalah ashal dan akan berbeda dalam hal yang bersifat furu’.

Adapun fungsi mengetahui hukum madzhab adalah agar kita terhindar dari taqlid buta dan kita bisa mendudukan ketetapan hukum sesuai fungsinya. Dimama terjadi perbedaan istinbath dalam hadits yang waktu itu belum terkodifikasi secara sistematis. Sehingga ada Hadits yang diterima oleh satu madzhab, sementara madzhab yang lain belum mendapatkannya.[1]

II. Pengertian Madzhab

Istilah madzhab secara terminologi kebahasaan berasal dari shighah masdar mimy (kata sifat) dan isim makan (kata tempat) yang diambil dari fiil madhy “dzahaba” (ذهب) yang berarti “pergi”. Istilah madzhab juga bisa berarti “al-ra’yu” (الرأي) yang berarti pendapat atau aliran[2] dan berarti pula “al-thariqah” (الطريقة)  yang berarti jalan.[3]

Sedangkan pengertian madzhab menurut istilah ada beberapa rumusan antara lain:[4]

1. Menurut Said Ramadhany al-Buthy, madzhab adalah jalan pikiran atau faham yang ditempuh oleh seorang mujtahid dalam menetapkan suatu hukum Islam dari al-Qur’an dan al-Hadits.

2. Menurut K. H. E. Abdul Rahman, madzhab dalam istilah Islam berarti pendapat, paham atau aliran seorang alim besar dalam Islam yang digelari Imam seperti madzhab Imam Abu Hanifah, madzhab Imam Ahmad Ibn Hanbal, madzhab Imam Syafi’i,  madzhab Imam Malik dan lain-lain

3. Menurut A. Hasan, madzhab adalah sejumlah fatwa atau pendapat-pendapat seorang alim besar dalam urusan agama baik dalam masalah ibadah maupun yang lainnya.

Adapun pengertian madzhab dalam istilah fiqh adalah kumpulan pendapat-pendapat yang mempunyai alasan (sandaran) yang berbeda dengan dasar-dasar pendapat yang dipakai oleh kumpulan pendapat yang lain. Baik kumpulan pendapat tersebut dihubungkan kepada seorang mujtahid atau lebih.

Ada dua bentuk yang menjadi alasan (dasar) perbedaan pendapat tersebut yakni:[5]

Pertama, berupa sumber-sumber hukum (al-Qur’an dan al-Sunnah) yang dinamakan “perbedaan pokok”.

Kedua, berupa aturan-aturan dalam pengambilan hukum dari sumber hukum yang dinamakan “perbedaan cara”.

Dari kedua perbedaan cara yang ditempuh oleh para mujtahid tersebut secara otomatis berpengaruh terhadap hasil istinbath mereka dalam penetapan hukum. Keadaan demikian terus berlanjut sampai kepada murid-muridnya. Karenanya, kebijakan-kebijakan yang ditempuh oleh para mujtahid madzhab biasanya tidak jauh berbeda dengan hasil imamnya kecuali sebagiannya saja.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan madzhab menurut istilah, meliputi dua pengertian, yaitu:[6]

1. Madzhab adalah jalan pikiran atau metode yang ditempuh oleh seorang imam mujtahid dalam menetapkan hukum suatu peristiwa berdasarkan kepada al-Qur’an dan Hadits.

2. Madzhab adalah fatwa atau pendapat seorang imam mujtahid tentang hukum suatu peristiwa yang diambil dari al-Qur’an dan Hadits.

Karenanya, madzhab merupakan pokok pikiran yang digunakan imam mujtahid dalam meng-istinbath-kan hukum Islam. Selanjutnya istilah madzhab berkembang pengertiannya menjadi kelompok umat Islam yang mengikuti cara istinbath imam mujtahid tertentu dan mengikuti pendapatnya dalam masalah hukum Islam.

III. Macam-macam Madzhab

Pada masa tabi’ al-tabiin yang dimulai pada awal abad kedua Hijriyah, kedudukan ijtihad sebagai istinbath hukum semakin bertambah kokoh dan meluas, sesudah masa itu munculah madzhab-madzhab dalam hukum Islam. Madzhab tersebut terbagi kepada dua golongan, yaitu Ahl al-Hadits dan Ahl al-Ra’yu. Kedua golongan ini mempunyai pengikut yang banyak dan banyak pula melakukan perkembangan pengetahuan. Hal inilah yang menyebabkan nuansa keilmuan Islam semakin bertambah. Sehingga zaman ini dikategorikan sebagai zaman keemasan dalam sejarah Islam. Kegiatan dalam penelaahan hukum langsung dari sumbernya banyak dilakukan pada saat ini. Majelis-majelis ilmu dan berbagai kegiatan keagamaan banyak membantu berkembangnya madzhab saat itu.

Dalam hukum Islam, madzhab-madzhab dapat dikelompokkan kepada:[7]

Pertama. Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah

a. Ahl al-Ra’yi

Madzhab ini lebih banyak menggunakan akal (nalar) dalam berijtihad, seperti Imam Abu Hanifah. Beliau adalah seorang imam yang rasional, mendasarkan ajarannya dari al-Qur’an dan al-Sunnah, ijma’, qiyas serta istihsan.

b. Ahl al-Hadits

Madzhab ini lebih banyak menggunakan Hadits dalam berijtihad daripada menggunakan akal. Asalkan Hadits yang pakai itu shahih, madzhab ini akan menganggapnya sebagai dalil. Yang termasuk dalam madzhab ini adalah:

a. Madzhab Maliki

Madzhab ini dibina oleh Imam Malik bin Anas. Beliau cenderung kepada ucapan dan perbuatan (praktek) Nabi saw dan praktek para sahabatnya serta ulama Madinah. Madzhab ini berkembang di Afrika Utara, Mesir, Sudan, Kuwait, Qathar dan Bahrain.

b. MadzhabSyafi’i

Madzhab ini mengikuti Imam Syafi’i. Beliau adalah murid Imam Malik yang pandai. Beliau membina madzhabya antara ahl al-Ra’yi dan ahl al-Hadits (moderat), meskipun dasar pemikirannya lebih dekat kepada metode ahl al-Hadits. Madzhab Syafi’i berkembang di Mesir, Syiria, Pakistan, Saudi Arabia, India Selatan, Muangthai, Malaysia, Pilipina dan Indonesia.

c. Madzhab Hanbali

Madzhab ini mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal. Ia lebih banyak menitikberatkan kepada Hadits dalam berijtihad dan tidak menggunakan ra’yu dalam berijtihad kecuali dalam keadaan darurat, yaitu ketika tidak ditemukan Hadits, walaupun Hadits dha’if yang tidak terlalu dha’if, yakni Hadits dha’if yang tidak diriwayatkan oleh pembohong. Madzhab ini berkembang di Saudi Arabia, Syiria dan dibeberapa negeri dibagian Afrika.

d. Madzhab Zhahiri

Madzhab ini mengikuti Imam Daud bin Ali. Madzhab ini cenderung kepada zhahir nash dan berkembang di Spanyol pada abad V H oleh Ibn Hazm (w 456 H/1085 M). Sejak itu, madzhab ini berangsur-angsur lenyap hingga sekarang.

Kedua, Syi’ah

Pada mulanya Syi’ah adalah madzhab politik yang beranggapan bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah sayidina Ali ra dan keluarganya setelah Nabi saw wafat.

Madzhab ini kemudian pecah menjadi beberapa golongan yang terkenal sampai sekarang, antara lain:

a. Syi’ah Zaidiyah

Syi’ah Zaidiyah adalah pengikut dari Zaid bin Ali Zain al-Abidin. Syi’ah Zaidiyah berpendapat, bahwa imam tidaklah ditentukan nabi orangnya, tetapi hanya sifat-sifatnya. Tegasnya nabi tidak mengatakan bahwa Ali adalah yang akan menjadi imam sesudah beliau wafat, tetapi nabi hanya menyebut sifat-sifat imam yang akan menggantikan beliau. Ali diangkat menjadi imam, karena sifat-sifat tersebut ada pada dirinya. Diantara sifat-sifat yang dimaksud adalah taqwa, alim, murah hati dan berani; kemudian bagi imam sesudah Ali ditambahkan sifatnya sebagai keturunan Fatimah.

b. Syi’ah Imamiyah

Madzhab Syi’ah Imamiyah disebut juga sebagai madzhab syi’ah itsna asyariyah (syiah dua belas), karena mereka mempunyai dua belas imam  nyata (الأمام الظاهر) yang urutannya adalah:

  1. Ali bin Abi Thalib
  2. Al-Hasan
  3. Al-Husayn
  4. Ali Zain al-Abidin
  5. Muhammad al-Baqir
  6. Ja’far al-Shadiq
  7. Musa al-Kazhim
  8. Ali al-Ridha
  9. Muhammad al-Jawwad

10.  Ali al-Hadi

11.  Al-Hasan bin Muhammad al-Askari

12.  Muhammad al-Mahdi al-Muntazhar

Ketiga, madzhab-madzhab yang telah musnah

Sebagian dari para puqaha mempunyai pengikut yang cukup banyak. Namun suatu saat para pengikutnya mulai berkurang dan mengikuti madzhab baru yang menurutnya lebih bagus dan lebih cocok dengan perasaan mereka. Lama-kelamaan pengikutnya berkurang bahkan sampai menghilang dan tidak terdengar lagi. Diantara mereka adalah:[8]

  1. Abu ‘Amr Abdul Rahman bin Muhammad al-Auza’iy. Beliau mendirikan madzhab al-Auza’iy
  2. Abu Sulaimam Daud bin Ali bin Khalaf al-Ashbahani yang terkenal dengan al-Zhahiri. Beliau mendirikan madzhab Daud al-Zhahiri.
  3. Abu Ja’far bin Jarir al-Thabary. Beliau mendirikan madzhab al-Thabary
    1. Abu al-Laitsi bin Sa’ad al-Fahmy. Beliau mendirikan madzhab al-Laits.

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan madzhab-madzhab itu bisa terkenal dan bisa bertahan hingga saat ini didunia Islam, bukanlah disebabkan oleh segi-segi hukum yang menjadi faktor ketahanannya seperti penetapan sumber hukum atau pendapat-pendapatnya yang meringankan. Akan tetapi, faktor dominan yang menjadikannya bertahan justru bukan bersifat hukum, seperti:

  • Faktor pribadi pendirinya
  • Faktor kejelasan keterangan sehingga bisa menarik orang banyak.
  • Murid-muridnya yang pandai dan membukukan pendapatnya.
  • Adanya bantuan langsung maupun tak langsung dari penguasa pemerintah terhadap madzhab tersebut.[9]

Faktor tersebut yang memungkinkan madzhab diatas berkembang hingga sekarang dan memiliki banyak pengikutnya.

IV. Latar Belakang Timbulnya Madzhab

Sesungguhnya mengetahui ijma’ dan perbedaan pendapat dikalangan ulama merupakan hal yang sangat penting diketahui terlebih lagi bagi para mujtahid, hakim dan imam yang empat. Karenanya ijma’ merupakan kaidah yang harus disepakati jika terdapat bukti bahwa hal tersebut merupakan ijma’ dan menghukumi kafir terhadap yang mengingkarinya. Hanya saja dalam memahami berbagai persoalan, diantara para mujtahid sering terdapat ikhtilaf didalamnya. Ikhtilaf tersebut bukan berarti akan merendahkan pendapat antara satu dan lainnya. Hal ini karena ikhtilaf  merupakan rahmat dari Allah swt.[10]

Munculnya madzhab dalam Islam menunjukkan akan betapa majunya perkembangan hukum Islam pada saat itu. Hal ini terutama disebabkan oleh tiga faktor yang sangat menentukan bagi perkembangan hukum Islam sesudah wafatnya Rasulullah saw. yaitu:[11]

1. Semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam, mencakup wilayah di semenanjung Arab, Irak, Mesir, Persia dan lain-lain.

2. Pergaulan kaum Muslimin dengan bangsa yang ditaklukannya. Mereka terpengaruh oleh budaya, adat istiadat dan tradisi bangsa itu.

3. Akibat jauhnya negara-negara yang ditaklukannya itu dengan ibu kota khilafah (pemerintahan) Islam yang membuat para gubernur, hakim dan ulama harus melakukan ijtihad.

Perbedaan pendapat yang umum kita ketahui dari empat madzhab sunni adalah perbedaan cara yaitu melalui pengambilan hukum dari sumbernya berupa al-Qur’an, al-Sunnah, Ijma’, Qiyas, Istihsan, Istishab, Maslahah Mursalah, al-Urf’ dan Saddu al-Dzara’i. Meskipun diantara metodologi istinbath hukum tersebut masih menjadi perdebatan diantara ulama fiqh. Akan tetapi, perbedaan tersebut akan menjadi khazanah keilmuan Islam yang amat berharga. Karena para mujtahid dalam ijtihadnya tidak akan pernah meninggalkan sumber hukum Islam yang utama (al-Qur’an dan al-Hadits). Dengan selalu berpegang kepada keduanya, syari’ah Islam tidak akan pernah hilang dalam hidup ini.

Al-Dzahabi mengatakan bahwa “Syariat Allah dan hukum-hukum-Nya, diatas segala apa yang dibuat oleh manusia. Dalam perundang-undangan manusia tidak akan tercapai kebahagiaan baik secara personal maupun kelompok, karena ia merupakan buah pemikiran manusia yang tidak terlepas dari lalai dan kesalahan. Dorongan hawa nafsu, ketundukan terhadap penguasa tidak akan sanggup dihindarkan dari setiap manusia.”[12]

Adapun diantara sebab-sebab ikhtilaf yang mengakibatkan timbulnya madzhab-madzhab dalam fiqh diantaranya:[13]

A. Berbagai macam bahasa Arab yang digunakan

Ini berlaku sama karena lafaz itu mujmal atau musytarak yaitu umum dan khusus, makna hakiki dan majazi atau makna hakiki dan makna mengikut adat (‘urf) ataupun perbedaan itu berlaku karena sesuatu lafaz yang terkadang disebut secara mutlak (tidak dibataskan) dan kadang-kadang secara muqayad. Juga dikarenakan perbedaan i’rab. Juga istyirak lafzy pada satu kata contohnya lafaz “al-quru” yang bermakna suci juga berarti haidh. Contoh lain seperti lafaz yang berbentuk perintah, apakah ia bermakna wajib atau sunah saja. Demikian juga lafaz yang berbentuk larangan, apakah ia bermakna haram atau makruh saja.

B. Bentuk periwayatan yang berbeda

Perbedaan riwayat diakibatkan oleh beberapa sebab seperti sebuah Hadits itu sampai kepada seseorang dari mereka, tetapi tidak sampai kepada yang lain, atau sampai dengan jalan dhaif yang tidak boleh digunakan sebagai hujah, sementara kepada yang lain sampai dengan cara yang shahih. Atau mereka berpendapat tidak ada sesuatu yang menghalang penerimaan riwayat itu. Perkara ini bergantung kepada perbedaan pendapat tentang cara ta’dil dan tarjih.

Ataupun sebuah Hadits sampai kepada dua orang mujtahid dengan cara yang disetujui oleh semua perawi sementara yang lainnya meletakan beberapa syarat untuk beramal dengannya.

C. Perbedaan sumber

Ada beberapa sumber yang dipertikaikan sejauh manakah sumber tersebut boleh dipegang. Contohnya istihsan, mashalih al-mursalah, qawl al-shahabi dan lain-lain.

Adapun diantara sebab-sebab ikhtilaf yang melatarbelakangi timbulnya madzhab dalam Islam ada bermacam-macam, diantaranya:

  1. Perbedaan dalam pemaknaan maksud dari sebagian ayat-ayat al-Qur’an.

Al-Qur’an meskipun dalam penghimpunanya mempunyai makna jelas, namun ada beberapa bagian yang mengandung beberapa makna. Misalnya kalimat laamas

“… ا و لامستم النساء ….”

…atau kamu telah menyentuh perempuan…[14] .

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa maksud dari bersentuhan disini adalah “jima”, kecuali bahwa al-Qur’an bermaksud lain dengan (ا و لامستم) itu, karena tidak dikatakan secara jelas atau dengan kata lain sungkan jika mengatakannya secara jelas, sehingga dari sini dibangunlah pemahaman bahwa menyentuh wanita yang bukan muhrim atau menyalaminya, tidaklah membatalkan wudhu, sebagaimama madzhab Maliki dan Hambali, yang menilai bahwa menyentuh dengan syahwat (antara laki-laki dan perempuan) tidak membatalkan wudlu seseorang. Sementara itu, Syafi’i melihat bahwa maksud dari ayat tersebut jelas, yakni menyentuh antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim meskipun telah meninggal sekalipun dengan tanpa disengaja, tentunya setiap kelompok (madzhab) memiliki dalil-dalilnya dalam setiap madzhab mereka.

  1. Perbedaan dalam periwayatan Hadits.

Rasulullah saw bersabda:

لاصلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

Tidak dianggap shalat bagi seseorang yang tidak membaca surat al-Fatihah

Berdasarkan Hadits tersebut, sebagian fuqoha berpendapat bahwa yang menjadi syarat sahnya shalat secara mutlak adalah dengan membaca surat al-Fatihah, bila ditinggalkan atau tidak dibaca maka shalatnya menjadi tidak sah, hal ini sebagaimama yang dipandang oleh ulama Syafi’i. Sedang ulama Hanafi melihat bahwa makna Hadits diatas menunjukkan tidak adanya kesempurnaan shalat. (لنفىكمال الصلاة) bukan menafikan keabsahannya (لنفى صحة الصلاة), sehingga al-Fatihah dalam shalat bukan merupakan syarat sahnya salat melainkan termasuk kewajiban shalat. Mereka berkata bahwa shighot (bentuk) ini banyak disebutkan dalam Hadits-Hadits yang memiliki makna (نفىالكمال) yakni mematikan kesempurnaan dan bukan (نفىالصحة) yaitu mematikan keabsahannya, seperti sabda Rasul:

لا يؤمن احدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Tidaklah sebagian kamu dianggap berimam sampai ia mencintai saudaranya sebagaimama ia mencintai dirinya sendiri.

Tidak berimam disini berarti tidak memiliki imam yang sempurna. Kemudian disebutkan dalam sabdanya yang lain:

لا صلاة لجار المسجد إلا فى المسجد

Tidaklah dianggap shalatnya seseorang yang tinggal dekat masjid kecuali didalam mesjid.

Ini mempunyai makna bahwa shalatnya tidak sempurna bagi seseorang yang tinggal didekat majid tetapi tidak shalat didalam masjid.

Perbedaan pendapat juga terjadi karena tidak ada kodifikasi Hadits dimasa Rasul dan sahabat setelah abad pertama Hijriyah, kecuali Hadits ketika itu disampaikan dengan metode riwayat, hingga masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz diawal abad ke II, sehingga menimbulkan ikhtilaf dalam penetapan hukum yang disebabkan juga oleh berpencarnya para sahabat setelah futuuh Makkah ke penjuru negeri,mengajarkan masyarakatnya apa-apa yang telah ia serap dari Rasul saw, kemudian mereka memberi fatwa apa yang telah ia ketahui dari Rasul saw kemudian berijtihad sesuai kondisi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.[15] Ikhtilaf dalam Hadits juga karena perbedaan pemahaman maksud matan Hadits, sebab persyaratan amal, hapalan tentang dhobith atau tidaknya seorang perawi Hadits, berhenti atau terputusnya nash, bagaimama menjaga ruh dan otentitas Hadits, atau karena seorang mujtahid menguak sesuatu yang dapat menasakh Hadits, mengkhususkan masalah yang ‘aam, memberi batasan terhadap lafal muthlaq sehingga mempersempit keluasan artinya, akibatnya terjadi perselisihan pendapat tentang penetapan hukum yang masih bersifat furu’.[16]

  1. Perbedaan pendapat dalam fatwa sahabat, apakah ia mempunyai sifat yang mengikat atau tidak.

Abu Hanifah dalam madzhab fiqihnya mengatakan: “Sesungguhnya aku mengambil dalil dari Kitab, bila tidak kudapat maka kuambil dari Sunnah atau atsar yang shohih, bila tidak kujumpai maka kuambil dari perkataan sahabat”. Sedang imam Malik mengambil fatwa sahabat yang berhubungan dengan amal atau perbuatan ahlul Madinah, beliau mengajak kaum Muslimin untuk mengikuti amal ahlul Madinah dalam menetapkan hukum. Adapun Syafi’i memandang bahwa fatwa sahabat tidak bersifat mengikat, kecuali tidak ada yang menampik fatwanya dari sahabat, sebagaimana dipandang juga oleh Hambali. Dan hukum yang menjadi sumber perselisihanpun sebatas hukum-hukum furu’iyah yang ditetapkan dari satu imam kepada imam yang lain.[17]

  1. Perbedaan pendapat dalam wilayah, lingkungan adat istiadat dan al-urf.

Hal ini terjadi karena perbedaan negara-negara yang ditaklukan oleh kaum Muslimin dan letaknya yang jauh. Karena itu, banyak dari hukum-hukum yang dihasilkan sesuai dengan kondisi negara itu demi menciptakan maslahat dan menjauhkan kerusakan. Apabila hukum maslahat berbeda dengan apa yang ada dinegerinya, maka berbeda pula hukum yang diberlakukan untuk menyesuaikan dan mengikuti kondisi negeri tersebut. Sebagaimana yang dilakukan Syafi’i ketika ia hijrah ke Mesir dan mendapati adat istiadat disana yang belum pernah ia lihat di Irak maupun di Hijaz.

  1. Perbedaan pendapat yang disebabkan penetapan hukum dengan cara menggabungkan dan mentarjih nash-nash yang berbeda pada lafal zhahirnya.

Dengan kata lain perbedaan pengambilan hukum ijma’, qiyas, istihsan, istishab, maslahah mursalah dan urf.

a. Hukum Ijma’.

Secara bahasa, ijma (الإجماع) berarti “kesepakatan” atau konsensus. Pengertian ini dijumpai dalam surat Yusuf, 12: 15, yaitu:

فلمّا ذهبوا به اجمعوا أن يجعلوه فى غيبت الجبّ

Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukannya kedasar sumur…

Pengertian etimologi kedua dari ijma adalah “ketetapan hati untuk melakukan sesuatu”. Pengertian kedua ini ditemukan dalam surat Yunus,10: 71:

فاجمعوا امركم وشركاءكم

…maka bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu…

Perbedaan antara pengertian pertama dan kedua terletak pada kuantitas (jumlah) orang yang berketetapan hati. Pengertian pertama mencukupkan satu tekad saja, sedangkan untuk pengertian kedua memerlukan tekad kelompok.[18]

Adapun pengertian ijma secara terminology, jumhur ulama ushul fiqh sebagaimama dikutip Wahbah al-Zuhaili, Muhammad Abu Zahrah dan Abdul Wahab Khalaf,[19]merumuskan ijma dengan “kesepakatan para mujtahid dari umat Muhammad saw. pada suatu masa setelah wafatnya Rasulullah saw. terhadap suatu hukum syara’”.

Mayoritas ulama ushul fiqh mengatakan bahwa landasan ijma itu bisa dari dalil yang qoth’i, yaitu al-Qur’an, Sunnah mutawatir serta bisa juga berdasarkan dalil yang zhonni seperti Hadits ahad (Hadits yang diriwayatkan oleh satu, dua atau tiga orang saja yang tidak mencapai derazat mutawatir) dan qiyas. Alasan mereka adalah ijma’ yang dilakukan para sahabat tentang mandi wajib setelah bersetubuh dengan istri.landasan ijma ini, menurut mereka adalah Hadits ahad. Para sahabat di zaman Umar bin Khotob bersepakat menjadikan hukuman dera sebanyak 80 kali bagi orang yang meminum minuman keras. Seluruh kesepakatan tersebut berdasarkan Hadits ahad yang merupakan pendapat dari dalil zhanni.[20] Pada dasarnya ijma’ itu terbagi dua, yaitu ijma sharih, yang disebut juga ijma’ hakiki dan ijma sukuti, yang disebut juga ijma i’tibari (relatif) karena bukan merupakan persepakatan yang bulat dari seluruh mujtahid, melainkan hanya sebagian mujtahid saja,oleh karena itu, ijma kedua ini tidak dapat dijadikan hujjah.[21]

  1. Hukum Qiyas (analogi).

Secara bahasa, qiyas berarti ukuran, membandingkan atau menyamakan sesuau dengan yang lain. Wahbah al-Zuhaili mengartika qiyas sebagai: “menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nash, disebabkan ‘illat hukum antara keduanya”. [22]

Para ulama sepakat menyatakan bahwa proses penetapan hukum melalui metode qiyas bukanlah menetapkan hukum dari awal (istinbath al-hukmu wa insyauhu), melainkan hanya menyingkapkan dan menjelaskan hukum (al-kasyfu wa al-izhar li al-hukmi) yang ada pada suatu kasus yang belum jelas hukumnya.[23] Penyingkapan dan penjelasan ini dilakukan melalui pembahasan mendalam dan teliti terhadap ‘illat dari suatu kasus yang sedang dihadapi. Apabila ‘illat-nya sama dengan ‘illat hukum yang disebutka didalam nash, maka hukum terhadap kasus yang dihadapi itu adalah hukum yang telah ditentukan oleh nash tersebut. Contohnya ketika rasulullah saw bersabda:

لا يرث القاتل

“Pembunuh tidak berhak mendapat harta warisan” (H. R Nasa’i dan al-baihaqi)

Menurut hasil penelitian mujtahid, yang menjadi ‘illat tidak berhaknya pembunuh menerima warisan dari harta pewaris yang ia bunuh adalah upaya untuk mempercepat mendapatkan harta warisan dengan cara membunuh. ‘Illat seperti ini terdapat juga dalam kasus seseorang membunuh orang yang telah menentukan wasiat baginya. Oleh sebab itu, pembunuh orang yang berwasiat (al-washi), dikenai hukuman yang sama dengan hukuman orang yang telah membunuh ahli warisnya, yaitu sama-sama tidak berhak menerima warisan dan harta wasiat.

Adapun alasan pembolehan qiyas sebagai hujjah berdasarkan Hadits Rasulullah saw diantaranya adalah riwayat dari Muadz bin Jabal yang amat populer. Ketika itu, Rasulullah saw mengutusnya ke Yaman untuk menjadi qodhi (Hakim). Rasulullah saw melakukan dialog singkat dengan Mu’az, seraya berkata:

“Bagaimama cara kamu memutuskan suatu perkara yang diajukan kepada engkau?” Mu’az bin Jabal menjawab, “Saya akan cari hukumnya dari Kitabullah (al-Qur’an).” Kemudian Rasulullah saw melanjutkan pertanyaannya, “Jika tidak kamu temukan hukumnya dalam Kitabullah?” Jawab Mu’az, “Saya akan cari dari Sunnah Rasulullah saw juga tidak kamu temukan hukumnya?” Jawab Mu’az, “Saya akan berijtihad sesuai pendapat saya.” Lalu Rasulullah saw mengusap dada Mu’az, seraya berkata, “Alhamdulillah tindakan utusan Rasulullah sesuai dengan kehendak Rasulullah.” (H. R.Ahmad ibn Hanbal, Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Thabarani, al-Darimi dan al-Baihaqi).

  1. Hukum Istihsan.

Secara etimologi, istihsan berarti “menyatakan dan meyakini baiknya sesuatu”. Firman Allah dalam surat al-Zumar, 39: 18:

الذين يستمعون القول فيتبعون احسنه

“Orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya…”

Kemudian dalam sebuah riwayat dari Abdullah ibn Mas’ud Rasululllah saw bersabda:

ما رأه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“Sesuatu yang dipandang baik oleh umat Islam, maka disisi Allah itu juga baik” (H. R. Ahmad ibn Hanbal)

Menurut istilah istihsan adalah : “Meninggalkan qiyas dan mengamalkan yang lebih kuat dari itu, karena adanya dalil yang menghendakinya serta lebih sesuai dengan kemaslahatan umat manusia.”[24]

Dalam kalangan Syafi’iyah tidak ditemukan defini istihsan, karena sejak semula mereka tidak menerima istihsan sebagai dalil dalam menetapkan hukm syara’. Dalam masalah Imam Syafi’i mengatakan,

من إستحسن فقد شرع

“Barang siapa yang menggunakan istihsan, sesungguhnya ia telah membuat syara’”.

Menurut ulama Hanafiyah, Malikiyah dan sebagian ulama Hanabilah, istihsan merupakan dalil yang kuat dalam menetapkan hukum syara’. Alasan yang mereka kemukakan adalah:

  1. Ayat-ayat yang mengacu kepada mengangkatkan kesulitan dan kesempitan dari umat manusia,yaitu firman Allah dalamsurat al-Baqarah, 2:185:

“….Allah menghendaki klemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu..”

  1. Rasulullah saw dalam riwayat Abdullah ibn Mas’ud mengatakan:

“Sesuatu yang dipandang baik oleh umat Islam, maka ia juga dihadapan Allah adalah baik”

  1. Hasil penelitian dari berbagai ayat dan Hadits terhadap berbagai permasalahan yang terperinci menunjukkan bahwa memberlakukan hukum sesuai dengan kaidah umum dan qiyas adakalanya membawa kesulitan bagi umat manusia, sedangkan syari’at Islamditujukan untuk menghasikan dan mencapai kemaslahatan umat manusia. Oleh sebab itu, apabila seorang mujtahid dalam menetapkan hukum memandang bahwa kaidah umum atau qiyas tidak tepat diberlakukan,maka ia boleh berpaling kepada kaidah lain yang dapat memberikan hukum yang sesuai dengan kemaslahatan umat manusia.

Ulama Syafi’iyah tidak menerima istihsan, sebagai salah satu dalil dalam menetapkan hukum syara’. Adapun alasan yang diajukan adalah:

  1. Sejumlah ayat telah menuntu umat manusia untuk taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya dan melarang secara tegas mengikuti hawa nafsu. Dalam menghadapi persoalan, Allah memerintahkan mereka untuk merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah. Sebagaimama dijelaskan dalam surat al-Nisa, 4, 59:

“Hai orang-orang yang berimam, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar berimam kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

  1. Istihsan adalah upaya penetapan hukum dengan akal dan hawa nafsu saja. Jika boleh meninggalkan nash dan qiyas, lalu mengambil dalil lain, maka hal ini berarti membolehkan seseorang yang tidak bisa memahami nash atau qiyas menetapkan hukum berdasarkan istihsan, karena mereka juga memiliki akal. Akibatnya, akan bermunculan fatwa-fatwa yang didasarkan pada pendapat akal semata, sekaligus apaya pengabaian terhadap nash.
  2. Rasulullah saw mencela tindakan Usamah ibn Zaid yang telah membunuh seorang kafir yang telah mengucapkan syahadat. Sikap ini diambil Usamah, karena orang tersebut mau mengucapkan syahadat tatkala ia telah diancam dengan pedang untuk dibunuh. Sikap orang ini, dalam pandangan Usamah, tidak benar-benar mau berimam. Sikap itu dipandangnya sebagai usaha mempermainkan syahadat, karenanya,dengan sangkaan baik (istihsan) ia berijtihad dan membunuh orang tersebut. Akan tetapi, sikap dan keputusan Usamah ini dicela oleh Rasulullah saw.

Akan tetapi, ketetapan Syafi’i untuk tidak menjadikan istihsan sebagai landasan hukum, tidak sepenuhnya diikuti oleh pengikut madzhabnya. Bahkan Imam al-Ghazali ketika membahas istihsan menyatakan bahwa perpalingan dari kehendak qiyas kepada dalil lain tersebut, disepakati seluruh ulama ushul fiqh, namun pemalingan tersebut tidak dinamakan dengan istihsan. Artinya, secara konsep, apa yang dinamakan istihsan itu diterima al-Ghazali, tetapi penamaan konsep itu dengan istihsan tidak diterimamya, karena pemakain istilah tersebut cenderung kepada membuat-buat syara’ sendiri.[25]

Abdul Wahab Khalaf, mengatakan bahwa apabila diteliti persoalan yang menjadikan perbedaan pendapat dikalangan ulama ushul fiqh dalam menerima dan menolak istihsan sebagai salah satu dalil syara’, maka akan dapat ditemui bahwa perbedaan tersebut hanyalah merupakan perbedaan istilah. Para ulama yang menolak keberadaan istihsan sebagai salah satu dalil dalam menetapkan hukum Islam, ternyata dalam prakteknya berpendapat sama dengan ulama yang menerima kehujahan istihsan. Dalam masalah mudlarabah, berbuka puasa bagi para musafir yang sedang berpuasa dan hukum-hukum lain yang dikemukakan ulama yang menerima kehujahan istihsan juga diterima oleh para penolak kehujahan istihsan.[26]

  1. Maslahah Mursalah.

Secara etimologi, maslahah sama dengan manfaat, baik dari segi lafal maupun makna. Maslahah juga berarti manfaat atau suatu pekerjaan yang mengandung manfaat. Apabila dikatakan bahwa perdagangan itu suatu kemaslahatan dan menuntut ilmu itu suatu kemaslahatan, maka hal tersebut berarti perdagangan dan menuntut ilmu penyebab diperolehnya manfaat lahir batin.[27]

Secara terminology, terdapat beberapa definisi maslahah yang dikemukakan ulama ushul fiqh tapi pada umumnya memiliki kesamaan pengertian. Menurut imam al-Ghazali, maslahah adalah mengambil manfaat dan menolak kemudaratan dalam rangka memelihara tujuan-tujuan syara’.[28] Beliau memandang bahwa suatu kemaslahatan harus sejalan dengan tujuan syara’, sekalipun bertentangan dengan tujuan-tujuan manusia, hal ini dikarenakan kemalahatan manusia tidakselamanya didasarkan kepada kehendak syara’, tetapi sering didasarkan kepada kehendak hawa nafsu. Misalnya, dizaman jahiliyah para wanita tidak mendapatkan harta warisan yang menurut mereka hal tersebut mengandung kemaslahatan sesuai dengan adat istiadat mereka, tetapi hal ini tidak sejalan dengan kehendak syara’. Tujuan syara’ yang harus dipelihara ada lima nebtuk, yaitu: memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Apabila seseorang telah melakukan perbuatan yang pada intinya untuk memelihara kelima aspek tujuan syara’ diatas, maka dinamakan maslahah. Disamping itu, upaya untuk menolak segala bentuk kemudlaratan yang berkaitan dengan kelima aspek tujuan syara’ diatas dinamakan maslahah.

Ulama Hanafiyah mengatakan bahwa untuk menjadikan maslahaha mursalah sebagai dalil disyaratkan maslahah tersebut berpengaruh pada hukum. Yaitu, ada ayat, Hadits atau ijma yang menunjukkan bahwa sifat yang dianggap sebagai maslahat itu merupakan ‘illat (motivasi hukum) dalam penetapan suatu hukum, atau jenis sifat yang menjadi motivasi hukum tersebut dipergunakan oleh nash sebagai motivasi hukum.

Missal jenis sifat yang dijadika motivasi dalam suatu hukum adalah, Hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah saw melarang pedagang menghambat para petani diperbatasan kota dengan maksud untuk membeli barang dagangan mereka, sebelum para petani itu memasuki pasar (H. R. al-Bukhori dan Abu Daud). Larangan ini dimaksudkan untuk menghindari “kemudaratan bagi petani” dengan terjadinya penipuan harga oleh para pedagang yang membeli barang petani tersebut dibatas kota. Sifat yang membuat larangan ini adalah adanya “kemudaratan” dan asfek kemudaratan ini berpengaruh kepada hukum jual beli seperti yang dilakukan pedagang tersebut. Jenis “kemudaratan” seperti ini juga ada dalam masalah lain, seperti masalah dinding rumah yang hampir rubuh kejalan, karena kondisi dinding tersebut bisa memeberi “mudarat” kepada orang lain. “Kemudaratan petani” dalam jual beli diatas sejenis dengan “kemudaratan dinding” yang hamper roboh tersebut. Oleh sebab itu, motivasi hukum dalam masalah dinding ini bisa dianalogikan kepada jenis motivasi hukum dalam masalah jual beli diatas, yaitu sama-sama memberi mudarat.

Alasan jumhur ulama yang menjadikan maslahah mursalah sebagai hujjah dalam menetapkan hukum, antara lain adalah:

  1. Firman Allah:

“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad),kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh manusia”. (Q. S. al-Anbiya’, 21:107).

Menurut jumhur ulama, Rasulullah itu tidak akan menjadi rahmat apabila bukan dalam rangka memenuhi kemaslahatan umat manusia. Selanjutnya, ketentuan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, seluruhnya dimaksudkan untuk mencapai kemaslahatan umat manusia didunia dan di akhirat. Oleh sebab itu, memberlakukan maslahah terhadap hukum-hukum lain yang juga mengandung kemaslahatan adalah legal.

  1. Kemaslahatan manusia akan senantiasa dipengaruhi perkembangan tempat, zaman dan lingkungan mereka sendiri. Apabila syari’at Islam terbatas pada hukum-hukum yang ada saja akan membawa kepada kesulitan.
  2. Jumhur ulama juga beralasan dengan merujuk kepada beberapa perbuatan sahabat, seperti Umar ibn al-Khaththab yang tidak memberi bagian zakat kepada para mu’alaf (orang yang baru masuk Islam), karena menurut Umar, kemaslahatan orang banyak menuntut hal itu. Abu Bakar mengumpulkan al-Qur’an atas saran Umar ibn al-Khaththab, sebagai salah satu kemaslahatan untuk melestarikan al-Qur’an dan menuliskan al-Qur’an pada satu logat bahasa di zaman Utsman demi memelihara tidak terjadinya perbedaan bacaan al-Qur’an itu sendiri.

Ulama Syafi’iyah pada dasarnya menjadikan maslaha sebagai salah satu dalil syara’. Akan tetapi, Imam Syafi’i, memasukannya kedalam qiyas. Misalnya, ia meng-qiyas-kan hukuman bagi peminum minuman keras kepada hukuman orang yang menuduh zina, yaitu dera sebanyak 80 kali, karena orang yang mabuk akan mengigau, dan dalam pengigauannyadiduga keras akan menuduh orang lain berbuat zina.

Penolakan maslahah datang dari ulama Zhahiriyah dan Syi’ah. Menurut mereka, apabila maslahah dapat diterima sebagai dall syara’, maka akan mengakibatkan hilang kesucian hukum-hukum syara’ disebabkan unsur subjektif yang akan timbul dalam menetapkan suatu kemaslahatan. Disamping itu, kemaslahatan itu sendiri terletak antara dua kemungkinan, yaitu kemungkinan didukung syara’ atau di tolak. Sesuatu yang keberadaannya masih berupa kemungkinan tidak bisa dijadikan dalil dalam menetapkan hukum.

  1. Istishab.

Secara etimologi, istishab berarti “meminta bersahabat” atau “membandingkan sesuatu dengan mendekatkannya”. Secara terminology, Imam al-Ghazali mengartikan istishab dengan: “Berpegang pada dalil akal atau syara’, bukan didasarkan karena tidak mengetahui adanya dalil, tetapi setelah dilakukan pembahasan dan penelitian cermat, diketahui tidak ada dalil yang mengubah hukum yang telah ada”.[29]

Maksudnya, apabila dalam suatu kasus telah ada hukumnya dan tidak diketahui ada dalil lain yang mengubah hukum tersebut, maka hukum yang telah ada dimasa lampau itu tetap berlaku sebagaimama adanya. Misalnya adalah masalah perkawinan. Setelah berlangsungnya akad nikah antara seorang perjaka dengan dengan seorang perawan dan setelah berangsungnya hubungan suami istri, suami mengatakan bahwa istrinya sudah tidak perawan lagi. Tiduhan suamiini tidak dapat dibenarkan, kecuali ia dapat mengemukakan bukti-bukti yang kuat dan sah, karena seorang perawan pada dasarnya belum melakukan hubungan suami istri. Karenanya, jika ada tuduhan dari suaminya bahwa ia tidak perawan lagi ketika kawin, maka tuduhan itu harus dibuktikan.

Para ulama ushul fiqh berbeda pendapat tentang kehujahan istishab ketika tidak ada dalil syara’ yang menjelaskan suatu kasus yang dihadapi, yaitu:[30]

Pertama, menurut mayoritas mutakalimin (ahli kalam), istishab tidak bisa dijadikan dalil, karena hukum yang ditetapkan pada masa lampau menghendaki adanya dalil. Demikian juga untuk menetapkan hukum yang sama pada masa sekarang dan masa yang akan dating, harus pula berdasarkan dalil. Mereka menganggap, mendasarkan hukum pada istishab, merupakan penetapan hukum tanpa dalil, karena sekalipun hukum tetalh ditetapkan pada masa lampau dengan suatu dalil, namun untuk memberlakukan hukum tersebut pada masa yang akan dating diperlukan dalil lagi. Istishab,menurut mereka bukan dianggap sebagai dalil. Karena menetapkan hukum yang ada dimasa lampau berlangsung terus untuk masa yang akan datang, berarti menetapkan hukum tanpa dalil. Hal ini tidak dibenarkan syara’.

Kedua, menurut mayoritas ulama Hanafiyah, khususnya mutaakhirin (generasi belakangan), istishab bisa menjadi hujjah untuk menetapkan hukum yang telah ada sebelumnya dan menganggap hukum itu tetap berlaku pada masa yang akan datang, tetapi tidak bisa menetapkan huku yang akan ada.

Alasan mereka, seorang mujtahid dalam meneliti hukum suatu masalah yang sudah ada,mempunyai gambaran bahwa hukumnya sudah ada atau sudah dibatalkan. Akan tetapi ia tidak mengetahui atau tidak menemukan dalil yang menyatakan bahwa hukum itu telah dibatalkan. Dalam kaitan ini, mujtahid tersebut harus berpegang pada hukum yang telah ada, karena ia tidak mengetahui adanya dalil yang membatalkan hukum itu. Namun demikian, penetapan ini hanya berlaku pada kasus yang sudah ada hukumnya dan tidak berlaku bagi kasus yang akan ditetapkan hukumnya. Artinya, istishab hanya bisa dijadikan hujjah untuk mempertahankan hukum yang sudah ada, selama tidak ada dalil yang membatalkan hukum itu, tetapi, tidak berlaku untuk menetapkan hak yang baru muncul. Inilah yang dimaksudkan ulama Hanafiyah dengan “istishab hujjah li al-daf’i la li al-itsbat” (istishabmenjadi hujjah dalam mempertahankan hak, bukan untuk menetapkan hak).

Ketiga, ulama Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah, Zhahiriyah dan Syi’ah berpendapat bahwa istishab bisa menjadi hujjah secara mutlak untuk menetapkan hukum yang sudah ada, selama belum ada dalil yang mengubahnya.

Alasan mereka adalah, sesuatu yang telah ditetapkan pada masa lalu, selama tidak ada dalil yang mengubahnya, baik secara qath’i (pasti) maupun zhanni (relatif), maka semestiya hukum yang telah ditetapkan itu berlaku terus, karena diduga keras belum ada perubahannya. Menurut mereka, suatu dugaan keras (zhan) bisa dijadikan landasan hukum. Apabila tidak demikian, bisa membawa akibat kepada tidak berlakunya seluruh hukum yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Bila dikatakan istishab tidak bisa menetapkan hukum, maka ada kemungkinan terjadi naskh (pembatalan) syari’at tersebut. Hal ini akan mengakibatkan munculnya pandangan bahwa tidak bisa dipastikan belakunya syari’at di zaman Rasul bagi generasi sesudahnya. Oleh sebab itu, alasan yang menunjukkan berlakunyasyari’at di zaman Rasul sampai hari kiamat adalah menduga keras berlakunya syari’at itu sampai sekarang, tanpa adanya dalil yang me-nasakh-kannya. Hal ini, menurut mereka disebut istishab.

Disamping itu, mereka juga beralasan dengan ijma’, karena banyak hukum-hukum juz’i (rinci) yang telah disepakati para ulama fiqh yang didasarkan kepada kaidah istishab. Misalnya, menetapkan wudhu tidak batal karena adanya keraguan terhadap ketentuan wudhu itu; menetapkan halalnya berhubungan antara suami istri yang telah melakukan akad nikah sampai mereka telah terbukti cerai; menetapkan tetapnya hak milik seseorang menjadi miliknya, selama tidak terbukti terjadinya pemindahtanganan hak milik tersebut. Hukum ini smeuanya,menurut mereka hukum ijma yang didasarkan pada istishab.

Adapun macam-macam kaidah istishab yang disepakati adalah:

  1. Al-ashlu baqaa u ma kaana ala maa kaana, hattaa yutsbita maa yudhayiruh

الأصل بقاء ما كان على ما كان حتىيثبت ما يغيره

Maksudnya, pada dasarnya seluruh hukum yang sudah ada dianggap berlaku terus sampai ditemukan dalil yang menunjukkan hukum itu tidak berlaku lagi. Contohnya adalah kasus orang yang hilang.

  1. Al-ashlu fi al-asyya al-ibaahah

الأصل فى الأشياء الإباحة

Maksudnya, pada dasarnya dalam hal-hal yang sifatnya bermanfaat bagi manusia hukumnya adalah boleh dimamfaatkan. Melalui kaidah ini, maka seluruh akad dianggap sah, selama tidak ada dalil yang menunjukkan hukumnya batal; sebagaimama juga pada sesuatu yang tidak ada dalil haramnya,maka sesuatu tersebut hukumnya boleh.

  1. Al-yaqiin la yuzaalu bi al-syakk

اليقين لا يزال بالشّك

Maksudnya,suatu keyakinan tidak bisa dibatalkan oleh sesuatu yang diragukan.melalui kaidah ini, maka seseorang yang telah berwudhu, apabila merasa ragu akan wudhunya itu apakah telah batal atau belum, maka ia berpegang pada keyakinannya bahwa ia telah berwudhu dan wudhu itu tetap sah. Akan tetapi, ulama Malikiyah melakukan pengecualian dalam masalah shalat. Menurut mereka apabila keraguan tersebut berkaitan dengan shalat, maka kaidah ini tidak berlaku. Oleh sebab itu, menurut mereka, apabila seseorang ragu dalam masalah wudhunya, maka ia wajib berwudhu kembali.

  1. Al-ashlu fi al-dzimmah al-baraa’ah min al-takaalif wa al-huquuq

الأصل فى الذمة البراءة من التكالييف و الحقوق

Maksudnya, pada dasarnya seseorang tidak dibebani tanggung jawab sebelum ada dalil yang menetapkan tanggung jawab seseorang. Oleh sebab itu, seorang tergugat dalam kasus apapun tidak bisa dinyatakan bersalah sebelum adanya pembuktian yang kuat dan meyakinkan bahwa ia bersalah.

  1. Hukum ‘Urf.

Secara etimologi, ‘urf berarti “yang baik”. Secara terminology, ‘urf berarti kebiasaan mayoritas kaum, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Dalam menentukan hukum, seorang mujtahid seharusnya meneliti kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat setempat, sehingga hukum yang ditetapkan tidak bertentangan atau menghilangkan kemaslahatan yang meyangkut masyarakat tersebut. Seluruh ulama madzhab, menerima dan menjadikan ‘urf sebagai dalil syara’ dalammenetapkan hukum, apabila tidak ada nash yang menjelaskan hukum suatu masalah yang dihadapi. Misalnya, seseorang yang menggunakan jasa pemandian umum dengan harga tertentu, padahal lamanya ia dalam kamar mandi dan berapajumlah air yang terpakai tidak jelas. Sesuai dengan ketentuan umum syari’at Islam dalam suatu akad, kedua hal ini harus jelas. Akan tetapi, perbuatan seperti ini telah berlaku luas ditengah-tengah masyarakat, sehingga seluruh ulama madzhab mengganggap sah hal ini.[31]

Kaidah-kaidah yang berkaitan dengan ‘urf diantaranya:

  1. Al-‘adat muhakamah

العادة محكمة

“adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum”

  1. La yunkaru taghayuru al-ahkaam bi thagoyur al-azminati wa al-amkinati

لا ينكر تغير الأحكام بتغير الأزمنة و الأمكنة

“Tidak diingkari perubahan hukum disebabkan perubahan zaman dan tempat”

  1. Al-ma’ruuf ‘urfan ka al-masyruuthi syarthan

المعروف عرفا كالمشروط شرطا

“Yang baik itu menjadi ‘urf, sebagaimama yang disaratkan itu menjadi sarat”

  1. Al-tsaabit bi al-‘urf ka al-tsaabit bi al-nash

الثّابت بالعرف كالثابت بالنّصّ

“Yang ditetapkan melalui ‘urf sama dengan yang ditetapkan melalui nash (ayat dan atau Hadits)”

Para ulama ushul fiqh sepakat bahwa hukum-hukum yang didasarkan kepada ‘urf bisa berubah sesuai dengan perubahan masyarakat pada zaman tertentu dan tempat tertentu.

  1. Syar’u man qablana.

Berarti syari’at sebelum Islam. Para ahli ushul fiqh membahas persoalan syari’at sebelum Islam dalam kaitannya dengan syari’at Islam, apakah hukum-hukum yang ada bagi umat sebelum Islam menjadi hukum juga bagi umat Islam.

Para ulama ushul fiqh sepakat menyatakan bahwa seluruh syari’at yang diturnkan Allah sebelum Islam melalui para Rasul-Nya telah dibatalkan secara umumoleh syari’at Islam. Merekajuga sepakat mengatakan bahwa pembatalan syari’at-syari’at sebelum Islam itu tidak secara menyeluruh dan rinci, karena masih banyak hukum-hukum syari’at sebelum Islam yang masih berlaku dalam syari’at Islam,seperti berimam kepada Allah, hukuman bagi orang yang melakukan zina,qishash dan hukuman bagi tindak pidana pencurian.

Jumhur ulama sepakat menyatakan bahwa apabila hukum-hukum syari’at sebelum Islam itu disampaikan kepada Rasul melalui wahyu, yaitu al-Qur’an, bukan melalui kitab agama mereka yang telah berubah, dengan syarat tidak ada nash yang menolak hukum-hukum itu. Alasan mereka adalah:[32]

  1. Firman Allah:

“Merekaitulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka…” (Q. S. al-An’am, 6: 90).

Firman Allah:

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim yang hanif…” (Q. S. al-Nahl, 16: 123)

Kedua ayat ini, menurut jumhur ulama, merupakan alasan yang amat jelas menunjukkan bahwa umat Islam terikat terhadap syari’at sebelum Islam yang disampaikan kepada Rasul saw melalui wahyu (al-Qur’an)

  1. Sabda Rasul:

“Siapa yang tertidur dan lupa untuk shalat, maka kerjakanlah shalat itu ketika ia ingat/bangun, kemudian Rasulullah membacakan ayat: Kerjakanlah shalat itu untuk mengingatk-Ku” (H. R. al-Bukhori, Muslim, al-Tirmidzi, al-Nasa’i dan Abu Daud).

Menurut jumhur ulama, ayat yang dibacakan Rasulullah dalam sabda beliau itu merupakan ayat yang ditujukan kepada Nabi Musa.

Ulama Asy’ariyah, Mu’tazilah, Syi’ah, sebagian ulama Syafi’iyah dan salah satu pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan bahwa syari’at sebelum Islam tidak menjadi syari’at sebelum Rasul saw dan umatnya. Alasan mereka adalah:

  1. ketika Rasulullah saw mengutus Mu’az ibn Jabal menjadi qadi ke Yaman,Rasulullah bertanya kepadanya:

كيف تقضي ؟ أجابه بالكتاب والسّنّة وإن لم أجد في السنة أجتهد, فأقرّه عليها (رواه البخاري و المسلم)

“Bagaimama engkau menetapkan hukum? Mu’az menjawab: Dengan Kitabullah, jika tidak ada dalam Kitabullah, dengan sunnah Rasulullah, dan apabila dalam sunnah Rasulullah saw juga tidak ada, maka saya akan berijtihad. Rasulullah memuji sikap Mu’az ini”.

Hadits diatas menjelaskan bahwa Rasulu tidak menganjurkan kepada Mu’az untuk merujuk kepada syari’at sebelum Islam. Apbila syari’at sebelum Islam menjadi syari’at bagi umat Islam,paling tidak Rasul akan menganjurkan untk merujuknya apabila hukum yang ia cari tidak ditemukan dalam al-Qur’an maupun Hadits.

  1. Firman Allah:

لكلّ جعلنا منكم شرعة و منهاجا

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang…” (al-Maidah, 5: 48)

Maksudnya setiap umat mempunyai syari’at sendiri dan suatu umat tidak dituntut untuk mengambil syari’at umat lain.

Ayat dan Hadits diatas menyimpulkan bahwa hukum-hukum syari’at Islam sebelum Islam tidak bisa dijadikan dalil dalam menetapkan hukum Islam. Jika terdapat nash yang menunjukkan akan hukum tersebut maka secara otomatis hukum-hukum itu wajib dilaksanakan oleh umat Islam. Apabila syari’at sebelum Islam itu dinyatakan dengan dalil khusus bahwa hukum-hukum itu khusus bagi mereka, maka tidakwajib bagi umat Islam untuk mengikutinya. Tetapi, apabila hukum-hukum itu bersifat umum maka hukumnya juga berlaku umum bagi seluruh umat, seperti hukum qishash dan puasa dalam al-Qur’an.

  1. Madzhab Shahabi.

Madzhab shahabi berarti “pendapat para sahabat Rasulullah saw”. Yang dimaksud dengan “pendapat sahabat” tentang suatu kasus yang dinukil para ulama, baik berupa fatwa maupun ketetapan hukum, sementara ayat atat Hadits tidak menjelaskan hukum terhadap kasus yang dihadapi sahabat tersebut.

Para ulama ushul fiqh sepakat menyatakan bahwa pendapat sahabat yang dikemukakan berdasarkan hasil ijtihad tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum syara’, baik pendapat itu berupa fatwa maupun ketetapan hukum. Sebaliknya, mereka sepakat bahwa pendapat para sahabat yang terkait dengan permasalahan yang tidak bisa dinalar logika atau ijtihad, dapat diterima sebagai hujjah. Kemudian, para ulama ushul fiqh juga  sepakat bahwa ijma sahabat secara jelas, atau ijma sahahabt yang tidak diketahui ada yang mengingkarinya,dapat dijadikan hujjah, seperti kakek berhak menerima pembagian warisan seperenam harta yang ditinggalkan si mayat (pewaris).

Persoalan yang menimbulkan perbedaan pendapat dikalangan para ulama adalah pendapat para sahabat yang berdasarkan ijtihad semata-mata, apakah menjadi hujjah bagi generasi sesudahnya?

Ulama Hanafiyah, Imam Malik, qaul qodim (pendapat lama) Imam Syafi’i dan pendapat terkuat dari Imam Ahmad, menyatakan bahwa pendapat sahabat itu menjadi hujjah dan apabila pendapat para sahabat bertentangan dengan qiyas (analogi) maka pendapat sahabat didahulukan.

Alasan mereka adalah firman Allah:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia,menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar…”

Menurut mereka, ayat ini ditujukan kepada para sahabat. Kemudian dalam ayat lain Allah berfirman:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka…” (Q. S.al-Taubah, 9: 100)

Dalam ayat ini, Allah secara jelas memuji para sahabat, karena merekalah yang pertama sekali masuk Islam. Pujian ini juga diberikan kepada generasi sesudah mereka yang mengikuti langkah-langkah para sahabat.

Alasan lain adalah Hadits Rasululullah saw:

اقتدوا بالّذين من بعدي …. (رواه ابو داود)

“Hendaklah kamu berpegang dengan sunnahku dan sunnah khalifah yang empat sesudah saya..” (H. R. Abu daud dan Ahmad ibn Hanbal).

Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad ibn Hanbal sabda Rasul itu jelas menunjukkan bahwa umat Islam diwajibkan untukmengikuti Sunnah para sahabat. Keduanya juga menyatakan bahwa adalah sangat mungkin apa yang dilakukan dan dikatakan para sahabat itu datangnya dari Rasulullah saw, bahkan tidak sedikit pendapat dari mereka yang didasarkan kepada petunjuk Rasulullah saw. Disamping itu, para sahabat tidak akan mengeluarkan pendapatnya kecuali dalam hal-hal yang amat penting. Hal ini menunjukkan sikap kehati-hatian mereka dalam menjawab persoalan hukum. Apabila orang awam dibolehkan mengikuti pendapat para mujtahid, tentu sangat boleh mengikuti pendapat para sahabat. Hal ini karena Rasulullah saw mengatakan bahwa generasi sahabat adalah generasi terbaik.

Sebagian ulama Syafi’iyyah, Mu’tazilah dan Syi’ah mengatakan bahwa pendaat sahabat itu tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum, karena ijtihad mereka sama dengan ijtihad ulama lainnya yang tidak wajib diikuti oleh mujtahid lain.[33]

Alasan yang mereka kemukakan adalah firman Allah:

“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan” (Q. S. al-Hasyr, 59: 2).

Dalam ayat ini Allah memerintahkan orang-orang yang memiliki pengetahuan untuk melakukan i’tibar (mengambil pelajaran). Karenanya, seseorang dilarang bertaqlid (mengikuti pendapat orang lain tanpa dalil). Untuk menentukan hukum sesuatu diperlukan dalil. Perbuatan taklid dilarang Allah karena menentukan hukum tidak berdasarkan dalil. Begitu juga dengan anjuran agar setiap orang mengikuti apa yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits memperkuat dalil bahwa seseorang dilarang bertaqlid kepada orang lain.

Selanjutnya, ulama Syafi’iyah mengatakan, dalam penelusuran terhadap pendapat para sahabat, ditemukan bahwa sebagian pendapat mereka didasarkan kepada ijtihad, dan terjadinya kesalahan dalam ijtihad itu bukanlah suatu yang mustahil, karena tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan salah dalam melakukan ijtihad. Adakalanya para sahabat berbeda pendapat dalam menetapkan hukum pada suatu kasus, seperti kasus pembagian warisan kakek dengan saudara laki-laki, sehingga sulit untuk diikuti pendapat mana yang benar. Melalui induksi, para ahli ushul fiqh menetapkan bahwa tidakwajib bagi seorang mujtahid untuk mengikuti hasil ijtihad orang lain. Karenanya, mengikuti pendapat para sahabatpun menjadi tidak wajib.

  1. Dzari’ah.

Secara etimologi, dzari’ah berarti “jalan menuju kepada sesuatu.” Ada juga yang mengkhususkan dzari’ah dengan “sesuatu yang akan membawa kepada yang dilarang dan mengandung kemudaratan.”

Dzari’ah dibagi menjadi dua yaitu: yang dilarang, disebut dengan sadd al-dzari’ah dan yang dituntut untuk dilaksanakan disebut fath al-dzari’ah.

Imam al-Syathibi mendefinisikan dzari’ah dengan : “Melakukan suatu pekerjaan yang semula mengandung kemaslahatan untuk menuju kepada suau kemafsadatan”[34]

Maksudnya, seseorang melakukan suatu pekerjaan yang pada dasarnya dibolehkan karena mengandung suatu kemaslahatan, tetapi tujuan yang akan ia capai berakhir pada suatu kemafsadatan.

Contohnya, pada dasarnya jual beli itu adalah halal, karena jual beli merupakan salah satu sarana tolong menolong untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Seseorang membeli sebuah kendaraan seharga tigapuluh juta rupiah secara kredit adalah sah karena pihak penjual memberi keringanan kepada pembeli untuk tidak segera melunasinya. Akan tetapi, bila kendaraan itu-yang dibeli dengan kredit sebesar tiga puluh juta rupiah-dijual kembali kepada penjual (pemberi kredit) dengan harga tunai sebesar lima belas juta rupiah, maka tujuan ini akan membawa kepada suatu kemafsadatan, karena seakan-akan barang yang diperjual belikan tidak ada dan pedagang kendaraan itu tinggal menunggu untung saja. Maksudnya, pembeli pada saat membeli kendaraan mendapatkan uang sebesar limabelas juta rupiah, tetapi ia tetap harus melunasi hutang uangnya sebesar tigapuluh juta rupiah.jual beli seperti ini dalam fiqh disebut dengan bay’u al-ajaal. Gambaran jual beli seperti ini, menurut al-Syathibi, tidak lebih dari pelipatgandaan hutang tanpa sebab. Karenanya, perbuatan seperti ini dilarang.[35]

Imam al-Syathibi mengemukakan tiga syarat yang harus dipenuhi, sehingga suatu perbuatan itu dilarang, yaitu:

  1. perbuatan yang boleh dilakukan itu membawa kepada kemafsadatan
  2. kemafsadatan lebih kuat dari kemaslahatan pekerjaan, dan
  3. dalam melakukan perbuatan yang dibolehkan unsur kemafsadatannya lebih banyak.

Terdapat perbedaan ulama terhadap keberadaan sadd al-dzari’ah sebagai dalil dalam menetapkan hukum syara’. Ulama Malikiyah dan ulama Hanabilah menyatakan bahwa sadd al-dzari’ah dapat diterima sebagai salah satu dalil dalam menetapkan hukum syara’.

Alasan mereka adalah firman Allah dalam surat al-an’aam, 6: 108:

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka akan memaki Allah dengan tanpa batas tanpa pengetahuan…”

Ayat diatas melarang untuk memaki sesembahan kaum musyrikin, karena kaum musyrik itupun akan memaki Allah dengan makian yang sama bahkan lebih.

Dalam kasus lain Rasulullah saw  melarang memberipembagian harta warisan kepada anak yang membunuh ayahnya (H. R. al-Bukhori dan Muslim), untukmenghambat terjadinya pembunuhan orang tua oleh anak-anak yang ingin segera mendapatkan harta warisan.

Terdapat dua sisi dalam memandang dzari’ah yang dikemukakan para ulama ushul fiqh, yaitu:

  1. dari sisi motivasi yang mendorong seseorang melakukan suatu pekerjaan, baik bertujuan untuk yang halal maupun yang haram. Seperti seseorang yang menikahi wanita yang telah dicerai suaminya sebanyak tiga kali, dengan tujuan agar wanita tersebut boleh dikawini kembali olah suaminya yang pertama. Nikah seperti ini dinamakan nikah tahlil. Pada dasarnya nikah dianjurkan Islam, tetapi motivasinya mengandung tujuan yang tidak sejalan dengan tujuan Islam, maka nikah seperti ini dilarang.
  2. dari sisi akibat suatu perbuatan seseorang yang membawa dampak negative. Misalnya, seorang Muslim yang mencaci sesembahan kaum musyrik. Niatnya mungkin untuk menunjukkan kebenaran aqidahnya yang menyenbah Allah. Tetapi, akibat caciannya ini bisa membawa danpak yang lebih buruk, yaitu cacian yang serupa atau lebih dari mereka terhadap Allah. Karenanya, melakukan cacian ini dilarang.

Fath al-dzari’ah adalah suatu perbuatan yang dapat membawa kepada sesuatu yang dianjurkan, bahkan diwajibkan syara’. Misalnya, shalat jum’at itu hukumnya wajib, maka berusaha untuk sampai ke masjid dengan meninggalkan segala aktivitas lain juga diwajibkan.

V. Hikmah Ikhtilaf dan Implikasinya dalam  Masyarakat

Perbedaan pendapat dalam kajian hukum Islam merupakan hal yang biasa terjadi. Adapun orang-orang yang kurang memahami arti fiqh akan mengartikan kitab fiqh sebagai pendapat pribadi yang kemudian ditransfer kedalam agama. Hal ini merupakan pemahaman yang keliru karena fiqh merupakan kajian hukum yang memanifestasikan hukum dari sumber pokoknya yaitu al-Qur’an dan al-Hadits.

Fiqh, sebagai hasil ijtihad ulama tidak lepas dari sumbernya. Hal ini otomatis akan mengandung karagaman hasil isjtihad itu. Namun demikian, nampak pada jati diri para ulama madzhab adanya sikap sportif dan toleran apabila dihadapkan kepada fenomena terebut, serta sikap konsisten kepada prinsip firman Allah saw:

فان تنازعتم في شيء فردوه الى الله والرسول

“Jika kamu berlainan pendapat kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” (Q. S. al-Nisaa: 59)

Ikhtilaf yang mengikuti ketentuan-ketentuan akan memberikan manfaat, jika didasarkan pada beberapa hal berikut ini:[36]

a. Niatnya jujur dan menyadari akan tanggung jawab bersama. Ini bisa dijadikan salah satu dalil dari sekian banyak model dalil.

b. Ikhtilaf itu digunakan untuk mengasah otak dan untuk memperluas cakrawala berpikir.

c. Memberikan kesempatan berbicara kepada lawan bicara atau pihak lain yang berbeda pendapat dan bermu’amalah dengan manusia lainnya yang menyangkut kehidupan disekitarnya.

Ikhtilaf akan bermanfaat bagi kehidupan ini manakala ia dipahami sebagai sesuatu yang seharusnya terjadi. Perbedaan ini hendaknya didasari akan kesadaran bahwa setiap pendapat pasti mempunyai dasar yang dipakai. Akan tetapi jika sikap saling menghargai sudah tidak ada maka akan timbul perpecahan.

Ketidak tahuan akan adanya perbedaan dalam istinbath hukum akan membawa seseorang kepada fanatik madzhab yang berlebihan. Fanatik madzhab ini akibat adanya beberapa landasan yang tidak benar, yaitu:[37]

Pertama, bahwa taqlid adalah wajib terutama taqlid kepada madzhab atau Imam yang empat.

Padahal telah diketahui dengan pasti bahwa tidak ada kewajiban kecuali apa yang telah diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sedang Allah dan Rasul-Nya tidak mewajibkan kita untuk mengikuti orang-orang tertentu sekalipun memiliki ilmu yang sangat luas.

Kedua, Mereka tidak membolehkan orang yang telah mengikuti satu madzhab untuk keluar darinya, sekalipun dalam masalah-masalah yang telah nyata kelemahan dalil madzhabnya. Sampai-sampai ia dikatakan sebagai orang yang plin-plan. Ini jelas berarti tindakan mewajibkan sesuatu yang tidak pernah diwajibkan oleh Allah swt.

Tindakan ini juga berarti menempatkan para Imam madzhab sebagai pembuat syari’at atau menganggap pendapat-pendapat mereka sebagai dalil syar’i yang tidak boleh dibantah. Hal ini jelas bertentangan dengan petunjuk para Imam itu sendiri. Selain itu bertentangan pula dengan prektek para salaf (pendahulu umat ini), para sahabat dan generasi sesudahnnya.

Imam Abu Syamah berkata:” Bagi orang yang menekuni fiqh tidak boleh membatasi diri dengan madzhab seorang Imam. Disamping harus meyakini, dalam setiap masalah, kebenaran setiap pendapat yang paling mendekati dilalah (penunjukan) Al-Qur’an dan Al-Sunnah yang muhkamah. Ini dengan mudah dapat diketahui oleh setiap orang yang menguasai ilmu-ilmu klasik. Hendaklah ia menjauhi sikap fanatik dan cara-cara perselisihan para ulama mutaakhirin, karena akan mengakibatkan kesia-siaan dan mengeruhkan kejernihannya”.[38]

Dalam menghadapi segala perubahan dalam berbagai sendi kehidupan ini, upaya re-interpretasi terhadap kajian hukum Islam mutlak diperlukan. Upaya pemahaman kembali terhadap sumber pokok ajaran Islam dengan melihat realita perubahan yang ada, dengan sendirinya akan membawa kepada pemahaman terhadap Islam secara utuh.

Sesungguhnya syarat yang utama dalam upaya memperbaiki penerapan syari’ah dalam kehidupan sekarang ini adalah membuka pintu ijtihad dengan segera bagi yang sanggup melaksanakannya, kembali kepada apa-apa yang telah dilakukan ulama salaf dan terbebas dari ikatan madzhab.[39]

Lebih lanjut Qardlawy mengatakan” bahwa yang sangat dibutuhkan dalam kajian fiqh pada saat ini adalah kembali kepada ijtihad dan tidak mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Adapun ijtihad yang diperlukan pada sat ini adalah ijtihad intiqa’I dan ijtihad insyai”.[40]

Jika para ahli fiqh melakukan nasihat tersebut akan terlihat mengapa para ulama yang meneliti masalah fiqh tidak segan-segan meninggalkan madzhab mereka dan menguatkan madzhab ulama lainnya apabila ternyata dalilnya lebih kuat. Contoh yang paling menonjol dalam hal ini adalah sikap para murid Imam Abu Hanifah- Abu Yusuf, Muhammad dan Zufar-yang dalam banyak masalah tidak sependapat dengan Imamnya.

Sebagaimama diterangkan diatas, bahwa masalah madzhab akan tetap menjadi masalah dikalangan umat. Karenanya dalam memahami setiap perbedaan dalam pendapat madzhab hendaknya mengetahui akar persoalannya.

Kurangnya pengetahuan dalam memahami istinbath al-ahkam al-syar’iyyah akan menimbulkan perpecahan dikalangan umat Islam. Hal ini selain merupakan sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya juga akan berbahaya bagi perkembangan agama Islam itu sendiri.

Setelah perang dunia pertama, meratalah kesadaran dan kebangunan dikalangan dikalangan umat Islam Indonesia. Tetapi sayang hal ini diiringi oleh cakar-cakaran antara partai-partai politik yang ada disaat itu. Tidak kecuali partai-partai politik yang berdasarkan Islam dan memperjuangkan agama Islam di Indonesia. Namun pertentangan dan perselisihan itu tidak sampai kepada hal-hal yang bersifat pokok dari agama (ushuluddin) seperti: Rukun Islam, Rukun Imam dan tidak mengenai hal-hal yang besar seperti Khilafah dan imamah sebagaimam yang terjadi di negara-negara Islam yang lain.[41]

VI. Penutup

Dalam menetapkan hukum Islam para mujtahid telah menetapkan kaidah-kaidah tersendiri. Kaidah-kaidah yang telah ditetapkan para mujtahid itupun berbeda-beda. Berangkat dari perbedaan itu maka hukum yang ditetapkan menjadi berbeda. Dari sinilah awal mula timbulnya madzhab.

Madzhab yang dibangun oleh para pendirinya diikuti oleh para pengikutnya. Setelah melalui beberapa fase para pengikutnya mulai mengalami kekurangan dalam kemampuan mereka terhadap ilmu-ilmu syari’ah, maka timbullah kejumudan dalam beribadah.Hal ini yang membuat budaya taqlid semakin berkembang. Fanatik madzhab yang berlebihan tak jarang menimbulkan kesan yang tidak baik khususnya dikalangan masyarakat Islam.

Setelah melalui masa yang cukup lama para pemikir Islam mulai menyadari akan pentingnya melakukan ijtihad kembali khususnya dalam menghadapi perubahan zaman yang demikian cepat. Peran reformer Islam amat besar jasanya dalam memberantas taqlid buta dan pemurnian kembali ajaran Islam.

Adapun perselisihan yang terjadi di Indonesia hanya mengenai hal-hal yang sederhana sekali’ yitu hanya mengenai soal-soal furu’ saja dalam ilmu fiqh yang amat terbatas, karena tidak keluar dari perkataan madzhab yang ada di sini. Perselisihan itupun terjadi pada kalangan yang terbatas pula yaitu dikalanngan ulama yang mempunyai keterbatasan dalam memahami hukum Islam. Karena tidak berkesempatan dalam membaca kitab fiqh yang lain mereka memberikan fatwa dan diikuti secara pasrah oleh para pengikutnya.

Daftar Pustaka

Al-‘Ayyid,  Ahmad et. al, Al-Mu’jam al-Asasy al-‘Araby, Beirut: Al-Rous, tth

Abi Abdullah bin abdul Rahman, Tarjamah al-Umah fi Ikhtilaf al-Aimah, Beirut: Dar al-Fikr,1996, Cet. Ke-1

Al-Dzahaby, Muhammad Hasan, Al-Syari’ah al-Islamiyah, Kairo: Matba’ah Dar-al-Taklif, 1968, Cet. Ke-2,

Al-Fabai, Al-Jailani ibn Hajj Yahya, Al-Qamus al-Jadid, Beirut: Al-Ahliyah li al-Nasyr wa al-Tauji, 1997

Hasan M. Ali, Perbandingan Madzhab, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995, Cet. Ke-1

Al-Qardlawy, Prof, Dr., Yusuf Al-Shahwah al-Islammiyah baina al-Ikhtilaf al-Masyru’ wa al-Tafarruq al-Madzmum, Kairo: Bank al-Taqwa, 1997

Al-Qardlawy, Yusuf, Prof, Dr., Madkhal li al-Dirasah al-Islamiyah, Kairo: Maktabah Wahbah,1997, Cet. Ke-3

Al-Qardlawy, Yusuf,  Prof, Dr. Qadlaya Islamiyah Mu’asyirah, Amman: Dar al-Dliya, 1987, Cet. Ke-1

Ash Shiddieqy, T. M. Hasby, Prof, Dr., Pengantar Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1989

Thanthawy, Mohammad Sayyid, Prof, Dr., Al-Ijtihad fi al-Ahkam al-Syar’iyah, Kairo: Dar al-Nahdlah al-Misriyyah,1997,Juz 1

Yanggo, Huzaimah Tahido, Prof, Dr., Pengantar Perbandingan Madzhab, Jakarta: Logos, 1997, Cet. Ke-1

Abu Zahra, Imam, Tarikh al-Madzahib al-Islamy, Beirut: Dar al-Fikr, 1989, Juz. 1

Al-Zuhaily, Wahbah, Prof, Dr., Fiqh al-Islam wa Adilatuhu, Beirut: Dar al-Fikr, 1989, Cet. Ke-3,


[1] Huzaimah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Madzhab, Jakarta: Logos,1997, cet. ke-1, h. 69

[2] Al-Jailani ibn Hajj Yahya al-Fabai, Al-Qamus al-Jadid, Beirut: Al-Ahliyah li al-Nasyr wa al-Tauji, 1997, h. 48

[3] Ahmad al-‘Ayyid et. al, Al-Mu’jam al-Asasy al-‘Araby, Beirut: Al-Rous, t. th, h. 488

[4] Huzaimah, op. cit

[5] T. M. Hasby Ash Shiddieqy, Pengantar Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1989, h. 58

[6] Huzaimah, op. cit.,h. 72

[7] Huzaimah, op. cit.,h. 76-82

[8] Huzaimah, op. cit., h. 81-82

[9] Imam Abu Zahra, Tarikh al-Madzahib al-Islamy, Beirut: Dar al-Fikr, 1989, Juz. 1., h.291

[10] Abi Abdullah bin Abdul Rahman, Tarjamah al-Umah fi Ikhtilaf al-Aimah, Beirut: Dar al-Fikr,1996, cet. ke-1, h. 1

[11] Huzaimah, op. cit., h. 73

[12] Muhammad Hasan al-Dzahaby, Al-Syari’ah al-Islamiyah, Kairo: Matba’ah Dar-al-Taklif, 1968, cet. ke-2, h. 10

[13] Wahbah al-Zuhaily, Fiqh al-Islam wa Adilatuhu, Beirut: Dar al-Fikr, 1989, cet. ke-3, h.67-73

[14] Q. S. Al-Nisa: 43

[15] Sayyid Thanthawi, Al-Ijtihad fi al-Ahkam al-Syar’iyyah, Dar al-Nahdlah,1997.Juz 1, 99

[16] Thanthawi, op.cit., h.100

[17] Thanthawi, op.cit., h.101

[18] Saif al-Din al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, j. 1,h. 101

[19] Wahbah al-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Beirut: Dar al-Fikr, Jilid I, 1986, h. 491-497

[20] Nasrun Harun, Ushul Fiqh 1, Jakarta: Logos, 1996, h. 60

[21] Zafrullah Salim, Hukum dan Syari’at Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 1992, cet.ke-2, h. 317

[22] Wahbah al-Zuhaili, op. cit., h. 601

[23] Ali al-zafzaf, Muhadlorot fi Ushul Fiqh, Mesir: Dar al-Fikr al- Arabi, 1970, h. 8

[24] Al-Sarakhsi, Ushul al-Sarakhsi, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1993, jilid II,h. 200.

[25] Abu Hamid al-Ghazali,al-Mankhul min Ta’liqat al-Ushul, Beirut: Dar al-Fikr, 1980, h. 274-277

[26]Abdul Wahab Khalaf, ‘Ilm Ushul al-Fiqh, Kuwait: Dar al-Qalam, 1978, h. 83

[27] Husein Hamid Hasan, Nazhariyah al-Mashlahah fi al-Fiqh al-Islami,Kairo: Dar al-Nahdlah al-‘Arabiyah, 1971, h. 3-4

[28] Abu Hamid al-Ghazali, al-Mustashfa fi ‘Ilm al-Ushul, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Jilid I, h. 286

[29] Abu Hamid al-Ghazali, op. cit., Jilid I, h. 128

[30]Wahbah Zuhaili, op. cit., Jilid III, h. 867

[31] Abu Ishaq al-Syathibi, al-Muwafaqaat fi Ushul al-Syari’ah, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1975. Jilid II, h. 179-188

[32] Nasrun Harun, op. cit., h.149-155

[33] Muhammad ibn Ali al-Syaukani, Irsyad al-Fuhuul,Beirut: Dar al-Fikr, t.t., h. 213

[34] Abu Ishaq al-Syathibi, op. cit., Jilid IV,h. 198

[35] Ibid

[36] Huzaimah, op. cit.,h.  64

[37] Yusuf al-Qardlawy, Al-Shahwah al-Islammiyah baina al-Ikhtilaf al-Masyru’ wa al-Tafarruq al-Madzmum, (Kairo: Bank al-Taqwa, 1997), h. 201-203

[38] Seperti yang dikutip dari Qardlawy Ibid.,

[39] Yusuf al-Qardlawy, Madkhal li al-Dirasah al-Islamiyah, (Kairo: Maktabah Wahbah,1997), Cet. Ke-3, h. 273

[40] Yusuf al-Qardlawy, Qadlaya Islamiyah Mu’asyirah, (Amman: Dar al-Dliya, 1987), Cet. Ke-1, h.193

[41] M. Ali. Hasan, Perbandingan Madzhab, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995), Cet. Ke-1, h.110

20
Jan
10

Informasi Awal Desa Canden

INFORMASI AWAL

Berikut gambaran umum Desa Canden, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali.

  1. 1. DATA STATIS
    1. Lokasi Desa

Desa Canden termasuk dalam wilayah Kecamatan Sambi Kabupaten Boyolali yang mempunyai luas wilayah 325,7830 Ha. Secara geografis desa ini mempunyai batas-batas sebagai berikut :

-         Sebelah Utara     : Desa Tempursari

-         Sebelah Selatan   : Desa Denggungan

-         Sebelah Barat      : Desa Jatisari

-         Sebelah Timur     : Desa Ngargorejo

b.  Kelembagaan desa atau kelurahan

-         Desa                                           :   1 Buah

-         Lingkungan/dusun                        :   4 Buah

-         Rukun Warga                              :   6 Buah

-         Rukun Tetangga              : 37 Buah

-         Badan Perwakilan Desa (BPD)    :   1 Buah

c.  Topografi Desa

Desa Canden mempunyai topografi daerah berbukit yang ditandai dengan adanya jalan yang naik dan turun.

d.  Prasarana pemerintahan desa/kelurahan

-         Balai desa/kelurahan        : 1 Buah

-         Kantor desa/kelurahan     : 1 Buah

-         Tanah kas desa   :

  • Tanah sawah             : 191, 1354 ha
  • Tanah kering : 134, 6476 ha

e.  Pemerintah desa/kelurahan

-         Status kepemilikan           : Milik pemerintah

-         Kondisi bangunan            : Sedang

-         Jumlah pegawai   : 11 Pegawai dan 1 Penjaga

  1. Sarana jalan dan jembatan

-         Jalan Provinsi                      : 3,5 Km

-         Jalan Kab/Kota                   : 1,5 Km

-         Kelas jalan II                       : 2    Km

-         Kelas jalan III                    : 2    Km

-         Kelas jalan IV                    : 7    Km

-         Kondisi jembatan baik       : 4 buah

-         Kondisi jembatan sedang   : 1 buah

-         Kondisi jembatan rusak     : 1 Buah

g.  Jumlah perusahaan/usaha

-         Industri kecil                        : 2     Buah

-         Industri tenaga kerja            : 109 Orang

h.  Sarana sosial budaya

1)      Pendidikan :

-     Taman Kanak-kanak (TK)       :   3 Buah

-     Jumlah murid                            : 80 Orang

-     Jumlah guru                              :   8 Orang

-     Prasarana fisik              :   3 Lokal

2)      Pendidikan sekolah dasar negeri :

-     Jumlah sekolah                         :   3 Buah

-     Jumlah Murid                            : 329 Orang

-     Jumlah guru                              :   28 orang

-     Prasarana fisik              :   18 Lokal

3)      Pendidikan Madrasah       :     1 Buah

-     Jumlah siswa                 : 130 orang

-     Jumlah guru                  :     7 orang

-     Prasarana Fisik             :     6 lokal

-     Perpustakaan                :   ada

4)      Tempat ibadah     :

-     Masjid              : 10 Buah

-     Musholla/Surau             : 17 Buah

5)      Banyaknya rumah penduduk :

-     Rumah terbuat dari batu/gedung permanen : 691 Buah

-     Rumah terbuat dari kayu/sebagian batu/semi permanen : 121 Buah

-     Rumah terbuat dari kayu/papan : 562 Buah

-     Rumah terbuat dari bambu/lainnya : – Buah

-     Rumah panggung : – Buah

-     Rumah menurut tipenya :

  • Tipe A     : 691 Buah
  • Tipe B      : 121 Buah
  • Tipe C     : 562 Buah
  1. Orbitrasi (jarak desa Canden ke pusat administrasi)

Jarak Desa Canden kepusat administrasi yaitu sebagai berikut :

-         Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan : + 7 km

-         Jarak dari pusat desa kabupaten              : + 17 km

-         Jarak ibu kota propinsi                                        : + 100 km

-         Jarak dari ibu kota negara                                    : + 500 km

  1. 2. DATA DINAMIS
    1. Pemerintah Desa

-         Jumlah pegawai kantor desa/kelurahan Pegawai golongan IV : 9 pegawai

-         Sarana kerja kantor desa/kelurahan

-          Radio/tape                    : 1   Buah

-          Meja kerja                    : 11 Buah

-          Kursi kerja                   : 11 Buah

-          Meja kursi tamu            : 1   Set

-          Lemari              : 1 Buah

-          Ruang rapat                  : 1 Buah

-     Ruang data                   : 1 Buah

-          Kendaraan dinas           : 1 Buah

  1. Kependudukan

-         Jumlah kepala keluarga    :   1.389 KK

-         Penduduk menurut jenis kelamin

  1. Penduduk laki-laki                : 2.536 orang
  2. Penduduk perempuan            : 2.511 orang

-         Penduduk menurut kewarga negaraan

  1. WNI laki-laki                        : 2.536 orang
  2. WNI perempuan                   : 2.511 orang

-         Penduduk menurut agama

  1. Islam                                     : 5.044 orang
  2. Katholik                                :        3 orang

-         Penduduk menurut usia

0   – 6    tahun                             :   540 orang

7   – 12  tahun                             :   581 orang

13 – 18  tahun                             :   587 orang

19 – 24  tahun                             :   558 orang

25 – 55  tahun                             :   816 orang

56 – 79  tahun                             : 1.833 orang

>      80 tahun                             :   182 orang +

Jumlah                                        : 5.047 orang

-         Angka nikah                                :  60  kejadian

-         Mutasi Penduduk

Pindah                                      :    -

Datang                                     :    -

Lahir                                        :  32 orang

Mati                                         :  32 orang

  1. Penduduk menurut mata pencaharian :

1)      Petani

-      Petani pemilik tanah   : 239 Orang

-      Petani penggarap tanah          : 321 Orang

-      Buruh tani                              :   87 Orang

2)      Pedagang                                    :   29 Orang

3)      Pengangkutan                            :    27 Orang

4)      Buruh Bangunan                       :    84 Orang

5)      Buruh Industri                           : 519 Orang

6)      ABRI                                          :     8 Orang

7)      Pensiunan ABRI/PNS                 :   21 Orang

8)      Peternak  :

-      Sapi biasa                  :   96    orang      153 ekor

-      Ayam                        :     1    orang   1.000 ekor

-      Kambing                   :   87    orang        167 ekor

-      Itik                            :     2    orang       275 ekor

-      Peternak lainnya        :   14    orang 32.000 ekor

  1. Jumlah KK Miskin desa / kelurahan   : 421 KK

-         Jumlah penerimaan BLT              : 421 orang

-         Jumlah penerimaan Raskin                       : 421 orang

-         Jumlah penerimaan ASKESKIN : 612 orang

  1. Penderita cacat :

-         Fisik                                                       : 17 orang

-         Mental                                                    : 12 orang

Data diatas kami ambil dari data kelurahan yang setiap 6 bulan sekali dilaporkan ke Kecamatan maupun Kabupaten yang terangkum dalam data Monografi Desa Canden Tahun 2008, Semester II.

  1. 3. ANALISA DATA SEKUNDER

Dari data yang kami ambil dari Monografi desa tersebut, kiranya diperlukan analisis dan cross-check di lapangan secara langsung agar lebih mudah untuk dipahami. Berikut ini hasil analisa kami terhadap data monografi desa Canden :

  1. Kondisi geografis desa Canden adalah daerah dataran rendah sedikit perbukitan. Hal ini ditandai dengan kondisi tanah yang naik-turun dan tidak rata. Sebagian besar wilayahnya adalah tanah sawah dan ladang, serta sebagian kecil perkebunan. Wilayah desa terbelah oleh jalan besar/jalan kabupaten sepanjang 2 km.
  2. Kondisi jalan yang menghubungkan antar dukuh belum beraspal. Jalan dibangun hanya dengan dicor semen sebagian yaitu bahu kanan dan bahu kiri. Lebar jalan hanya muat 1 mobil, jadi kalau ada mobil yang berlawanan harus bergantian berjalan. Jika musim penghujan ditumbuhi lumut sehingga licin.
  3. Kondisi rumah penduduk yang terbuat dari batu/permanen prosentasenya sangat kecil ± 50,2 %, yang semi permanen ± 8,8 %, yang terbuat dari kayu dan bambu ± 40,9 %. Jarak antar rumah ke rumah yang lain relatif renggang dan sebagian dibatasi tanah pekarangan yang ditanami palawija, sehingga suasana pedesaan sangat terasa sekali.
  4. Kekuatan ekonomi desa Canden, sebagian besar penduduknya adalah petani, yaitu petani pemilik tanah, petani penggarap dan buruh tani. Petani yang paling banyak adalah petani penggarap tanah. Selain sebagai petani, biasanya di rumah nyambi beternak. Warga yang menjadi pegawai, yaitu PNS, ABRI dan pensiunan relatif kecil.
  5. Lembaga pendidikan formal desa Canden yang ada hanya tingkat TK dan SD. Sekolah TK-nya yang dikelola oleh desa bernama TK Pertiwi yang mempunyai siswa sejumlah 55 anak dengan 2 Guru yang dikelola oleh Rodhotul Atfal (RA) dengan murid sebanyak 25 anak.
  6. Dari data monografi desa, anak seusia TK (4-6 tahun) berjumlah 90 anak. Jadi ada 10 anak yang tidak sekolah TK. Muncul pertanyaan, kemana sisanya? Dari informasi yang didapat dari warga, sebagian anak seusia itu memang hanya tinggal di rumah dan belum disekolahkan, sebagian disekolahkan di luar daerah (misalnya TK-IT plus yang ada di Sambi). Sedangkan lembaga pendidikan tingkat SD ada 3, yaitu SD 1, 2 dan 3 Canden serta MI Ma’arif Canden. Siswa SD berjumlah 329 anak dengan 28 guru. Siswa MI berjumlah 130 anak dengan 7 guru. Jadi jumlah seluruh siswa SD dan MI sebanyak 459 anak. Dari data monografi desa, jumlah anak usia SD (7-12 tahun) sebanyak 581 anak. Jadi, ada 122 anak yang bersekolah di desa Canden, sebagian yang lain bersekolah di luar Desa Canden.
  7. Dilihat dari segi keagamaan, masyarakat Canden adalah homogen. Secara garis besar, prosentase umat Islam ada 99.9% baik itu pemeluk agama Islam murni, ada yang abangan maupun yang masih menganut kepercayaan, sebagian yang lain 0.01% pemeluk agama Kristen.

  1. A. KAJIAN KEADAAN SECARA PARTISIPATIF

Dalam proses pelaksanaan KKT untuk mengetahui sejauhmana kondisi sebenarnya wilayah Desa Canden, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali. digunakan beberapa teknik PRA sebagai berikut :

  1. 1. PETA (Mapping)
Topik : Kondisi Sosial dan Keagamaan Ds. Canden
Teknik PRA yang dipergunakan : PETA (Mapping)
Nama Pemandu (fasilitator) :
Nama Peserta Diskusi : Pak Jamburi (kadus 3), Bu Kisrowiyah ,
Pak H Amir Anshori (carik)
Tanggal & Tempat Pelaksanaan :

Mapping atau pemetaan adalah menggambarkan kondisi wilayah (desa, dusun atau wilayah yang lebih luas) bersama masyarakat. Mapping ini kami lakukan pada minggu pertama di desa Canden. Awalnya kami masih bingung dan tidak tahu arah, dari mana kami memulai proses ini. Selama tiga hari pertama, kegiatan mahasiswa KKT adalah bersosialisasi dengan warga desa. Hari sabtu, tanggal . . . . . . . . 2009, berkoordinasi dengan perangkat desa. Disana kami berdiskusi membicarakan problem-problem masyarakat yang perlu diprioritaskan dan ini menjadi gambaran bagi kami dalam melangkah ataupun menyusun rencana kegiatan. Perangkat desa yang terlibat dalam diskusi ini diantaranya; Pak H Amir Anshori (Carik), Pak Jamburi (Kadus) dan bu Kisrowiyah.

Di Balai Desa dan rumah pak H Amir Anshori tersebut, kami berusaha memanfaatkan potensi yang ada, diantaranya; Monografi Desa terbaru dan Peta Desa. Dengan monografi dan peta ini, kami mengetahui sejak awal gambaran kondisi wilayah desa Canden secara umum. Hal-hal yang kurang jelas kami tanyakan pada bayan atau kadus. Dari koordinasi tersebut, pak kadus menyatakan siap membantu dengan senang hati. Mereka menjelaskan mengenai letak masjid, musholla, sawah, pekarangan, rumah penduduk, rumah guru ngaji, sekolah, sumber air, bendungan dan lain-lain. Disitu kami juga minta penjelasan deskripsi tentang kehidupan agama, budaya, mata pencaharian dan adat istiadat masyarakat yang ada disana.

Diskusi terus berkembang, pembicaraan menyinggung mengenai kelembagaan dan organisasi yang menjadi wadah kegiatan warga, seperti; TPA, Yasinan, Karang taruna, Kelompok Tani, Posyandu dan PKK. Hal inilah yang menjadi informasi awal. Mereka juga menyarankan kepada kami untuk mengcross-check ulang dengan warga, agar mendapatkan data yang lebih valid.

Dari warga yang lain menambahkan, meskipun kesadaran warga akan pendidikan tinggi, namun setelah dicermati, orientasi pendidikannya diarahkan ke pendidikan umum, sangat minim yang diarahkan ke pendidikan agama. Analisis ke depan kami mengkhawatirkan kondisi mentalitas keagamaan generasi muda semakin menurun. Inilah yang menjadi keprihatinan kami.

Dari hasil pemetaan kami memperoleh informasi awal diantaranya sebagai berikut :

  1. Masyarakat Desa Canden adalah masyarakat yang heterogen.
  2. Ada sebagian penduduk yang pekerjaannya sebagai buruh tani.
  3. Sebagian besar penduduknya adalah petani.
  4. Banyak pemuda yang merantau
  5. Kegiatan dakwah yang rutin adalah yasinan pengajian lapanan.
  6. Kegiatan sampingan warga adalah ternak
  7. Organisasi remaja sedesa Canden kurang aktif

Dari hasil pemetaan, ditemukan beberapa masalah, yaitu :

  1. Banyak pemuda yang merantau keluar daerah yang berakibat tenaga kerja berkurang.
  2. TPA belum berjalan baik, bahkan sebagian besar mati, karena kekurangan atau bahkan tidak ada ustadz/ustadzahnya.
  3. Mayarakat khusunya di Dusun II banyak yang sibuk bekerja, sebagian buruh petani.

Dari hasil pemetaan melihat potensi-potensi yang ada di wilayah tersebut, yaitu :

  1. Semangat pada etos kerja yang tinggi, terbukti bahwa sudah mempunyai pekerjaan, tetapi tetap berusaha mencari pekerjaan sampingan yaitu ternak.
  2. Sikap toleransi antar masyarakat dan antar umat beragama relatif tinggi.

  1. 2. Wawancara Semi Terstruktur / Semi Structured Interviewing (SSI)
Topik : Kondisi Sosial dan Keagamaan Desa Canden
Teknik PRA yang dipergunakan : Wawancara Semi Terstruktur
Nama Pemandu (fasilitator) :
Nama Peserta Diskusi : Warga dan Takmir Masjid
Tanggal & Tempat Pelaksanaan : Balai Desa dan rumah warga. 04 Mei 2009

Teknik ini adalah wawancara yang menggunakan panduan pertanyaan sistematis yang hanya merupakan panduan terbuka dan masih mungkin untuk berkembang selama interview dilakukan. Sesuai dengan latar belakang kami, yaitu jurusan Tarbiyah maka topik pembicaraan dan pertanyaan seputar pendidikan keagamaan, TPA, Yasinan, Jama’ah Masjid atau tema tentang keagamaan. Tehnik SSI kami gunakan pada minggu ke dua.

Dengan panduan PETA dan hasil pemetaan, kami membagi tugas pada mahasiswa KKT untuk mencari informasi dan data-data ke Dukuh-dukuh dan kunjungan ke lembaga pendidikan yang masuk wilayah kerja

Salah satu kunjungan yang dilakukan mahasiswa adalah sebagai berikut : mengadakan kunjungan ke takmir masjid / pengurus TPA setempat ke 4 dukuh dengan misi yang dibawa adalah mengetahui kondisi keagamaan di wilayah tersebut.

NO Rukun Tetangga PERSONIL INFORMAN INFORMASI
1 RT 1 dan 2 Rokhmad

Rini

Bambang

- Bp. Sastro     Paimin

- Bp. Amir Ansori

- TPA mati selama beberapa periode dan minta diadakan kembali  dengan difasilitasi mahasiswa.

- Kurang kesadaran orang tua

- TPA setiap hari

2 RT 3 dan 4 Anis

Marsudiyono

Khusnul

Nurul

- Bp. Adnan W

- Bp. Hardiman

- Di  RT 3 TPA bergabung ke RT 2 (Winong), TPA setiap hari

- Di RT 4 TPA bergabung ke RT 5 ( Malang Rejo).

- Kepengurusan kurang aktif

3 RT 5 dan 6 Zubaidi

Daryono

Eny

Bp. Ma’ruf

Bp. Sagi Wiyoto

Bp Solikhin

Wanurjati

- Di RT 5 TPA di Masjid Mujahiddin

- Di RT 6 TPA di Masjid Al-Manan

4 RT 7 dan 8 Jaswadi

Yayan

Marwiyah

- Bibit wibowo

- Jumadi

- TPA sudah berjalan tetapi kurang aktif karena banyak ustad merantau

- TPA pada hari Senin, Rabu, Sabtu

- Kurang sarana prasarana

5. RT 9 dan 10 Daryana

Aminah

Rokhimatus

- Pawiro Saimin

- Harso Winarno

- TPA di Masjid Al-Manan Poncol

- Management TPA kurang berjalan

Ket : Nurul membantu kelompok 2 dan Maryanah membantu kelompok 4

Panduan Wawancara Semi Terstruktur :

  1. Bagaimana kondisi TPA di daerah sana?
  2. Siapa saja yang berpengaruh terhadap pelaksanaan dan pengembangan TPA?
  3. Kita perlu bantuan untuk mengkoordinir anak-anak TPA?
  4. Kita buat kesepakatan (waktu dan tempat)?

Informasi dari kunjungan ke dukuh-dukuh dan lembaga pendidikan, pada hari-hari berikutnya kami triangulasi lagi atau dicross-check lagi dengan mencari sumber informasi yang lain. Sesuai dengan buku panduan KKT wawancara dapat kami kelompokkan ke dalam 4 jenis :

  1. Wawancara individual
  2. Wawancara informan kunci
  3. Wawancara kelompok
  4. Wawancara terfokus / Focused Group Discussion (FGD)

Dalam teknik ini tentunya kami membutuhkan waktu yang lama dan pada hari-hari yang berbeda sambil melaksanakan kegiatan. Misalnya pada saat kegiatan TPA dan Yasinan.

  1. 3. TRANSECTOR (Penelusuran Desa)
Topik : Kondisi Sosial Keagamaan
Teknik PRA yang dipergunakan :
  1. TRANSECTOR
Nama Pemandu (fasilitator) :
Nama Peserta Diskusi : Takmir Masjid, Tokoh Masyarakat dan Warga
Tanggal & Tempat Pelaksanaan : Rumah Warga, 06 Mei 2009

Transektor merupakan pengamatan langsung lingkungan desa, mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati dengan teknik transek diharapkan memperoleh gambaran keadaan sumber daya alam masyarakat beserta masalah-masalah perubahan keadaan, dan potensi yang ada.

Untuk teknik pra transec, kami membutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra, kegiatan kami intensifkan pada minggu I. Pada minggu ke 1 kami memfokuskan pada topik Sumber Daya Alam, dengan menelusuri ke setiap dukuh dengan informasi awal dari hasil mapping. Agar kegiatan transec efektif kami membagi tugas menjadi V kelompok, tiap kelompok men-transek dua RT.  Hasil transek tiap dukuh kami catat dalam tabel transek.

Pada awalnya kami mencatat keadaan-keadaan alam sesuai dengan apa yang kami lihat. Kemudian kami cross-check dengan warga yang ada didukuh tersebut. Hasil transek kami diskusikan sehingga ada pembenahan, tambahan dan pembetulan dari warga.

Pada minggu ke dua akhir kami mendiskusikan dan menganalisa semua informasi yang kami dapat. Hasil transek dengan topik sumber daya alam, kami hubungkan dengan data-data yang didapat dari teman-teman yang sesuai dengan mapping dan wawancara semi terstruktur. Hasil kesimpulan sementara kami, bahwa hasil transek kurang sesuai dengan tema dan topik yang kita perlukan, kemudian kami mengulang transek dengan topik kehidupan keagamaan. Tim KKT kembali mengunjungi dukuh-dukuh dan warga untuk mencari informasi. Hasil transek kami tulis secara global dengan tema kehidupan keagamaan dalam matrik transek.

Dari semua rangkaian transek yang kami lakukan terdapat beberapa pengklasifikasian yang masih akan menjadi bahan analisa dan prioritas untuk dikembangkan, sehingga KKT nantinya dapat memberi kontribusi positif dalam penerapannya. Adapun hasil transektor sebagai berikut :


Topik TPA Karang taruna Perantau Ekonomi Pengajian yasinan
Masalah -    TPA kurang aktif

-    Kurang tenaga pengajar

-    Belum punya metode mengajar

-    Kurang berkembang

-    Tidak ada kegiatan rutin

-    Banyak pemuda yang merantau

-    Potensi desa tidak termanfaatkan

-    Kurang merata tingkat ekonomi

-    Belum adanya pekerjaan mandiri

-    Adanya fatwa baru, bid’ahnya Yasinan

-    MetodeYasinan yang monoton

-    Keluarga yang belum pernah ada yang meninggal belum berani mengundang yasinan.

Tindakan yang pernah dilaksanakan -    Pemberian/penyediaan alat tulis

-    Regenerasi pengajar

-    Mencari ustadz dari luar daerah.

-    Koordinasi rutin

-    Kegiatan pemuda/I rutin dan terjadwal

-    Mengerjakan lahan pertanian

-    Membuat lapangan pekerjaan

-    Bantuan raskin dari pemerintah

-    Bantuan modal dari pemerintah

-    Bantuan PNPM Mandiri

-    Pemahaman dasar pengajian Yasinan

-    Fariasi metode pelaksanaan pengajian yasinan

-    Variasi Ustadz

Harapan -    Adanya pengajar yang memiliki kemampuan yang baik

-    Adanya pengelolaan/management TPA

-    Karang taruna berkembang & bermanfaat

-    Terdapat kegiatan rutin yang didukung bersama warga

-    Adanya lapangan pekerjaan sesuai kemampuan warga

-    Penyelenggaraan diklat ketrampilan

-    Program raskin yang tepat guna

-    Peningkatan kualitas dalam pertanian

-    Tersedianya pupuk, air, obat

-    Warga mengetahui dasar/dalil-dalil Al-Qur’an

-    Ada Ustadz yang mumpuni

Potensi -    Sarana dan prasarana tersedia

-    Dukungan masyarakat yang besar

-    Motifasi anak-anak

-    Legalitas kelembagaan

-    Kesadaran pemuda dalam berorganisasi

-    Himpunan dana dari warga rantau -    Kepemilikan tanah warga luas

-    Semangat dan kemampuan warga untuk sukses

-    Motivasi/semangat warga yang tinggi
Manfaat -    Wadah anak-anak belajar dasar-dasar agama -    Tempat latihan berorganisasi -    Mengurangi pengangguran dan sumber deviza desa -    Sumber kesejahteraan masyarakat -    Wadah pengembangan dakwah Islam


  1. 4. Time Line
Topik : Perkembangan Keagamaan
Teknik PRA yang dipergunakan : Time Line (Alur Sejarah)
Nama Pemandu (fasilitator) : Tim dari Kelompok VI KKT
Nama Peserta Diskusi : Bp. Sagi wiyoto, Bp. Amir Anshori,
Bp. Pawiro Saimin
Tanggal & Tempat Pelaksanaan : Rumah H. Amir Anshori, 08 Mei 2009

Tanggal 08 Mei 2009 pada malam hari kami mahasiswa KKT berkumpul dan berdiskusi dirumah Bp. H Amir Anshori membicarakan teknik PRA Time Line, sumber informasi kami yaitu Bp. Sagi Wiyoto dan Pawiro Saimin. Time Line yang kami tulis mengenai kejadian-kejadian penting pembangunan desa Canden, terutama infrastruktur pertanian. Hasil diskusi Time Line adalah sebagai berikut :

No Nama Kepala Desa Kejadian Penting Tahun
1. Bp. Sri Mulyadi
  • Membangun Jembatan Trinen selatan dukuh kembang
  • Pengaspalan poros desa
  • Sertifikat tanah OO
  • Membangun gorong-gorong

Pondol Manafi’ul ulum

1990 – 2000
2. Bp. Widodo
  • Membangun Gedung Olah raga/Gor
  • Membangun jalan cor sembung – gajah wangon 1000 m
  • Penyemiran jalan poros desa
2000 – 2008
3. Bp. H Joko Mulyono
  • Pengecoran jalan gajah wangon- Ladri 700 m.
  • Pengecoran jalan tegalsari 500 m
  • Pengecoran jalan malang rejo 100 m
  • Rehap balai desa biaya 57 juta
2008 – 20013

Tanggal 8 Mei 2009 pada malam hari kami mengadakan evaluasi untuk membicarakan hubungan antara beberapa teknik PRA dengan teknik PRA yang lain. Dari hasil diskusi dan analisa disimpulkan bahwa pembuatan Time Line tidak sesuai dengan tema yang akan kita angkat. Tanggal 9 Mei 2009, kami menggali data ulang dari teman-teman dan mencari informasi Time Line lewat Field note yang ditulis dan menyesuaikannya dengan tema keagamaan. Maka hasilnya adalah sebagai berikut :

No Tokoh Agama Kejadian Penting Tahun
1 - H Ahmad Ihman/poncol

- H Alwi / sukowoyo

- H Juwahir/Malang rejo

- H Ilyas Malang rejo

- H Husain /Kiringan

- H A Dimyati/Kembang

- M Sirojan/Sukowoyo

- Abu Sairi/Kiringan

- M Ngalimun/Malang rejo

- A Muntholib/Kiringan

- H Ma’ruf/Gajah wangon

- H Bajuri/Kiringan

Berdirinya Masjid kiringan 1942
Berdirinya Masjid Pncol 1945
Berdirinya Masjid Suka Waya 1945
Berdirinya Masjid Malang Rejo 1952
Berdirinya Masjid Gajah Wangon 1974
Berdirinya Masjid Sembung 1975
Berdirinya Masjid Gunung Terbang 1986
Berdirinya Masjid Winong 1994
Berdirinya Masjid Canden 1998
Berdirinya TPA-TPA Metode Iqro’ 1986
Pondok Manafi’ul Ulum 2000
-
2 Bp. Widodo H Bajuri (Tokoh Agama) wafat 2005
3 Bp. H Joko Mulyono

-         H. Amir Anshori

-         Sagi wiyoto

-         H Amin Halimi

-         PHBI

-         MUI Desa

2009

Dari data informasi Time Line ada informasi penting antara lain :

  1. Tokoh ulama yang sangat berpengaruh, sehingga pengaruh agama Islam di dukuh Malang rejo tersebut sangat kuat sampai sekarang. Bahkan warga menyebut dengan istilah “Rohnya” dusun II.
  2. Kegiatan keagamaan di RT X bisa dikatakan nihil.
  3. Ada kebiasaan wiwit bagi petani yang mulai pekerjaan di sawah baik menanam padi atau memetik hasilnya.

  1. 5. Kalender Musim
Topik : Aktifitas Sosial, Ekonomi dan Keagamaan
Teknik PRA yang dipergunakan :
  1. KALENDER MUSIM
Nama Pemandu (fasilitator) :
Nama Peserta Diskusi : Warga Dusun II dan H Amir Anshori
Tanggal & Tempat Pelaksanaan : Rumah warga, 10 Mei 2009

Kalender musim adalah suatu teknik PRA yang digunakan untuk mengetahui kegiatan utama masyarakat, masalah dan kesempatan dalam siklus tahunan yang dituangkan dalam bentuk diagram. Kalender musim merupakan informasi penting sebagai dasar pengembangan rencana program. Hasil pembuatan kalender musim sebagai berikut :

Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr
Panen
Tanam
PKK
Yasinan
TPA
Pengaji

-an

Karang Taruna
Curah Hujan
Tenaga Kerja

Catatan Proses Pembuatan Kalender Musim

Diskusi kalender musim dilaksanakan di rumah bapak H Amir Anshori. Tim KKT menyediakan bagan yang kosong, Bp. H Amir Anshori dan Ibu memberikan informasi data yang kami perlukan.  Data dari Bapak H Amir Anshori dan istrinya kami cross check-kan dengan warga dengan berkunjung ke sawah.

  1. 6. Diagram Venn
Topik : Pengaruh Lembaga Sosial Keagamaan
Teknik PRA yang dipergunakan :
  1. DIAGRAM VENN
Nama Pemandu (fasilitator) : Tim dari Kelompok VI KKT
Nama Peserta Diskusi : H Amir Anshori, Sagi Wiyoto
Sastro Paimin
Tanggal & Tempat Pelaksanaan : 12 Mei 2009 di rumah warga

Diagram Venn merupakan teknik yang bermanfaat untuk melihat hubungan masyarakat dengan berbagai lembaga yang terdapat di Desa dan lingkungannya. Data-data informasi untuk pembuatan Diagram Venn diambil bersamaan saat kami melakukan diskusi pada pembuatan mapping, wawancara semi terstruktur, transektor dan kalender musim. Informasi data yang paling banyak diambil yaitu dari teknik wawancara semi terstruktur.

  • Besar kecil lingkaran menunjukkan          : Manfaat
  • Jauh dekat lingkaran menunjukkan           : Pengaruh

Lembaga masyarakat antara lain :

  1. Tokoh Masyarakat
  2. Perangkat Desa
  3. Jamaah Yasinan
  1. Karang Taruna
  2. TPA
  3. Ustadz TPA
  4. Takmir Masjid
10.  Posyandu

11.  PKK

Dalam pembuatan lingkaran-lingkaran Diagram Venn, kami menggunakan benda-benda yang bentuknya lingkaran yang besarnya seperti yang kita inginkan seperti : tutup gelas, tutup lodong, piring, mangkok, dll. Lingkaran kami cetak dan kami gunting, kami beri keterangan dan kami tempel. Proses penempatan Diagram Venn yang menggambarkan manfaat dan pengaruhnya pada masyarakat tidak sekali jadi, tetapi terjadi hingga empat kali perubahan. Hal ini terjadi karena setiap perubahan, merupakan hasil triangulasi atau setelah dicross-check dengan masyarakat.

Dari Diagram Venn dapat dianalisis bahwa lembaga yasinan sangat berpengaruh dan paling bermanfaat di masyarakat. Hubungan ustadz dan TPA juga saling mempengaruhi. Pada saat didiskusi pembuatan Diagram Venn dengan warga dusun II,

yaitu (bapak H Amir, Sagi Wiyoto). ada informasi mengenai masalah yasinan. Masalah tersebut antara lain ada fatwa baru mengenai yasinan bahwa yasinan itu bid’ah dan dosa, sehingga ada sebagian warga yang awam takut menghadiri yasinan.

  1. 7. TREND AND CHANGE (Kecenderungan dan Perubahan)
Topik : Kondisi Sosial Keagamaan Penduduk
Teknik PRA yang dipergunakan : TREND AND CHANGE
Nama Pemandu (fasilitator) : Tim dari Kelompok VI  KKT
Nama Peserta Diskusi : Remaja Masjid di dukuh Malang Rejo
Tanggal & Tempat Pelaksanaan : 14 Mei 2009, Masjid Mujahiddin

Tanggal 20 Mei 2009 pukul 18.30 WIB tim KKT yang dipimpin oleh Rohmad mengadakan pertemuan dengan remaja masjid Malang Rejo. Remaja masjid Malang Rejo yang hadir cukup banyak, dari sana kami mendapat informasi tentang kecenderungan dan perubahan penduduk khususnya TPA. Mulai tahun 1990 kegiatan TPA remaja masjid sangat aktif, tetapi kemudian kurang aktif. Dari forum diskusi di masjid Mujahiddin ini, kami Tim KKT membuat kesimpulan yang kami gambarkan dalam tabel Trend and Change, sebagai berikut :

Tahun

Tema

1990 1995 2000 2005 2009 Ket
Kepemilikan

Lahan

Dibagi pada anak
Jumlah

Penduduk

Angka kematian & kelahiran cenderung sama
Jumlah

Guru Ngaji

Tidak ada regenerasi ustadz
Jumlah

Santri

Tidak ada regenerasi santri

Informasi penting dari diatas dapat dianalisis bahwa jumlah anak usia sekolah semakin bertambah, tetapi jumlah santri menurun dan jumlah ustadz juga menurun. Kemungkinan ke depan banyak anak-anak atau generasi muda Islam yang tidak dapat membaca Al-Qur’an. Hal ini sangat disayangkan sehingga harus diantisipasi dan ditangani.

20
Jan
10

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.